Sunday, November 10, 2013

Pahlawan

Ini dalam rangka hari pahlawan, dan dalam rangka gue baru melihat beberapa hari lalu ternyata hari veteran di US.

Sebenernya sama sekali ngga mau ngebanding-bandingin US sama INDO, cuman kalo dibiarin gini terus, mau jadi apa negara ini?

Iya, negara yang para penguasa yang jg merangkap pemimpin sudah berasa berjasa untuk negeri sampai-sampai mempertontonkan jasa mereka di muka khalayak ramai agar bisa "dipercaya" lagi untuk berkuasa di negeri ini. Oh, maaf salah, memimpin lebih tepatnya. :))

Mereka mempertontonkan jasa-jasa yang mereka sudah berikan kepada negeri ini, kepada rakyatnya, kepada alamnya, kepada semua yang ada di negeri ini. Iya, seolah-olah. Mereka lupa. Lupa mengembalikan "jasa" yang sudah diberikan beberapa orang tua yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk hidupnya sendiri. Sudah bisa hidup aja sudah bagus.

Ya, merekalah para veteran. Para orang tua yang semasa mudanya memberikan hidup dan nyawa mereka demi kemerdekaan kita, bagi bangsa ini, bagi kebebasan para penguasa untuk bermain-main dengan negeri ini. 

Tapi apa yang penguasa berikan bagi mereka?

Mungkin beberapa orang berfikir "Lah emang lo udh ngapain buat para veteran?"

Seenggaknya gue aware sama mereka, itu menurut gue udh cukup untuk anak kuliahan, idup pas-pasan, masih dibiayain sama orang tua. Gue nulis ini buat menyadarkan aja kok betapa berharganya kebahagiaan para veteran di masa-masa mereka kini. Kita beruntung karena kita masih sempat melihat beberapa veteran yang masih hidup, meskipun dengan keterbatasan dan segala keadaan mereka.

Jangankan veteran perang, para veteran yang sudah membawa nama negeri ini harum di berbagai penjuru bumi pun tidak diperhatikan oleh para penguasa. Atlet, seniman, para profesor, dan banyak lagi orang dari berbagai profesi yang telah istirahat dari profesinya -- yang juga sudah mengharumkan nama Indonesia -- yang tidak diperhatikan oleh penguasa negeri yang kaya ini.

Buat temen-temen yang bakal jadi penguasa di masa yang akan datang, kalo liat blog ini, tolong balas jasa mereka dengan perlakuan yang layak. Kita tak akan sebebas ini tanpa mereka.
Ini ketika US merayakan hari veterannya. Kapan kita seperti ini?

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya." - Bung Karno.

Thursday, October 24, 2013

Gravity

Kali ini tentang ke atas, dan ke bawah.

Semua kita pasti pernah naik, pernah turun. Naik tangga, turun tangga. Apa yang kita rasakan? Pasti semua di dunia ini pasti sama perasaannya. Ketika naik, itu berat. Tapi ketika turun, semuanya ringan. Ngga ada beban. Kayak air yang mengalir turun. 

Gue rasa ngga ada orang normal di dunia ini yang merasa kalo turun itu lebih berat daripada naik tangga. Ngga ada satu pun orang normal. Yang kita omongin disini tangga, bukan elevator atau lift

Kenapa semua orang merasanya gitu? Kenapa semua orang selalu merasa hal yang sama ketika naik dan turun? Iya, karena ada suatu kekuatan di luar sana yang menyebabkan hal seperti itu. Iya, itu adalah judul dari postingan kali ini.

Gravitasi yang menyebabkan kenapa kita semua selalu berat untuk naik ke atas dan mudah untuk turun ke bawah. Gravitasi ini berasal dari dunia. Dari bumi tepatnya. Gravitasi ini adalah gaya tarik yang dilakukan oleh seuatu benda terhadap beda lain. Setiap benda mempunyai gravitasinya masing-masing yang besarnya sesuai dengan massa dari benda itu sendiri. Semakin besar massanya, semakin besar pula gravitasi yang dihasilkan olehnya.

                                                                                                      ***

Kenapa kita selalu merasa kita itu beraaaaaaatt banget untuk maju? Untuk sukses, misalkan. Kenapa orang lain tinggal duduk, dapet uang. Tinggal tidur, dapet uang. Sedang kita harus selalu kerja keras, pergi pagi, pulang malem, selalu seperti itu. Malah dengan begitu, belum tentu uang itu bisa datang ke kita. 

"Pergi pagi pulang malam itu tidak menjamin uang akan datang ke kita. Sama sekali tidak menjamin"

Ketika kita memakai cara yang kebanyakan orang menyebutnya dengan "cara halal", itu pasti akan lebih sulit daripada cara yang orang banyak jg bilang "cara haram". Kita banting tulang, banting semua yang kita punya hanya untuk mendapatkan pendapatan (uang) pribadi agar kita tidak memiliki ketergantungan akan orang lain. Tapi itu beda jika kita mendapatkan uang dengan cara yang "tidak halal" itu tadi.

Apa beda nya?

Jelas beda, antara "haram" dan "halal" sendiri sudah beda arti. Selain itu, yang membedakan antara kedua cara ini adalah perlakuannya. Haram akan selalu mendapatkan uang dengan cara yang instan. Misalkan dukun, korupsi, judi, human traffic, menjual organ dalam manusia,  dan masih banyak lagi yang ilegal untuk dilakukan. Kalau yang halal semua pasti tau. Iya, kerja kantoran, atau berusaha sendiri. Berdikari. Itu yang halal. Kalaupun kita meminta, kita hanya meminta pada Sang Pencipta, bukan pada hal-hal lain. Beda jauh kan?

Dan pasti... Pasti kita yang memakai cara halal tersebut sering iri dengan mereka yang memakai cara instan untuk mendapatkan sesuatu. Sedang kita harus bersusahpayah dulu untuk meraih apa yang ingin kita raih.

Tapi disini gue mau menekankan apa yang gue blg di atas. Sama persis. Kalau kita susah, kita itu artinya sedang berjalan menuju tempat yang lebih tinggi. Susah, berat, banyak tantangan. Apa lagi ketika kita melihat orang yang turun. Pasti kita iri dengan mereka yang kita fikir "enak banget ya turun ga ada apa-apa, mau duduk juga ntar turun sendiri, kan ada gravitasi", sedang kita bersusah-susah untuk mencapai puncak.

Tapi ya seperti yang kita tau, dengan usaha kita, kita akan sampai pasti ke puncak itu. Pasti. Dan mereka yang turun, pasti juga akan sampai ke dasar. Pasti.

Jadi, jangan ikut dengan arus dunia (ini diibaratkan dengan gravitasi) yang memberikan kita contoh untuk mendapatkan kesuksesan dengan instan.

Karena, ketika kita merasa berat, kita sedang menanjak naik, dan ketika kita merasa gampang(instan), itu berarti kita sedang turun ke dasar.

Semudah itu membedakannya.

Bersyukurlah ketika kita merasa "berat" untuk menjalani hidup ini, karena suatu saat, kita akan sampai di "atas"

Selamat malam!


Referensi dari Khotbah Dkn. Jefry Mantiri.

Thursday, October 17, 2013

Kesegaran

Apa bedanya anda berada di tengah padang pasir yang panas, dengan anda berada di tengah kutub selatan, yang hanya turun hujan selama 100an tahun sekali?

Pastinya orang lebih banyak memilih untuk tinggal di tempat yang dingin daripada di tempat panas. Mungkin karena mereka fikir di kutub, es bisa diubah menjadi air segar. Padahal, es di kutub tidak bisa dijadikan air semudah itu. Ya, itu berarti setiap orang butuh kesegaran.

Setiap orang butuh kesegaran, bagaimanapun bentuknya. Apa lagi ketika mereka sedang lelah, capek, mumet, dan segala hal lainnya yang membuat mood mereka menjadi tidak karuan. Mereka butuh sesuatu yang segar. Mungkin seperti musik untuk menyegarkan telinga, film yang mereka sukai untuk menyegarkan mata, minuman dingin untuk menyegarkan mulut, permainan untuk menyegarkan otak.

Ya, kita disini bisa sepakat bahwa setiap orang membutuhkan kesegaran ketika mereka sedang drop. Dalam hal diatas, yang drop adalah moodnya.

Begitu juga dengan masyarakat sepakbola di Indonesia ini.

Ditengah kemarau panjang, ditengah keputusasaan, ditengah "badai" yang mendera organisasi induk sepakbola, didalam ke-pesimis-an seluruh rakyat akan sepakbola negeri ini, yang kita semua butuhkan adalah kesegaran.

Ya, tidak hanya kemenangan. 2010, kita menang, tapi di partai puncak, kita kalah. 2011 kita menang, tapi lagi-lagi di partai yang sama dan lawan yang sama, kita kalah. Jadi apa artinya kemenangan kalau tidak disertai sebuah piala/gelar? Hanya ada segelas harapan disana. Iya, segelas harapan yang tak ada isinya. Hanya makin membuat dahaga para rakyat sepakbola negeri ini.

Belum lagi terdengar kabar kalau kekalahan-kekalahan di partai puncak dan yang lainnya hanya permainan para sampah masyarakat yang duduk di singgasana organisasi untuk kepentingan mereka dan oraganisasi kenegaraan mereka semata. Makin pesimis lah semua rakyat negeri ini.

Seiring perjalanan, makin lama berjalan perlahan kita melihat suatu oase. Oase besar di ujung sana, tapi kita pun tidak mau terjerumus ke "lubang" sama, oleh karena itu kita menganggap dalam hati "ah, mungkin ini hanya fatamorgana lagi, seperti yang sudah-sudah... Ya, jalanin aja lah". Tapi semakin dia berjalan semakin dekat, oase itu pun semakin lama semakin nyata.

Dan, akhirnya, sampai juga kita disebuah oase yang menyediakan mata air yang sangat segar di tengah perjalanan menyusuri padang pasir yang gersang dan panas itu. Ya, itu adalah gambaran kita, rakyat sepakbola negeri ini, setelah TimNas U-19 berhasil memenangkan kejuaraan AFF U-19 di Sidoarjo.

Belum selesai berpesta, sudah ada pesta selanjutnya menunggu ketika (lagi-lagi) TimNas U-19, lolos ke putaran final AFC U-19 Championship dengan titel juara grup setelah menumbangkan seluruh lawannya (Laos, Filipina, bahkan Korea Selatan -- Sang macan putih asia) tanpa ampun. Seluruh rakyat sepakbola negeri ini bak disiram oleh air segar yang datang dari surga. Saya pun terharu atas performa para pemain tim ini.

Mereka membabat semua lawan mereka tanpa kenal lelah. Mereka terus percaya diri, fokus, rendah hati, serta bersemangat dalam membela negeri ini, negeri yang -- Mungkin nantinya -- akan menelantarkan mereka kala mereka sudah tua.

Seperti hal nya anak kecil, apa yang mereka lakukan hanya bermain, bermain, dan bermain. Mereka melakukan apa yang mereka senangi, ya, passion mereka sendiri. Dengan lincahnya meliuk-liuk ditengah lapangan, memberikan bola kepada kawan, merebut bola dari lawan, dan menceploskan bola itu ke gawang lawan.

Ya, mereka hanya melakukan tugasnya sebagai seorang Indonesia, seorang pemain sepakbola, dan seorang "anak-anak". Bahkan, yang mereka beri keuntungan pun tidak mengakui mereka. Mereka hanya disebut sebagai amatir. Mereka sama sekali tidak dihargai. Tapi, mereka tidak melihat kekonyolan itu. Yang mereka tau, mereka harus membela bangsanya, harus memberikan yang terbaik, dan mereka harus bermain. Itu yang mereka tau.

Ini lah, anak-anak bangsa yang menjadi panutan bagi "orang tua"nya. Mereka sudah menjadi teladan sejak mereka muda. Tanggung jawab, disiplin, kerendahan hati, kesabaran, tidak egois, determinasi yang tinggi, serta karakter mereka harus dicontoh oleh setiap orang di negeri ini, terkhusus para senior mereka yang tak kunjung mendapatkan titel.

Kekuatan mereka terletak dalam karakter mereka. Karakter yang ditemukan dan dikembangan oleh sang pelatih, yaitu religius. Dengan karakter ini, semua ini bisa mereka dapatkan, bahkan lebih dan lebih jauh dari ini yang bisa mereka hasilkan.

Dengan susah payah pelatih berkeliling negeri ini untuk mencari talenta-talenta muda berbakat yang punya akhlak dan teknik yang jitu dalam bermain, dan terpilihlah 38 orang yang menjadi TimNas U-19 yang mereka menamai dirinya "Skuat Garuda Jaya".

Dikomando oleh Evan Dimas, mereka terus bermain dengan hati, bukan untuk bonus, bukan untuk nama besar, bukan untuk harga diri, melainkan untuk bangsa, rakyat, keluarga, dan untuk mereka sendiri. Mereka tau mereka membawa nama besar INDONESIA di pundak mereka dan garuda tepat dijantung mereka. Mereka tau mereka membawa nama keluarga mereka, mereka tau mereka didukung oleh rakyat yang sudah haus akan gelar dan trofi, dan mereka tau, mereka dilahirkan untuk bermain sepakbola.

Dengan tangguh, sabar, rasa "lapar" dan rendah hati, satu persatu lawan mereka habisi. Karena mereka percaya bahwa "Tak ada yang tak bisa dikalahkan di dunia ini, kecuali Tuhan". Itulah yang tancapkan oleh Indra Sjafrie, sang arsitek tim ini, dalam membangun karakter dan pola pikir tim ini.

Saya teringat tentang satu statement yang dilontarkan oleh salah satu punggawa skuat Garuda Jaya, Putu gede, "Tim ini memang religius. Walau kami punya jalan masing-masing menuju Tuhan, namun kami tetap berada dalam satu jalan yang sama untuk menerbangkan tinggi Sang Garuda".

Banyak yang bisa kita pelajari dari mereka. Jangan menutup hati anda untuk belajar sesuatu yang baik, apa lagi dari orang yang "baru lahir kemarin". Karena bisa jadi, apa yang mereka punya lebih dari apa yang ada bangga-banggakan.

Terus bermain sambil berjuang, kawan! Bawa Garuda terbang tinggi bersama kalian! Naikan Merah-Putih dimanapun kalian berada! Harumkan nama INDONESIA ke penjuru dunia!
Kami, bangsa Indonesia, bangga pada kalian!

"Ketika anda mendahulukan Tuhan, semuanya akan ditambahkan"

God Bless INDONESIA!

Wednesday, September 18, 2013

PILIHAN

Mungkin followers gue sering liat tweet gue kalo nyampah di TL kalian yang berkali-kali gue bilang..

Iya, "BAHAGIA ITU PILIHAN".

Dan sekarang gue masih bingung kenapa masih banyak orang yang lebay dengan membiarkan hidupnya diselimuti dengan ketakutan, kesedihan, kecemasan, kecemburuan/iri, kemarahan, pikiran-pikiran yang negatif lainnya.

Terlalu banyak. Sampai-sampai banyak perpecahan di negara ini. Perpecahan itu timbul karena pikiran-pikiran orang yang tidak mau menjadi bahagia.

Mungkin dengan mereka balas dendam, mereka akan bahagia pikir mereka. Ternyata itu jelas-jelas salah besar. Mungkin dengan mereka menguntit orang, mereka bakal menemukan bahagia disana. Aneh.

Masih ada aja orang yang dendam dengan orang lain, sehingga ketika melihatnya saja rasanya ingin kabur. Tidak mau melihat dia. Seakan ada batu besar yang masuk di hati ketika kita bertemu dengan dia.

Masih ada orang yang cemas apa yang akan terjadi di masa depan. Cemas akan apa yang dia hadapi besok. "Jika begini, maka akan begitu. Jika saya kesini, maka akan terjadi itu".

Masih banyak orang yang marahnya tak kunjung selesai. Kesalahan satu minggu lalu masih dibawa hingga hari ini, tidak mau berbicara dengan orang yang berbuat salah dengan kita.

Semua itu tergantung dari otak kita. Otak itu bisa mengendalikan hati, hati pun bisa mengendalikan otak. Yang memilih itu kita. Kapan hati harus mengendalikan otak, kapan hati harus mengalah terhadap otak. Itu pilihan kita.

Begitu lah, bahagia itu pilihan. Kita yang memilih mau jadi apa kita kelak. Mau jadi orang dengan potensi, semangat, sukacita, kedamaian, dan hal-hal positif lainnya atau menjadi seseorang dengan pemikiran yang buruk setiap menitnya, dihantui oleh rasa bersalah, dendam, iri hati, kesedihan dan hal-hal buruk lainnya.

Menangis, sedih, marah, kesal, dongkol, iri, kecewa, khawatir, semua itu wajar. Iya, kita manusia. Yang tidak wajar adalah ketika kita seperti itu dalam waktu yang lama. Seakan dunia ini gelap tanpa harapan sama sekali.

Tanpa itu semua, hidup akan flat, datar-datar aja. Itu lah seni kehidupan. Tapi ketika semuanya itu berlangsung lama, itu yang ngga normal.

Coba bayangkan, ketika kita memilih untuk bahagia, damai, adil, kita berdamai dengan siapapun yang menyakiti ataupun membuat kita "hancur", kita milihat hal-hal yang positif disetiap area negatif dihidup kita.

Gue mau mengutip kalimat di film "Milli dan Nathan" yang bilang ini: "Sedih dan seneng kan datengnya satu paket".

Ketika kita sedih, percaya bahwa kalo kita mau melihat itu dari perspektif yang berbeda, kita pasti bakal liat kebahagiaan disitu.

Jadi, semua jadi pilihan kita. Kita yang sekarang, menentukan jadi apa kita di masa depan.

Akhir kata, gue cuman mau bilang jangan mengandalkan kekuatan sendiri kalau masih percaya bahwa Tuhan itu ada.

Selamat Siang!

Thursday, September 12, 2013

Jangan Munafik!

Banyak orang pesimis tentang negeri ini..

Banyak orang mengkritisi pemerintah...

Banyak orang mencacimaki aparat...

Banyak orang yang hanya bisa teriak "Benahi"...

Banyak orang menuntut kemakmuran...

Terlalu banyak orang punya mimpi terhadap Indonesia...

Terlalu banyak orang yang mau hidup damai...

Terlalu banyak orang ingin Indonesia maju...

Tapi mereka semua hanya diam.. Mereka hanya mengikuti apa yang menjadi formalitas. Hanya dimulut tanpa ada tindakan nyata.. Hanya pesimis, tapi tidak ada aksi. Hanya mencaci, tapi takut untuk ikut terlibat. Punya mimpi besar, tapi tidak mau terbangun. Ingin kemajuan, tapi tidak bergerak. Hanya mengkritisi, tapi takut untuk turun tangan.

Akhir-akhir ini, banyak orang Indonesia memiliki nasionalisme tinggi akan bangsanya. Banyak orang Indonesia yang sudah "melek" akan keadaan dirinya sendiri serta negaranya. Banyak rakyat yang mau dan menuntut perubahan dimana-mana. Segera, bukan nanti, bukan janji.

Tapi banyak dari mereka yang hanya bisa duduk diam, melihat, berpikir, dan hanya berkomentar. Tidak ada yang mau untuk mengambil langkah konkret untuk mengubah apa yang harus diubah, membenahi yang berantakan.

Hanya bersuara tanpa ada aksi nyata itu munafik.

"Tapi gue bukan siapa-siapa, mana bisa gue bikin langkah besar untuk mengubah Indonesia yang besar dan memang sudah salah dari awal ini? Gue ga berduit, gue bukan anak menteri, gue bukan anak konglomerat. Bisa apa?".

Ya, mungkin tidak semua dari kita bisa memberikan tindakan nyata yang frontal dan besar... Tapi harusnya kita tidak lupa bahwa langkah besar itu merupakan gabungan dari langkah-langkah yang kecil.

Pertama, yang pasti semua itu dari diri sendiri. Ubah dulu cara berpikir(mindset) kita dengan pikiran-pikiran positif. Lalu setelahnya, jika kita gatau apa yang harus kita buat, coba tanya sama Tuhan. Gue percaya kok kita masih percaya kalo Tuhan itu ada, jadi jangan sia-siakan keberadaan Dia. Dia Mahatahu kan, dia pasti tau kita harus gimana.

Kalaupun masih belum bisa mendengar suara Tuhan, kita coba langkah yang paling kecil dan sederhana untuk memperbaiki Indonesia. Iya, doakan bangsa ini.

Gue beberapa minggu lalu sempet mikir, mungkin negara ini monoton karena masing-masing rakyat negeri ini hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Berdoa sama Tuhan minta kebutuhan dan keinginannya dipenuhi.

Gue juga ngebayangin gimana kalo seluruh rakyat Indonesia -- Semua, Islam, Budha, Kristen, Konghuchu, Hindu, Katholik -- sama-sama berdoa dengan cara mereka sendiri untuk negeri ini. Pasti dampaknya gila-gilaan.

Doanya dengan iman. Iman kalo Indonesia ini pasti akan jadi lebih baik lagi. Indonesia bakal berubah jadi negara yang maju, sejahtera, adil, PANCASILA & UUD '45 ditegakkan, ngga ada perpecahan, dan kita semua bersatu dalam keberagaman.

Gue terlalu yakin, kalo itu dilakuin sama semua rakyat negara ini, pasti dampaknya besar banget.

Dalam doa itu juga kita harus sabar. Karena jawaban doa itu ada 3, Ya, Tidak, dan Tunggu. Dan gue terlalu yakin Tuhan udah menyiapkan master plan - nya Dia untuk bangsa ini. Gue yakin, Tuhan yang kasih hikmat ke Bapak negara kita untuk membuat PANCASILA, pasti Dia juga ngga akan tinggal diam ketika PANCASILA sudah mulai luntur di negeri ini.

Mulai dari hari kalian baca ini, coba deh doakan bangsamu ini. Sama-sama kita berdoa. Agar perubahan yang sama-sama kita inginkan itu tercapai.

Dan buat yang bisa berbuat lebih dari ini, kalian lah yang dipakai Tuhan untuk mewujudkan doa-doa semua orang yang berdoa untuk bangsa ini. Pakai kemampuan dan kesempatan itu dengan baik. Dan ikut juga berdoa bersama orang-orang yang tidak bisa berbuat banyak untuk negeri ini.

Bawa bangsa ini dalam doamu setiap hari, beriman bahwa doa kita sudah dijawab, maka perubahan untuk negeri ini bukan suatu kemustahilan.

GOD BLESS INDONESIA!

Monday, September 2, 2013

Bercerita

Oke, kali ini gue mau bercerita. Mungkin indikasinya dekat dengan curhat, ya terserah kalian mau bilang apa tentang tulisan saya kali ini. Kalian yang menilai. :)

Tahun 2000, waktu itu gue umur 6 tahun. Di kala ini lagi marak-maraknya liga Italia di televisi lokal dan di seluruh dunia. Karena periode ini, liga Italia adalah liga terbaik di dunia. Hampir seluruh pemain top dunia berkumpul di liga ini untuk beradu hebat di tengah lapangan, ya, di Italia.

Kakak dan papa gue emang penggila bola dari dulu. Dan selalu nonton liga italia. Karena kalo ngga salah, dulu liga inggris hanya dapat beberapa jam di televisi lokal. Selebihnya liga Italia yang banyak. Kakak itu pendukung setia(tifosi) AS Roma. Tim yang adalah juara liga Italia di tahun itu (musim 1999/2000). Sementara papa itu penggila Jerman. Dan dulu karena mungkin masih kecil, gue cuman ikutan nonton bareng aja.

Dari umur itu, gue juga udah suka main bola. Bahkan dari TK udah main bola di lapangan komplek rumah gue dengan campuran anak kecil dan yang sudah sedikit besar. Dan muncul lah fenomena jersey sepakbola dikalangan anak-anak kecil. Mulai dari temen gue main bola, Adi namanya. Dia pertama kali beli jersey AC Milan. Ya namanya juga anak kecil, pasti sikap irinya masih tinggi.

Akhirnya gue merengek minta dibelikan baju bola sama mama. Iya, hanya minta dibelikan itu. Tentang klub, itu terserah. Karena belum terlalu mengenal liga, klub, dan dunia hiburan sepakbola. Beberapa minggu kemudian, mama mengajak gue ke Bintaro Plaza. Dan memang itu tujuannya untuk beli baju bola.

Disana ada banyaaaaakk banget jersey tim-tim elit eropa, dan memang yang paling banyak itu il sette magnifico (sebutan untuk 7 tim terkuat liga italia -- Inter, Parma, Juventus, AC Milan, AS Roma, Lazio, Fiorentina). Ada baju Juventus yang bertuliskan Zidane, Trezeguet, Nedved, Del Piero, Ada AS Roma dengan Montella, Batistuta, Totti, Nakata, Ada Lazio dengan Simeone, Inter dengan Ronaldo, Vieri, Zanetti, dan masih banyak lainnya.

Mama memang menyuruh gue untuk milih yang mana aja. Setelah liat-liat, cari-cari, dan seketika gue memegang baju berwarna biru-hitam, bertuliskan Pirelli di depannya dan di belakangnya ada Tulisan VIERI 32. Dan entah kenapa gue tertarik. Gue gatau itu klub apa. yang pasti gue tertarik aja liatnya. Entah karena warna atau VIERI di belakang baju itu, gue lupa, akhirnya gue memilih baju itu.

Dan tidak beberapa lama gue tau itu baju dari FC INTERNAZIONALE MILANO. Dan dari situ gue mulai mencari tau, menonton, dan memperhatikan pemain-pemain dari klub tersebut. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi fanatik terhadap klub tersebut. Iya, sampai sekarang.

Inter adalah klub sepak bola pertama yang gue tau. Inter adalah klub yang pertama bikin gue fanatik akan sepakbola. Inter klub pertama yang membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama..

Dari mereka tidak dapat piala apapun, mereka mulai menanjak sedikit demi sedikit, dan mendapatkan kejayaan, sampai di puncak kejayaannya (Treble winners -- Liga italia, Coppa Italy, Liga Champions), sampai terdampar kebawah di peringkat 9 klasmen Serie A, bahkan sampai kedepannya, saya akan berkomitmen untuk setia kepada klub ini untuk menjadi tifosi meskipun naik-turunnya tim ini.

L'Inter E' Tutto Per Me (Inter, Segalanya Bagiku)

Forza Inter!

Tuesday, August 27, 2013

Serakah

"Bumi ini cukup untuk kebutuhan manusia, tapi tidak untuk keserakahan manusia"
- Mahatma Gandhi

Apa yang kita tau tentang Indonesia ini belum cukup untuk mengetahui apa yang terjadi di negeri ini. Iya, itu pemikiran gue beberapa menit yang lalu. Indonesia sangat luas. Terlalu luas untuk diketahui dan dimengerti. Terlalu besar untuk dijelajahi. Terlalu mudah untuk menutupi misteri.

Mungkin semua orang tau apa yang ada di Jakarta. Banjir, Jokowi, macet, Tanah Abang, H. Lulung, MRT, dan lain sebagainya. Tapi apa yang kita tau diluar Jakarta ini? Mungkin kalau ada berita kecelakaan, pembunuhan, pencurian, dan kriminal yang lain, pasti akan ditelanjangi di media.

Mungkin kalau ada berita tentang perpecahan, bencana alam, dan lainlain juga pasti akan dibuka di media. Belakangan ini juga tidak jarang media yang mempertontonkan keindahan Indonesia yang sangat kaya ini.

Semua itu tidak salah. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan. Kenapa? Karena tugas media adalah untuk mencari berita yang disukai oleh masyarakat. Iya, 80% masyarakat Jakarta, dan selebihnya terserah media mau ambil presentase darimana.

Dan anehnya, masyarakat kita suka dengan apa yang ada di media sekarang. Padahal kalau kita liat, beritanya hanya itu itu saja... Tidak ada yang lain. Setiap hari beritanya hanya perkembangan dari berita kemarin dan kemarinnya lagi.

Apa ada berita "PT. xxxxx baru saja menebang 62.000 pohon karet di Kalimantan. Kayunya dijual dan tanahnya dijadikan lahan sawit"? Ada? Kalaupun ada, itu pasti televisi swasta milik suatu partai yang tidak ada dalam pemerintahan dan akan bersaing di pemilu selanjutnya serta tidak dibayar oleh perusahaan yang sedang diberitakan itu.

Apa ada berita "Perusahaan yyyyyy baru saja membuka 100 kilang minyak di laut jawa" dan diakhir berita diberitakan juga kebaikan dan keburukan dari membuka kilang minyak di lepas pantai?

Ada? Saya kira tidak.

Apa ada presenter berita di semua stasiun televisi yang pernah berbicara kalimat "hutan kecil ditengah ladang sawit yang luas"?

Coba kita terla'ah baikbaik deh video dibawah ini...


Ini video tentang kampanye band indie yang berasal dari bali, Navicula. Mereka masuk dalam komunitas Greenpeace untuk berusaha menyelamatkan alam Indonesia.

Kalau gue pikir, kenapa ya di Kalimantan, Aceh, Jawa tengah, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan hampir seluruh penjuru Indonesia, orang "bule" lebih peduli dengan alam dan tradisi kita ketimbang orang lokal?

Apa mungkin karena kita tidak diajari kesenian lokal sehingga kita kurang peduli terhadap kesenian kita? Apa kita tidak diajari PPKn sehingga kita tidak pinya rasa cinta terhadap alam kita? Menurut gue, rasa Nasionalisme itu bukan hanya cinta terhadap negara ini. Tidak hanya cinta kepada kekayaan alam negeri ini. Tidak hanya ingin melawan orang yang merusak nama Indonesia. Tapi juga orang yang peduli dengan alam negeri ini.

Jarang pasti yang tau kalau alam negeri ini sedang digerogoti. Bukan dari luar, tapi dari dalam. Seperti rayap yang menggerogoti kayu, seperti itu juga lah para penguasaha menggerogoti alam yang indah ini.

Buka tambang dimana-mana, setelah selesai tidak ditutup kembali. Tebang pohon, buka hutan untuk dijadikan kebun sawit. Buka kilang minyak di lepas pantai banyak-banyak untuk meraup keuntungan besar tetapi tidak memperhatikan kelangsungan hidup ikan.

Ngga salah buka kilang minyak. Ngga salah menambang kekayaan alam. Ngga salah bikin kebun sawit. Tapi coba, bikin kilang minyak jangan mengotori lingkungan laut. Tutup kembali tambang jika sudah habis yang mau ditambang dengan pepohonan yang sebelumnya ditebang. Dan jangan membuka lahan di tengah hutan!

Anda tau Indonesia ini luas. Indonesia tanahnya subur. Indonesia punya segalanya. Jangan hanya karena serakah, lalu membuka hutan dan dijadikan ladang sawit yang luas.

Hutan Indonesia ini sumber oksigen terbesar di dunia. Lebih dari Amazon.

Mungkin karena hukum sudah tidak berdiri dengan tegak, hingga para penguasaha bisa menang melawan pemuka adat yang malah ditangkap dan dipenjara lantaran mempertahankan tanah dan hutan milik pusaka nenek moyangnya untuk dijadikan kebun sawit..

Jangankan Kalimantan, Papua, atau manapun, Bali, yang adalah permatanya Indonesia, sumber devisa terbesar negara ini dibidang pariwisata, malah diserahkan kepada para investor yang ngga jelas darimana dan malah akan membuat Bali itu hancur ditangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Coba deh searching di Google atau dimanapun apa yang sebenernya terjadi dengan Indonesia. Mungkin masih banyak yang gue belum ketahui, dan itu patut untuk kita mencari tau nya.

Apa kita akan membantu menghancurkan bumi kita sendiri? Atau melawan para "binatang" yang tidak punya perasaan itu?

Mungkin gue disini baru bergerak dengan tulisan. Tapi akan menjadi besar kemudian. Dan gue berharap siapapun yang baca tulisan ini, yang bisa langsung bergerak lebih jauh, silahkan mulai langkah anda dari sekarang.

Untuk menutup postingan ini, gue mau mengutip quote yang ada di video tadi

"Only when the last tree has been cut down; Only when the last river has been poisoned; Only when the last fish has caught; Only than will we find that money can't be eaten."
                                                                                                                    - Pepatah Orang Amerika

Friday, August 16, 2013

Terima Kasih.

Hari ini, 17 Agustus 2013. Saya, Evan Semuel Hizkia Kano, mau bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Semesta Langit yang dengan kasihnya telah melahirkan saya di Tanah Yang Kaya ini.

Saya bersyukur, untuk kesempatan yang diberikan Tuhan, Pencipta Alam Semesta ini, kepada saya untuk menjadi bagian dari Tanah Yang Berlimpah Susu dan Madunya.

Saya bersyukur, untuk kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Mahaadil untuk menjadi pejuang untuk negeri yang sangat patut untuk diperjuangkan sampai akhir hayat ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakasih, karena saya bisa menjadi pembawa kasih bagi bangsa yang berdiri diatas keragaman yang sangat beragam.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakaya, Karena saya adalah pewaris Kerajaan-Nya sekaligus pewaris negeri yang dicintai semua bangsa ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakudus, karena sudah diberikan anugerah untuk hidup di tanah yang, banyak orang bilang, adalah "Surga Dunia".

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, karena telah menjadi perpanjangan tangan Tuhan, untuk membuat Indonesia ini menjadi bangsa yang merdeka.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang rela mati demi kebebasan saya dan semua keturunan-keturunan saya kelak.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang tidak takut membela tanah ini sampai akhir hayat mereka.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang telah memberikan contoh bagaimana hidup saling bertoleransi dan mengasihi ataragama, atarsuku, antargolongan, antaraliran, antarras.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang dengan gigih mengusir penjajah walau hanya dengan bambu runcing dan batu.

Saya berterima kasih, kepada para pendahulu, yang sudah membangun Indonesia sampai bisa seperti saat ini.

Saya berterima kasih, kepada semua yang berjuang demi bangsa ini, demi mewujudkan cita-cita dan takdir bangsa ini, untuk bersatu dan menjadi satu.

Saya berterima kasih, kepada para penjajah, yang telah menjajah kami, sehingga kami dapat menemukan cara untuk menjadi satu, satu bahasa, satu bangsa, satu tanah air.

Saya berterima kasih, kepada para "pahlawan", yang masih terus mengukir cantik nama Indonesia di dahi dunia. Pahlawan pendidikan, pahlawan olahraga, pahlawan akademik, pahlawan seni, pahlawan kemanusiaan, pahlawan eksakta, beserta pahlawan-pahlawan dibidang lainnya.

Saya, Evan Semuel Hizkia Kano,

Saya berjanji, untuk selalu membawa nama baik bangsa ini, sampai pada akhir hayat saya.

Saya berjanji, untuk menjaga nama baik tanah ini, sampai pada kesudahan zaman.

Saya berjanji, untuk membela bangsa ini dengan segenap jiwa dan raga saya.

Saya berjanji, untuk selalu berusaha mengharumkan nama bangsa ini, sampai mata ini menutup dan tidak akan terbuka lagi.

Saya berjanji, akan selalu mencintai Tanah Air saya ini, sampai saya mati.

Saya berjanji, akan selalu memelihara toleransi di dalam berbangsa.

Saya berjanji untuk selalu memperjuangkan keadilan untuk Tanah Air saya, dari Ujung Sabang sampai ke Ujung Merauke. Dari Ujung Pulau Miangas sampai Ujung Pulau Rote

Dirgahayu Indonesia! Saya cinta, dan selalu cinta, kepada negeri yang berlimpah susu dan madunya ini, negeri yang kaya akan budaya, alam, dan pengetahuannya. Negeri yang akan menjadi tempat saya berlindung di hari tua. Negeri yang mempunyai segalanya. Negeri yang selalu dipandang oleh dunia.

God bless INDONESIA and INDONESIAN!

Merdeka!!

Thursday, August 15, 2013

Tanah Yang Kaya

Papua, negeri di timur Indonesia. Alam yang bersahabat, etnis yang masih terjaga, negeri yang indah, tanah yang kaya.

Suatu hari gue ada di Kementrian Luar Negeri. Disana gue lagi ngurus exit permit untuk kakak sepupu gue yang mau berangkat ke Korea Selatan buat nerusin sekolah disana. Waktu itu bener-bener sendirian. Panas. Dan loket untuk urusan keluar negeri itu lagi tutup istirahat.

Tadinya gue mau ke ragussa aja, karena udah panas pula, dan loketnya baru buka dua jam lagi. Iya, gue sampe sana pas banget jam 12 siang. Cuman, berhubung gue udah ketemu tempat adem untuk duduk dan itu dibawah pohon pula, gue akhirnya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan tempat itu.

Di dekat gue, ada beberapa orang bapak dan ibu yang menunggu bukanya loket tersebut. Sekitar 15 menit gue duduk disitu, tiba-tiba ada 2 orang paruh baya berkulit hitam lekat, berambut kriting, berpakaian rapi, menghampiri gue dan beberapa bapak dan ibu yang ada di dekat gue.

"Maaf mas, itu loketnya kenapa tidak dibuka ya?", tanya salah satu bapak yang datang itu.

"Iya katanya lagi istirahat pak, bukanya nanti jam 2an.", jawab gue gelagapan karena daritadi ngeliatin mereka berdua dengan tatapan curiga.

"Oh gitu ya mas? Oke makasih ya mas", dan mereka pergi gatau kemana.

Singkat cerita, gue lagi nunggu exit permit kakak sepupu gue diproses, karena yang tanda-tangan exit permit itu lagi ada rapat dengan Bapak Marti Natalegawa(maaf kalo salah tulis, -Red). Lagi nunggu, tiba-tiba bapak-bapak yang tadi nanya ke gue masuk berdua, nyerahin paspor ke loket untuk di proses, dan akhirnya dia duduk dia bangku dari gue. Mereka ngga ngobrol.

Selang satu menit, ada bapak-bapak lain, duduk pas di sebelah gue. Dan bapak itu ngobrol dengan bapak-bapak yang gue bilang tadi.

"Sebetulnya pak, orang papua itu maunya sama NKRI. Cuman, kenapa mereka mau merdeka? Karena mereka bingung, kenapa yang lain dibangun, tapi papua sama sekali tidak ada pembangunan yang berarti?", kata bapak yang nanya ke gue tadi.

"Kami pisah dari NKRI, kami merdeka sendiri, kami bisa membangun papua sendiri, tanpa ikut campur tangan orang lain. Tanpa harus mengurus birokrasi-birokrasi yang lain. Kami kaya, keluar rumah saja, kalau anak kami gali tanah pakai sendok, sudah ada butiran-butiran emas disitu," lanjutnya.

"Jadi, sampai saat ini, kami masih bertahan dengan NKRI karena memang kami cinta kepada NKRI. Dulu, presiden Soekarno punya mimpi untuk menjadikan papua menjadi yang paling maju, karena kami punya harta terpendam disini. Ada space shuttle pertama Indonesia, bahkan di Asia yang mau dibangun beliau, di Papua. Tanahnya sampai sekarang masih ada.

Bung Karno juga yang mengambil kami dari tangan Belanda, karena mereka tau kami berharga. Tapi setelah beliau mangkat, kami seperti diasingkan bahkan di Jual ke Freeport. Kami bingung dengan pemikiran-pemikiran para pemimpin ini. Kita bisa membangun Indonesia bersama. Menjadi bangsa yang mandiri, yang maju. Liat Cina, bahkan negara tetangga kita Singapura. Mereka punya apa? Kita punya apa yang mereka punya tapi kita juga punya apa yang mereka tidak punya.

Masakkan kami harus melawan Freeport sendirian? Kami harus membela tanah ini sendirian? Apa kami masih bagian dari NKRI?". Semua terdiam. Gue melirik ke kanan dan kekiri, ternyata yang mendengar ini sudah hampir 10 orang di depan sama di belakang kami.

"Tuan Tritiya?", Suara itu terdengar dari arah loket. Dan gue pun langsung beranjak menuju loket untuk mengambil paspor kakak sepupu gue itu. Ketika selesai, gue balik badan, dan ternyata tempat duduk gue udah didudukin orang lain. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang.

Agak kesel sih karena tidak bisa berlama-lama mendengarkan cerita dari para cendikiawan asal papua itu.

Dan dari percakapan diatas, gue menemukan sesuatu. Hati Papua masih di NKRI. Dan akan terus di NKRI sampai akhir hayat.

Gue denger kemarin bahwa beberapa OPM(Organisasi Papua Merdeka) rela melucutkan senjata mereka ke TNI karena sudah ada pendekatan yang persuasif dari TNI dengan OPM. Lihat? Tidak perlu ada kekerasan, kan? Mereka masih mau NKRI.

Jadi, jangan siasiakan rasa nasionalisme mereka dengan memberikan tanah mereka kapada pihak asing. Karena mereka mau, tanah mereka, dikelola oleh bangsa mereka sendiri, dan untuk negara mereka sendiri, NKRI.

Serukan pemerataan pembangunan, untuk Papua.

Selamat siang.

Sunday, August 11, 2013

Jadi Garam, Jadi Terang

Gue rasa kita semua udah tau lah ya apa manfaatnya garam?

Mungkin hanya beberapa ya yang tau manfaatnya garam. Garam itu lumayan banyak manfaatnya. Salah satunya garam itu bisa mengeluarkan racun di dalam tubuh. Manfaat dari garam yang paling terlihat itu adalah jawaban dari "Kenapa anda memasukan garam ke dalam masakan anda?".

Pasti tujuannya untuk memberikan rasa. Bukan menambah rasa.

Ketika mati lampu, kita pasti otomatis akan menyalakan senter atau lilin atau handphone ataupun api.

Ketika kita menyalakan salah satu dari yang diatas, orang yang ada di sekitar kita pasti akan melihat ke arah kita dan ruangan dimana kita berada, langsung menjadi terang, meskipun sangat kecil cahaya yang kita nyalakan. 

Nah... Kita tau kan seperti apa dampak yang diberikan sama garam dan terang?

Sedikit garam dapat memberikan rasa di semangkuk sup hangat. Setitik cahaya diatas gunung bisa terlihat dari radius beberapa kilometer jauhnya.

Itulah tugas kita. Jadi garam, jadi terang. Kita harus memberikan dampak kepada orang-orang sekitar. Kita harus menjadi terang yang akan sangat terlihat di tengah kegelapan. Kita harus menjadi garam yang memberikan rasa di lingkungan kita.

Jangan sampai kita di dunia ini membuang siasia kesempatan untuk menjadi garam dan terang. Karena, ketika garam itu menjadi tawar, tidak bisa lagi dia diasinkan.

Berdampak. Itulah tujuan hidup kita. Berdampak, bukan berbeda.

Selamat Siang!

Saturday, August 10, 2013

Realistis

Masih menjadi perdebatan di otak gue sendiri, apa realistis itu membawa dampak baik, atau buruk?

Kadang, banyak dari kita, terutama pria, pasti lebih cenderung realistis dalam berpikir. Seperti ketika anda melihat seorang buta ingin menyeberang jalan. Kalau kita sedikit realistis, kita akan berpikir bahwa orang itu mustahil akan bisa selamat menyebrang tanpa bantuan orang lain, meskipun dia sudah berada di zebra cross.

Tapi tidak jarang kita melihat orang buta yang kerjanya sehari-hari berdagang kerupuk, dengan hebatnya mereka bisa berjalan menyeberangi jalan raya tanpa bantuan siapapun. Ajaib bukan?

Ada lagi contoh. Ketika kita tau bahwa manusia tidak bisa berbahasa hewan dan berbicara kepada hewan. Secara suara, beberapa hewan tidak bisa mendengar suara asli manusia. Karena frekuensi suara manusia hanya bisa didengar oleh beberapa binatang. Seperti anjing, dia hanya dapat mendengar bunyi infrasonik diantara 0-20Hz. Sedangkan suara manusia frekuensinya 20-20.000Hz. Jadi jika kita realistis, anjing tidak bisa mendengar suara manusia apa bila manusia berbicara seperti biasanya.

Tapi, kenapa anjing mengerti jika pemiliknya butuh? Bagaimana cara anjing mendengar suara pemiliknya ketika pemiliknya memanggilnya dengan suara yang biasa?

Aneh kan?

Tapi, kalaupun kita tidak realistis, pasti kita sangat ragu-ragu untuk memulai sesuatu. Karena itu hanya perkiraan, dan sangat tidak masuk diakal.

Jadi serba salah. Jika kita realistis, banyak hal di dunia ini yang sangat bertentangan dengan pikiran kita yang mencoba untuk realistis. Sedang, ketika kita mencoba untuk tidak realistis, pasti kita akan ragu untuk mengambil suatu keputusan.

Harus bagaimana?

Satu yang bisa gue dapet disini, kita tidak bisa memakai otak kita yang sangat realistis untuk memprediksi masa depan. Kita tidak dapat bisa memprediksi suatu hasil dengan berpikir realistis. Yang ada, nanti kita hanya bingung dengan asumsi "ini itu" yang ada di pikiran kita dan itu malah membuat kita stress, sakit, dan lainnya.

Tapi, kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan sesuatu yang real dengan pikiran kita yang realistis.

Bingung?

Gue juga bingung.

Jadi kita harus gimana?

Coba kita lebih bijak. Gimana kalau kita tidak selalu berasumsi? Apa lagi untuk menjadikan asumsi itu suatu realita yang hanya ada dalam otak kita, sedangkan belum terjadi di dunia nyata.

Coba jangan berasumsi apa-apa sebelum ada realitanya.

Ketika realita itu ada, dan kita harus memutuskan sesuatu, pertimbangkan realita itu 30%. Jangan berlebih. Karena, seperti yang ada diatas, ketika kita mencoba untuk berpegang pada kenyataan, ternyata masih banyak hal ajaib yang akan terjadi yang berlawanan dengan realita.

Tuhan itu ajaib, dan dunia ini punyaNya. Jadi, masih banyak hal ajaib yang akan terjadi di dunia ini.

Ketika kita berada pada jalan buntu, dan tembok yang sangat tinggi yang tidak bisa kita lewati, kita tau sudah tidak ada jalan lain selain mundur dan mecari jalan lain untuk menuju ketujuan kita. Tapi, bukan tidak mungkin akan ada keajaiban itu terjadi dan seketika itu juga temboknya roboh, kan?

Percaya aja, selama kita masih hidup di dunia ini, bakal ada keajaiban-keajaiban yang menanti selama kita percaya dan yakin kepada Sang Pencipta.

Terus gunanya realistis apa? Gak guna dong?

Pencipta itu pasti menjawab semua permintaan. Ada yang dikabulkan, ada yang tunggu, ada yang tidak. Realistis itu buat gue adalah untuk mempersiapkan diri kalau jawaban doa itu adalah tidak.

Selamat malam.

Friday, August 2, 2013

#PasangBendera

Ini salah satu hastag(tagar/tanda pagar) yang gue bikin sendiri. Tapi ngga tau deh apa udah ada yang bikin apa ngga, tapi jujur sumpah demi apapun gue belom pernah ketemu hastag itu sebelumnya.

Kenapa gue inisiatif buat bikin tagar ini?

Ini karena gue prihatin sama orang-orang sekeliling gue. Di sekitar rumah gue dan di jalan-jalan yang gue lewatin. 3 tahun belakangan ini, gue prihatin. Mungkin prihatinnya gue ini lebih prihatin dan prihatinnya Mr. Prihatin.

Kenapa? Karena di sekitar rumah gue semakin sedikit orang yang punya kesadaran untuk pasang bendera ketika menjelang hari kemerdekaan negara mereka sendiri. Semakin sedikit orang yang mempunyai inisiatif untuk memasang bendera di depan rumahnya H-17 dari hari kemerdekaan negara ini.

Dulu waktu gue kecil, gue paling suka kalo embak sama papa gue udah siapin bambu yang akan jadi tiang untuk Bendera Merah-Putih dan mencari Bendera Merah-Putih itu di dalam lemari. Seperti mau upacara.

Dulu waktu gue kecil, gue paling suka setiap tanggal 1 Agustus, pas gue keluar rumah(entah untuk ke sekolah atau main), gue udah liat banyak bendera merah putih di pagar/depan rumah orang-orang dan tetangga-tetangga gue.

Dulu waktu kecil, gue suka liat bendera-bendera plastik yang di pasang zig-zag di atas jalan-jalan komplek gue. Liat dekorasi merah putih yang indah di pos hansip di komplek gue.

Dulu waktu kecil, gue paling excited buat daftar berbagai macam lomba untuk memperingati hari kemerdekaan NKRI. Ketika beberapa kakak-kakak karang taruna RW dateng ke rumah buat data gue mau ikut lomba yang mana aja.

Tapi, tahun ke tahun, semua itu ilang.

Ngga ada lagi yang namanya lomba. Ngga ada lagi yang namanya bendera kecil dipasang di atas jalan komplek. Ngga ada lagi dekorasi 17an di poskamling. Ngga ada lagi bedera di tanggal 1 Agustus.

Ngga ngerti kenapa. Apa mungkin tradisi lama kelamaan akan dimakan ke-modern-an? Apa mungkin tradisi akan hilang ditelan zaman? Atau semua orang sudah pesimis dengan negara ini? Dengan bangsa nya? Dengan alamnya? Sampai semua itu hilang. Poof.

Aneh. Ini aneh banget. Hanya dalam beberapa tahun itu udah ngga ada lagi. Malah yang lebih parah, waktu 17 Agustus aja ada yang ngga pasang bendera. Ini gue ngga ngerti apa dia foreigner ato dia....... Entahlah mau disebut apa.

Gue selalu pake metode yang dilakukan sama mama gue, kalo berasumsi, asumsi yang positif. Jadi waktu gue liat ada yang ngga pasang bendera, pasti pikiran gue negatif(karena negatif itu selalu datang duluan), tapi ketika gue coba untuk positif, gue mengasumsikan kalau mereka mungkin tidak punya bendera dan tidak punya uang untuk membeli bendera. Atau mungkin bendera mereka sudah lusuh sehingga malu untuk mengibarkannya di depan orang lain.

Buat teman-teman, orang-orang, yang tidak punya uang untuk membeli bendera, bendera itu gak mahal-mahal amat kok. Jauh lebih murah dari harga makanan anda seharian. Ga punya tiang? Pake apa aja yang bisa digunakan untuk mengibarkan bendera anda.

Bendera lusuh? Jangan malu! Pejuang kita berjuang dengan pakaian compang-camping, muka kotor, dan hanya dengan bambu runcing. Mereka tidak malu dan tidak minder melihat musuh yang dengan peralatan canggih menggempur mereka. Sekarang sudah tidak ada musuh, yang akan melihat bendera lusuh itu hanya saudara sebangsa kita. Untuk apa malu? Mereka juga belum tentu punya kemauan besar seperti anda untuk mengibarkan Bendera Merah-Putih yang sangat bagus yang mereka punya dan tidak lusuh sama sekali.

Untuk apa nyawa pahlawan jika saat hari kemerdekaan negeri ini tidak diperingati secara meriah dan besar-besaran oleh rakyat negeri ini yang otomatis adalah penerus pergerakan mereka saat ini? Apa kita sudah lupa pada mereka? Pernah membayangkan jika mereka semua tidak ada? Anda masih menjadi orang-rantai, orang-orang yang dipaksa untuk kerja rodi. Orang-orang yang disiksa entah apa alasannya padahal kita sudah lelah menjalankan kerja paksa. Tanah yang adalah milik anda, dikuasai orang lain, tanpa pajak untuk anda, tanpa imbalan untuk anda, dan hasil dari tanah itu menjadi milik mereka juga.

Kerja paksa (Romusha), zaman pendudukan Jepang
Buat yang masih pesimis terhadap negara ini, kalian bisa merubah negara ini. Dengan memberi dampak nasionalisme untuk orang lain, kalian sudah membantu untuk mengubah negeri ini. Mungkin susah untuk optimis dengan negara yang carut-marut ini, tapi ketika anda mau mencintai negeri ini, apa adanya, bukan ada apanya, disitu nasionalisme tumbuh, berakar, dan berbuah lebat dan anda bisa memberi dampak bagi orang lain untuk mempunyai kecintaan lebih terhadap Indonesia. Dengan banyak yang terdampak, negeri ini pelan-pelan akan berubah kearah yang lebih baik.

Mengutip kalimat gue di postingan Kolam Susu, INDONESIA ada untuk dicintai, bukan hanya dicintai oleh penduduknya, tapi dicintai oleh dunia ini. Jadi, gimana dunia mau mencintai INDONESIA kalau rakyat negeri ini tidak cinta pada negerinya sendiri?

Ayo, kita #PasangBendera minimal H-7 menuju Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini. Dan #MenolakLupa untuk seluruh pahlawan yang sudah berjuang membebaskan negeri ini dari segala bentuk penjajahan.

Merdeka!

Monday, July 29, 2013

Move on

Mungkin kalo gue tweet tentang judul postingan kali ini, langsung banyak kali ya yang visit blog gue..

Disini gue mau meluruskan yang namanya move on versi gue aja sih sebenernya. Setuju ga setuju tuh ya pendapat masing masing orang aja lah ya?

Jadi gini, menurut gue move on itu bukan ketika kita melupakan seseorang yang pernah ada di kehidupan kita, bahkan nyantol pula di hati kita.

Move on bukan soal melupakan.

Buat gue, move on adalah gimana kita bisa bahagia tanpa mereka yang pernah ada di kehidupan kita. Siapa aja. Semua orang yang udah ninggalin kita. Gak mesti pacar.

Terlalu banyak orang yang menggadaikan kebahagiaannya itu hanya karena dia belum bisa move on dari orang lain. Sampai-sampai dia sakit, stress, gila, bahkan ada juga yang bunuh diri karena ketidakbisaan mereka untuk move on.

Penyebab susah move on itu ada banyak. Kepo, mereka terlalu berharga, terbiasa, cinta, dan lain sebagainya.

Seperti yang gue pernah bahas di posting gue yang #TheArtofLettingGo , ikhlas juga mempengaruhi tahap move on seseorang. Lebih cepat dia ikhlas, pasti dia lebih cepat bahagia tanpa seseorang yang sudah pergi dari kehidupannya.

Sebetulnya, Ini bukan tentang pacaran atau bukan. Gak semua masalah hati itu harus melibatkan pacaran kan? Bisa jadi kakak, orang tua, mungkin baby sitter kita dulu yang kita sayang. Gak mesti pacar.

Move on itu bukan soal kita melupakan semua tentang mereka, tapi bagaimana kita bahagia tanpa mereka.

Selamat malam

Thursday, July 25, 2013

#saveorangutan

Ngga ngerti kenapa mau nge-post tentang ini. Tapi, kita coba aja nge-post dengan modal pengetahuan pas-pasan dan rasa peduli yang lumayan tinggi.

Semua tau pasti tentang orangutan. Secara mereka itu hewan asli Indonesia. Meskipun ada beberapa di negeri sebelah yang suka ngaku-ngaku, tapi habitat aslinya itu ya di hutan hujan Sumatera dan Kalimantan.

Yang gue concern di sini itu adalah tentang kita, rakyat Indonesia, yang terlalu angkuh mungkin dengan keadaan sekitar. Hutan ditebang, dibuka lahan, industri tambang, pas udah selesai bukannya ditutup dengan ditanam beberapa pohon, malah dibiarkan gitu aja.

Mungkin kalo ada yang tau, kalau hutan hujan Kalimantan dibuka dan dibuat ladang, tambang, dan semua-mua nya, Oksigen di dunia berkurang 45%. Dan secara tidak langsung udah mengobrak-abrik rumah dari orangutan.

Orangutan bukan hewan ternak, yang bisa dipelihara dan dikembangbiakan di rumah atau di suatu tempat begitu aja. Orangutan itu hewan liar. Liar bukan berarti buas. Liar maksudnya tidak bisa di kekang. Bukan hewan peliharan, apa lagi ternak. Mereka harus dilepas di hutan, yang adalah rumah asli nya. Bukan di kandang atau di rumah orang.

Banyak orang memanfaatkan hutan sebagai tempat untuk mecari uang. Membuka lahan untuk ditanam kelapa sawit, buka lahan untuk pertambangan, tebang liar(Illegal Logging), dan pengusahaan lahan. Memang sawit itu sangat in banget akhir-akhir ini. Bahkan ada yang bilang kalau sawit bisa jadi bahan bakar. Cuma kenapa harus membuka lahan di hutan?

Kalau diliat di wikipedia, predator(pemangsa) orangutan yang utama adalah manusia. Selain macan, harimau, dan hewan buas lainnya. Kenapa? Silahkan jawab sendiri.

Katanya namanya Marjo. Dia abis dilokalisasi dari hutan kecil di tengah perkebunan sawit ke hutan yang lebih luas karena orangutan itu punya daya jelajah 20km/hari

Kalau dicari-cari di internet, kita bakal liat orangutan dibunuh, dikerangkeng, dan lainnya untuk dijual-beli. Seperti yang gue bilang diatas, orangutan itu gak bisa diperlakukan kaya gitu. Dijual, mau dipelihara dimana? Rumah? Kan habitat dia bukan di rumah. Pasti dia bisa stress. Ga lama kemudian dia mati. Makin punah lah hewan asli Indonesia ini.

Selain komodo, orangutan juga hewan asli Indonesia. Mungkin karena orangutan terlalu "halus" dan ga punya racun jadi lebih baik mengeksploitasi orangutan ketimbang komodo. Bukan berarti juga gue nyuruh buat mengeksploitasi komodo. Bukan. Itu salah besar.

Kita dikasih kebebasan sama Tuhan buat menguasai binatang-binatang dan tumbuhan, tapi bukan berarti bebas mengeksploitasi mereka. Mereka juga makhluk hidup, mereka itu creature nya Tuhan juga. Jangan mentang-mentang manusia lebih tinggi derajatnya ketimbang makhluk lain sampe kita yang mengeksploitasi mereka.

Mungkin kalo gue udah punya duit dengan kekuasaan yang tinggi, gue bakal buat apa aja untuk ngelindungin hewan yang satu ini. Kalo sekarang, mungkin baru lewat tulisan. Karena gue blm bisa apa-apa dan ngga punya apa-apa.

Di dunia ngga ada orangutan selain di Sumatera dan Kalimantan. Mungkin ada, tapi di kebun binatang. Ngga ada habitat lain selain di hutan hujan Indonesia.

Dan sepenglihatan gue, orang Indonesia, terutama generasi-generasi kita saat ini sangat jarang yang concern tentang orangutan. Coba deh cari tau tentang orangutan kita. Mereka punya kita, masa kita mau sia-sia-in mereka?

Yang gue liat di internet, disana kebanyakan orang bule ketimbang orang Indonesia. Mungkin ada, tapi hanya penduduk sekitar dan polisi hutan. Kalau gue dikasih kesempatan, gue mau kok terjun langsung kesana.

Dunia peduli, masa kita ngga?

Semoga ini bisa mencerahkan orang-orang yang membaca dan lebih peduli terhadap orangutan. #saveorangutan!!!!!!!!

Selamat siang!!

Monday, July 22, 2013

Fanatik

Semua yang berlebihan itu tidak baik. Tidak semua orang tau akan hal ini. Karena masih banyak orang yang berlebihan.

Mungkin mereka tau, tapi mereka tetap saja berlebihan. Atau mungkin mereka tau, tapi hanya dalam hal tertentu mereka sangat berlebihan. Ada yang tau, dan mereka mencoba untuk tidak berlebihan dalam menghadapi sesuatu.

fa.na.tik
[a] teramat kuat kepercayaan (keyakinan) thd ajaran (politik, agama, dsb)

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/fanatik#ixzz2ZcBcAIs6



Fanatik ini kalau dilihat dari artinya diatas, itu memakai imbuhan ter-. Dan ter- itu melambangkan paling atau sangat. Menurut gue ini berlebihan. Kurang ngerti sih kalo misalkan ini paling atau sangat itu berlebihan atau tidak.

Tapi menurut gue, fanatisme itu ada 2. Fanatisme terbuka, dan Fanatisme buta.

Tidak semua fanatisme itu buruk. Fanatisme terbuka adalah fanatisme yang menghargai sudut pandang lain, tidak selalu merasa benar apa yang ada di prespektif dia sendiri.

Fanatisme buta adalah fanatisme yang tidak bisa melihat orang lain, hanya berpegang pada keyakinan sendiri yang dia belum tentu tau apa itu benar atau salah. Fanatisme yang bisa mengakibatkan anarkis.

Tidak salah kalau fanatik. Setiap klub sepakbola harus ada suporter fanatik yang mendukung mereka dikala mereka terpuruk, dan ketika mereka "terbang tinggi". Setiap musisi perlu fans fanatik yang selalu hadir disetiap konsernya untuk meramaikan acara mereka. Setiap orang harus fanatik terhadap agama/kepercayaannya, agar tidak mudah terhasut dengan ajaran lain. Indonesia butuh rakyat yang fanatik untuk menjaga keutuhan NKRI ini.

Tapi.... Klub sepakbola tidak membutuhkan pendukung yang mempunyai fanatisme buta yang akan merusak apa saja ketika mereka melawan musuh bebuyutan mereka. Musisi tidak membutuhkan fans yang memiliki fanatisme buta yang akan berkelahi dengan fanbase musisi lain ketika mereka kalah dalam sebuah kompetisi musik. Agama tidak membutuhkan pengikut dengan fanatisme buta yang akan menghancukan ideologi dari agama itu serta memperburuk citra dari agama tersebut. Dan Indonesia tidak membutuhkan rakyat dengan fanatisme buta yang hanya membuat malu bangsa ini dan mengobrak-abrik NKRI dari dalam.

Kalimat terakhir yang akan menutup postingan kali ini adalah "Siapa yang membela Tuhan, dia sombong. Tapi siapa yang tidak sombong, akan dibela Tuhan."

Selamat Malam!!

Thursday, July 18, 2013

Kecintaan

Jujur bingung buat milih judul untuk postingan kali ini.

Seni itu banyak. Mungkin seni yang mau saya bahas disini adalah apa yang dinamakan Art. Bukan air seni. 

Kesenian itu banyak. Seni lukis, ukir, musik, tari, sastra, dan banyak lagi. Saya penikmat sekaligus penggila seni. Untuk saya, seni itu adalah kebebasan. Kebebasan untuk berkreasi. Kebebasan untuk berekspresi. Sehingga dalam kebebasan itu kita melihat keindahan. Kalo kata orang-orang "ada estetikanya".

Menurut gue semua orang mempunyai bakat dalam bidang seni. Seorang ilmuan punya kemampuan dalam bidang seni. Mereka menemukan suatu rantai kimia, misalnya. Ketika mereka menemukan itu, mereka pasti akan menyajikannya secara indah untuk dipresentasikan di muka umum sebagai hasil karya nya. Menurut saya, itu lah seni.

Seni itu pasti menciptakan keindahan dan otomatis memiliki keindahan. Semua orang mempunyai bakat dan ketertarikan terhadap seni yang berbeda-beda. Ada yang suka menggambar, memahat, mematung, origami, menyanyi, menari, dan lain-lain.

Saya sendiri punya ketertarikan dibidang musik. Meskipun tidak terlalu mengerti musik, saya tapi sangat menyukai musik. Banyak orang berkata musik adalah bahasa universal. Ya, karena tanpa anda mengetahui isi liriknya, anda dengan mudah bisa menyukainya. Bahkan tanpa lirikpun, musik sudah sempurna.

Tapi dibalik ketertarikan saya dengan musik, saya adalah penggemar berat seni tari. Apa saja. Modern dance? Traditional dance? Saya suka semuanya. Bahkan saya ingin bisa menari. Dan saya sangat mengagumi orang yang jagi menari. 

Menurut saya tarian itu lebih terasa unsur kebebasannya. Meskipun banyak aturan dalam menari, tapi ketika anda punya passion dalam menari, orang yang melihatpun tau kalau anda sangat "bebas" ketika menari. 

Saya salut dengan penari pria. Kenapa? Karena di negeri ini terlalu kuat dengan yang namanya kodrat. Sedang negeri ini sama sekali tidak mengerahui apa kodrat mereka. Mereka pikir menari itu bukan kodrat laki-laki. Banyak orang tua yang tidak mau anak laki-lakinya menjadi penari. Banyak orang yang mengejek seorang laki-laki yang menjadi cheerleaders. Dalam kamus bahasa inggris Cambridge tidak dijelaskan bahwa cheerleaders itu untuk wanita. Tapi disitu dikatakan "BIASANYA". Beda kan?

Jadi kenapa harus kaku melihat pria menari? Selama orientasi seksualnya masih "lurus", kenapa tidak? Jangan mencibir pria yang menari kalau anda takut untuk menari. 

Dan saya ingin suatu saat mendapatkan pasangan yang pintar menari *curhat dikit. Hehe*

Selamat Malam!

Monday, July 15, 2013

Keliling

Siapa yang ngga mau keliling dunia? Pasti setiap orang kalo misalkan dikasih kesempatan keliling dunia, bakal dia ambil. Tanpa bertanya kenapa, bagaimana, kapan. "Anda saya kasih trip perjalanan keliling dunia" dengan memberikan bukti serta tiket dan voucher hotel, pasti semua orang langsung "Oke, makasih banyak" atau langsung mengungkapkan kegembiraannya itu. Orang normal loh ya, bukan orang ngga normal. Apa lagi gratis.

Itu wajar. Kenapa? Karena setiap manusia(normal) memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka tidak puas dengan apa yang ada disekitar mereka. Mereka pasti mau berkeliling. Apa lagi tempat yang akan dituju adalah tempat yang mereka belum pernah sama sekali kunjungi dan hanya mengetahui itu dari internet. Itu sangat membuat anda amat excited.

Gue itu bisa dibilang punya jiwa petualang yang tinggi. Jiwa petualang gue ini dibatasi dengan isi dompet dan permit dari orang tua yang tidak menghendaki gue untuk menyalurkan jiwa petualang gue yang super ekstrim ini. Ya itu menurut gue karena mereka terlalu sayang dan cinta sama gue sehingga mereka seperti itu dan gue bangga jadi anak mereka. 

Dengan jiwa petualang yang super duper ekstrim itu, paling ngga bisa gue kalo liat video atau apapun entah foto atau apapun tentang orang yang bertualang. Kemana saja. Tiap gue liat tweet nya mbak @TrinityTraveler dan sekaligus baca blognya di Naked Traveler dan laiat videonya, gue sangat ngiri dan pengen banget rasanya berada disana. 

Gue juga ngiri sama bule-bule yang gue ketemu waktu gue ke Jogja. Mereka gue tau dateng dari amrik, dari eropa, hanya untuk melihat keindahan negeri ini. Men, ini tuh gila banget. Gue pengen sewaktu-waktu kaya mereka. Waktu itu gue pernah denger mereka bincang2 gitu sama orang sini, sependegaran gue sih mereka bilang mereka dari US dan mereka itu hanya anak-anak SMA. Sahabatan gitu lah kaya film "5cm". Itu seru banget pastinya ya... Dan gue sangat ingin seperti mereka.

Gue juga iri sama temen-temen gue yang dengan gampangnya mereka ke luar negeri. Entah buat ngelanjutin pendidikan, entah hanya numpang bernafas a.k.a. berwisata disana. Gue pengen kaya mereka. Dan suatu saat, gue pasti bisa seperti mereka(AMIN). 

Tapi, gak cukup itu. Gue punya prinsip bahwa "gue akan pergi keluar negeri dengan duit gue sendiri setelah gue sudah kelilingin negara gue". Itu prinsip gue. Prinsip itu ngga berlaku ketika gue dibayarin atau gratis dapet trip keluar negeri ya. Itu namanya berkat istimewa. Tanpa gue kerja dan tanpa duit gue, gue bisa keluar negeri. Itu namanya anugerah. Jadi untuk apa ditolak. Hanya orang bodoh yang menolak anugerah.

Prinsip gue ini diperkuat dengan kata-kata dari dosen Character Building gue yang bilang "Sebelum lu jelajahin dunia, lu mesti jelajahin tanah kelahiran lo dan bapak lo. Kalo ngga, apa yang lo bisa omongin waktu lo keliling dunia dan ditanya 'apa yang menarik dari Indonesia?'". 

Bener juga sih. Masa iya waktu kita ditanya begitu kita buka wikipedia, buka google buat nyari apa-yang-harus-dibanggain-dari-Indonesia? Ngga mungkin kan? Yang ada lo beserta Indonesia bakal dipermalukan sama mereka. 

Indonesia itu terlalu Indah. Gue yang lahir di Jakarta, baru pernah ke Anyer, Bandung, Jogjakarta, Manado, dan Makassar. Di Makassar itu juga waktu kecil dan hanya beberapa jam. Dan dengan ke-sedikit-an tempat yang gue kunjungin, gue udah bisa bilang kalau Indonesia itu wordless. Ngga ada kata yang bisa diucapin kalo lo bertanya tentang Indonesia. Baru 4 tempat itu gue udah bisa ngomong gitu. Gimana kalo gue udah jelajahin semuanya?

Jangan bangga untuk menjelajah negeri orang sebelum anda menjelajah negeri sendiri.

Indonesia itu indah, Bung! Selamat Malam!

Sedikit tentang Indonesia terluar: 


Pantai Nebrala, P. Rote, Selatan

Pulau Weh, Barat.







P. Miangas, Utara





Merauke, Papua, Timur.

Wednesday, July 10, 2013

Hitam-Putih

Tenang, kali ini gue ngga akan membahas mengenai acara master corbuzier...

Gue disini mau bahas tentang warna yang sangat menjadi perdebatan di era tahun 1900an. Mungkin dari 1900-1990. Iya, hitam dan putih. Kenapa berdebat? Karena di era ini, orang-orang sedang gencar-gencarnya menggusur sistem politik Apartheid. Mungkin udah banyak yang tau apa apartheid itu ya.

Apartheid itu adalah hukum atau kebijakan yang memisahkan sekaligus membedakan antara orang yang berkulit hitam dan putih. Disini yang diuntungkan adalah para "kulit putih" dan yang dirugikan adalah orang berkulit hitam.

Dalam politik ini, orang kulit hitam dijadikan sebagai budak oleh para kaum kulit putih. Mereka dipaksakan dengan kerja yang sangat keras, bahkan di zaman ini ada yang namanya "orang rantai", mereka adalah orang-orang yang dirantai seperti binatang digiring juga seperti binatang untuk bekerja dan setelahnya untuk istirahat.

Gue gamau bahas panjang soal sejarah politik ini, tapi gue disini mau bilang kalo sekarang juga masih ada sisa-sisa aparheid itu. Apa? Banyak. Cuman yang gue mau concern sekarang itu adalah ketika orang Indonesia(yang otomatis berkulit sawo matang) mempunyai pandangan bahwa kulit putih itu "lebih keren" dari kulit hitam. Jadi disini mereka belomba-lomba untuk memutihkan kulit dengan cara apapun agar terlihat "lebih keren".

Sedangkan di negara sahabat kita, Brasil, mereka mengaggap kalau orang hitam lebih keren dari orang berkulit putih. Brasil sama dengan kita, mereka memiliki kulit sawo matang. Tapi mereka tidak mau berlomba menjadi putih, malah kebalikannya. Sehingga mereka sangat senang pergi ke pantai.

Kerang, Pantai Ngurbloat, Maluku Timur

Masyarakat kita disini suka ke pantai, tapi kalau tidak panas. Mungkin pagi sekali sebelum ada matahari dan sore setelah matahari turun. Sedang di Brasil, orang ke pantai dari pagi sampai sore. Dari matahari menampakan sinarnya sampai dia kembali masuk. Toh kalau mau diadu dengan pantai kita, Brasil ngga ada apa-apanya. Mereka punya pantai terkenal seperti Ipanema dan Copacabana. Kalau di Indonesia, pantai apa yang terkenal? Kuta? Sanur? Senggigi? Pantai Pink di Labuan Bajo? Pantai apa lagi? Banyak kan?

Malah kata kata "hitam" sering dipakai oleh orang-orang yang tidak bisa menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Kalau ada orang yang mengejek seseorang yang berkulit hitam dengan meneriakan kata "hitam", gue kasian ngeliat orang yang mengejek, bukan yang di ejek. Beda dengan ketika "hitam", atau "tem", atau "blek" menjadi panggilan ya. Mungkin mereka sudah ngga akan sakit hati. Karena itu sudah biasa.

Ada lagi yang membandingkan keputihan kulit mereka dengan orang lain, seperti adik, kakak, teman, pacar, dan lain-lain. Memang kenapa kalau "hitam"? Masalah? Kulit hitam itu mengganggu hidup kalian? Tidak kan?

Jadi coba deh respect sama orang lain, jangan biarin apartheid yang sudah dihapus berdasarkan perjuangan orang-orang seperti Nelson Mandela dan Bung Karno masih ada di muka bumi ini, terutama di Indonesia.

Selamat Dini Hari! Dan selamat sahur buat yang menunaikan ibadah puasa.

#indonesiaunite

Sunday, July 7, 2013

Pertanyaan (?)

Banyak pertanyaan yang ada dibenak saya. Banyak yang penting dan tidak kalah yang tidak penting. Anehnya semua difikirkan dan hanya ketika memikirnya saya menghabiskan waktu sepersekian detik dengan nalar cepat untuk memikirkan dan mendapatkan solusi.

Tidak semua menemukan titik temu. Ada yang langsung, ada yang menunggu untuk diproses lagi. Proses pemilahan, mana yang saya suka untuk saya pikirkan lebih lanjut, dan mana yang akan saya buang dan tidak akan saya pikirkan lagi.

Dan baru-baru ini saya berfikir tentang takdir. 

Banyak orang berkata kalau Tuhan punya cerita tersendiri bagi kita. Seolah hidup kita itu bagaikan buku cerita Tuhan yang sudah jadi dan siap dibaca oleh orang lain. Dimana didalam buku itu Tuhan sudah menuliskan dengan tintanya seluruh kehidupan kita. Semuanya, sampai kepada akhir cerita dimana kita akan kembali menghadapNya.

Tapi beberapa ahli dan beberapa pemikir menyebutkan bahwa kita telah diberikan free will(Kehendak bebas) dari Pencipta untuk memilih sendiri jalan kehidupan kita. Jadi kalo dalam kasus ini, teori pertama tentang takdir tidak berlaku. Jadi di sini, orang membuat buku ceritanya sendiri. Dia menuliskan dengan tintanya sendiri, sendang Tuhan hanya menjadi assistennya yang selalu memberikan beberapa usul yang seharusnya kita lakukan. 

Tapi ketika saya memikirkan sekali lagi, ternyata saya berfikir bahwa kedua pemikiran diatas sama-sama benar, tapi tidak mutlak. Di satu sisi, Tuhan memang memberikan kita jalan, dan Dia juga memberikan kita kehendak bebas. Mungkin persis seperti orang yang diberikan peta. Kita sebagai orang itu, dan Tuhan adalah seorang dermawan yang memberikan saya peta lengkap dengan jalan dan tujuan dari jalan-jalan tersebut.

Pemikiran saya berlanjut, dan ternyata di teori itu ada kelamahan. Ketika Tuhan menjadi demawan yang hanya memberikan kita peta yang sangat lengkap, otomatis membiarkan kita berjalan sendiri, tanpa Tuhan disamping kita ketika kita berjalan.

Setelah saya pikir, yang saya belum menemukan kesalahannya sampai sekarang adalah Tuhan sebagai sutradara yang merangkap menjadi penulis cerita, kita sebagai aktor yang memerankan peran "kita" sendiri, dan hidup kita ini adalah cerita dari film tersebut. 

Disini kita diberikan kebebasan berekspresi, dan cenderung berekspresi tapi masih dalam ruang lingkup yang ada dalam skrip cerita. Dialog Bebas. Kita bebas mengeluarkan semua yang kita punya demi terjalannya film tersebut. Tapi ada waktu dimana sang aktor lari dari jalan cerita. Entah ekspresi mereka yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sutradara, atau apapun yang memang keluar dari jalan cerita.

Ketika itu, menjadi tugas sutradara untuk mengembalikan pemain tersebut ke jalan cerita yang sebenarnya, yang diinginkan oleh sutradara itu sebagai sutradara dan penulis cerita. Dan satu kemiripan lagi, tidak ada sutradara yang mau film yang dibuatnya jelek. Selalu baik. Apapun akhir dari cerita itu, sutradara pasti membuat film itu dengan yang terbaik yang dia punya.

Itulah pemikiran saya...

Selamat malam!

Friday, July 5, 2013

Tanah Surga

Baru aja gue nonton film Indonesia yang menurut gue sangat menyentuh dan menyentil sekali bagi siapa yang menonton. Menurut gue pribadi, ini adalah gambaran kita, orang Indonesia zaman ini.

Film itu judulnya: Tanah Surga, Katanya..

Film karya Dedi Mizwar, yang memberikan inspirasi sekaligus teguran kepada kita semua yang pesimis terhadap negeri ini. 

Disini di ceritakan tentang bagaimana kita bisa mempunyai rasa nasionalisme tinggi di hati dan pikiran kita. Kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia. Kata pepatah "Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang". 

Latar cerita ini di perbatasan, antara Indonesia dengan malaysia. Dimana setiap orang yang sangat berpeluang untuk pindah menjadi warga negara lain memilih untuk menetap menjadi warga negara Indonesia.

Disini diperlihatkan semuanya, perbedaan yang terjadi di perbatasan. Di negeri orang itu sangat makmur, jalan beraspal, pasar dekat, rumah sakit dekat, rumah sudah beton. Sedangkan di wilayah bangsa ini, jalan masih tanah, masih banyak hutan dan warga masih tinggal di rumah dari kayu yang sudah lama dan lapuk

Tapi di wilayah itu, ada seorang kakek yang menjadi pahlawan saat Indonesia diserang oleh malaysia dan juga yang sangat cinta kepada bangsa ini. Dia tetap memilih sakit ketimbang dia harus pergi ke negeri orang itu. Dia mewariskan nasionalismenya kepada cucunya. 

Film yang baik dimana di film ini diajarkan untuk mencintai tanah air sejak kecil dan orangtua harus memupuk rasa nasionalisme kepada anaknya sejak dini. Selain itu, di film ini di ceritakan tentang pejabat-pejabat negara yang tidak tahan dengan kritikan maupun sindiran dan langsung ngambek. Memang itulah gambaran masa kini dari negeri ini, khususnya wilayah perbatasan.

Gue sebagai penonton sangat terenyuh dengan film ini. Bagi kalian, anak muda yang kurang bersyukur dengan negeri ini, kalian harus banyak mencari informasi tentang sejarah dan tentang semua yang ada di negeri ini. Kalo mau, nonton juga film ini. 

Ketika kalian sudah ngelakuin semuanya itu, dan kalian masih ngga suka dengan negeri ini, baru deh kalian pindah kemana aja kalian mau. Buat gue yang belom pernah kelilingin negeri ini, denger beritanya dari orang lain udah cukup bikin gue bersyukur jadi orang Indonesia.

Bukan menggurui, tapi memberikan saran. Mau dilakukan, bagus, ngga juga gak ngarus sama gue. Ini tentang kalian dengan negeri dimana kalian lahir. Dan itu bukan urusan gue.

Kalo mau nonton, ada link youtube-nya dibawah sini
Tanah Surga(Youtube)

Selamat malam!

Thursday, July 4, 2013

#TheArtofLettingGo

Mungkin banyak orang pernah denger atau liat kalimat yang jadi judul postingan kali ini.

Yang gue tau, hash-tag ini pernah dibuat sama om Barry Likumahuwa. Iya, The Art of Letting Go.

Gue sangat terinspirasi sama kalimat ini. Kenapa? Ya karena ini tuh bagus aja. Kalo diartikan secara harafiah dan menurut bahasa inggris versi saya sendiri, artinya adalah seni untuk melepaskan. Dan ini sangat dekat sekali dengan ikhlas.

Kita ikhlas pasti ada yang kita korbanin. Kita ikhlas pasti ada sesuatu yang pergi dari kita. Entah itu barang kita, orang yang ada di dekat kita, orang yang kita sayang, bahkan kebahagiaan kita. Masih banyak yang lain yang pergi dari kita yang kita harus ikhlaskan.

Ikhlas itu emang sulit. Kenapa? Menurut gue itu karena ikhlas itu sangat bertentangan dengan hati dan pikiran. Kenapa hati dan pikiran? Ya karena ketika kita ikhlas, disitu ada saat dimana hati dan pikiran kita sinkron untuk berkata tidak untuk melepaskan.

Ketika itu, pikiran yang mempunyai vocabulary kata "ikhlas" beserta pengertiannya harus dengan ikhlas juga berkata kepada hati untuk ikhlas. Disitu ada sesuatu yang mengganjal karena hati itu paling susah untuk ikhlas untuk ikhlas. Jadi, pasti hati akan merasa lebih sakit dari pikiran yang lebih mementingkan logikanya.

Jadi jangan heran kalau lagi mencoba ikhlas akan sesuatu, hati akan merasa sakit. Agak nyesek gimana gitu. Itu wajar. Dan pasti ada saat dimana kita bisa cepet ikhlasnya, dan dimana kita susah banget untuk ikhlas. Biasanya tergantung dari berharganya sesuatu yang hilang dari kita itu yang menyebabkan kita seperti itu.

Tapi ketika hati kita bisa sepenuhnya ikhlas, semua akan terasa lega. Ngga ada lagi kesedihan atau sakit hati. Ngga ada yang namanya rasa ingin memiliki yang sudah terlepas dari kita itu.

Ya, itulah seninya. Ada sakit, ada sedih, tapi ketika kita menaklukannya, akan ada kelegaan dan kebahagian yang lain.

Itulah, The Art of Letting Go.

Selamat Malam!

Wednesday, July 3, 2013

Ingkar

Setiap orang yang menerima janji, pasti mereka 100% menginginkan janji itu direalisasikan. Tapi tidak semua orang yang berjanji akan merealisasikan janji mereka itu. Inginpun tidak.

Sangat tidak adil, kan?

Mereka berjanji, tapi dengan sadar mereka mengingkari janji itu.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa "Janji itu hutang!", iya benar, janji itu hutang. Tapi ketika anda mengingkari janji itu sama saja hutang anda sudah anda bawa sampai mati. Karena biasnaya janji itu ada tenggang waktunya. Selain itu, ketika sudah ingkar, berarti janji itu pecah, dan tidak ada lagi.

Itulah sebabnya janji harus dipenuhi. Tunda mungkin masih masuk akal ya, tapi sekali diingkari, janji tersebut sudah tidak berlaku dan menjadi "hutang yang dibawa mati". Kenapa? Iya, karena anda belum melunasi hutang itu sampai hutang itu hilang. Ketika sudah tidak ada, dan anda berusaha untuk menepatinya, itu sudah terlambat.

Bukan mau bilang kalau menunda janji itu baik, tidak. Tapi ketika kita menunda janji yang tidak ada tenggang waktunya itu, janji kita masih berada dalam posisi. Tapi ketika kita ingkar, janji tersebut sudah mati.

Jadi, apa masih mau mengingkari janji?

Keluh

Dulu gue pikir curhat itu sama dengan mengeluh.

Jadi ketika gue samakan kedua hal tersebut, jadi banyaaaaaakk banget pertentangan disini. Ada yang bilang "Kalo ada masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri nanti gila", di lain pihak ada yang bilang "Kalo ngeluh itu berarti kualitas hidupnya rendah".

Jadi aneh kan? Serba salah. Semuanya bertolak belakang. Dimana keuntungan yang satu tapi kerugian untuk yang lain. Begitupun sebaliknya. Aneh. Kenapa yang harusnya sama dengan itu tapi kenyataannya sangat terbalik. Ada apa?

Ternyata presepsi gue tentang kedua hal itu salah. Salah besar. Setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata keluhan itu bukan curhat dan curhat itu bukan keluhan. Keluhan itu cerita tentang suatu kejadian di hidup kita yang kita ceritakan kepada orang lain. Keluhan itu menurut pengertian yang ada di KBBI, ungkapan kesusahan atau kesakitan. Itulah mengeluh. Tapi menurut gue sendiri, keluhan itu ngga akan ada tanpa kata "Aduh", "duh", "tapi kenapa....?" , "huh", dan sebagainya.

Mungkin ketika curhat, kita sempat mengeluh, tapi itu bukan bagian dari curhat. Kalo kata anak band, ada yang namanya intro, ada yang namanya check sound. Nah, si keluhan ini itu fase check sound, karena fase ini bukan masuk kedalam bagian lagu. Sebenernya ngga selalu keluhan ada di depan seperti check sound, tapi gue kasih perumpamaan itu biar bisa bedain seperti apa perbedaannya.

Jadi intinya, curhat itu ngga dilarang selama itu ngga membuat indikasi orang mengeluh. Saran gue sih lebih baik memperbanyak cerita ke teman yang kalian percaya, jangan ke semua orang, dan perkecil frekuensi mengeluh anda. Itu akan membuat hidup kita lebih bahagia dan berkualitas. Inget, ini saran loh, diikutin gapapa, ga diikutin juga gapapa. Hanya hasil pemikiran sendiri. Tanpa ada niat menggurui.

Selamat Malam!!

Saturday, June 29, 2013

Sekilas

Sekilas buat pembaca atau yang sekedar berkunjung...

Seperti yang gue bilang di postingan pertama gue, blog ini semata-mata hanya untuk berbagi pemikiran dengan orang lain. Ini hasil pemikiran sendiri.

Kalau ada kata-kata yang kurang pas, atau masih belum sempurna, atau salah sekalipun, mohon kritik dan sarannya dari teman-teman sekalian.

Oiya, gue juga mau bilang kalo misalkan ada banyak waktu silahkan baca postingan2 awal gue.. gue kasih linknya aja kali ya biar enak...


Menjadi Satu part. 1                                   KESALAHAN

Jalanin Dulu                                                  Kado

Sekolah berorientasi 0                             Pelangi

Harus Siap                                                      Kolam Susu

#respect                                                         Menjadi Satu part. 2

Bahasa Alam                                                 Baik itu Tidak Baik

Sekolah

Terima kasih buat semuanya ya..

God be with us!

Thursday, June 27, 2013

Pelangi

Gue suka banget sama filosofi pelangi. Iya, Sehabis hujan, timbul pelangi.

Bisa diartikan filosofi ini kayak gini:
Setelah tangis, pasti ada tawa, setelah sedih, pasti ada bahagia. Setelah yang buruk berakhir, pasti ada keindahan yang sangat.

Tapi kadang setelah hujan, pelangi itu ngga timbul. Malah matahari makin menyengat dan memanaskan sekeliling. Banyak yang sedih, sebel, ngga suka dengan adanya matahari sehabis hujan. Lebih bangga mereka ngeliat pelangi sehabis hujan ketimbang hanya melihat matahari dan tidak ada pelangi disana.

Coba pikir lagi deh. Pikir lebih matang lagi.

Kenapa kita sangat bahagia dan bersyukur hanya ketika pelangi muncul setelah hujan? Jika hanya matahari, kita biasa saja, malah ada yang cenderung bersungut-sungut karena pelangi itu tak kunjung datang.

Kalo sering gitu, coba deh kalian pikir, di renungkan. Kalo ga ada matahari, pelangi itu ngga akan ada. Udah pada belajar kan pelangi itu datengnya darimana? Iya, Pelangi itu dateng dari cahaya matahari yang dipantul dan dibiaskan ke langit oleh air hujan/bekas air hujan.

So, kalo ngga ada matahari, ngga ada pelangi. Jadi seharusnya kalo matahari yang timbul tanpa pelangi, kita harus bersyukur karena masih ada matahari. Pelangi itu cuman bonus.

Ya pesan dari postingan ini tersirat sih, cuman gue mau ngajakin buat bersyukur dalam segala hal. Even lo dalam "hujan" sekalipun, lo harus tetap bersyukur.

Gue mau ngutip quote dari guru SMA gue. Dia ngomong ini sebelum gue UN SMA. Dia ngomong gini:
"Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang".

Be Thankful!!!!

Good Night!

Jalanin Dulu

Gak tau kenapa interested banget pas nulis blog yang judulnya ini. Hahaha.

Selalu juga ketawa pas baca/ngeliat kata-kata ini. Jadi teringat tadi malem ngobrol sama temen-temen, bertukar pikiran lewat LINE messenger. Dan akhirnya nama grup kami pun di ganti menjadi "Korban 'Jalanin Dulu'"

Alkisah, kemarin malem gue sama temen gue lagi seru-serunya berbincang di LINE messenger. Kita lagi ngebahas tentang salah satu temen kita, yang juga ikut dalam perbincangan itu. Pokoknya dia punya suatu cerita dan kita semua bakal nanggepin ceritanya dia. Iya, tentang dirinya dia sendiri pastinya.

Nah, setelah lumayan lama dengerin ceritanya, mulai deh sati persatu orang yang ada dalam room percakapan itu kasih tanggapannya.

Cerita punya cerita, tiba-tiba temen gue yang jadi topik pembicaraan itu ngomong "Ya gue sih jalanin yang didepan gue aja....." Nah! Ini dia.. Dari sini dimulai topik tentang "Jalanin Dulu" atau yang lebih dikenal dengan "Jalanin Aja Dulu" atau yang lebih dikenal lagi dengan "Jalanin yang ada aja dulu".

Menurut gue kata-kata ini berasal dari rasa ketidakenakan seseorang untuk menolak orang yang sudah menembaknya. Dan kata-kata ini adalah kata-kata yang cuman dimiliki sama seorang wanita. Iya, wanita. Kalau ada pria yang ngomong omongan ini, katain aja banci. Karena pada dasarnya, pria sejati itu pria yang menjalani hubungan dengan keyakinan, bukan karena "Jalanin Dulu".

Karena cowo yang nembak kan? Jadi buat apa dia nembak cewe kalo dia ga yakin dengan cewe itu. Bukan yakin pasti diterima, tapi yakin dia bakal bisa jalanin hubungan yang serius dengan cewe itu. Jadi kalo misalkan ada, entah siapa, berkelamin pria, ngomong "Jalanin aja dulu", langsung aja katain banci.

Nah, sekarang giliran wanita. Wanita berhak ngomong kalimat ini karena mereka yang ditembak, bukan yang nembak. Kalo pun mereka nembak, itu berarti mereka mentalnya mental pria. MENTALNYA loh, bukan kelaminnya. hahaha.

Jadi sekarang, kalau anda wanita, coba pikirkan baik-baik jika anda akan mengeluarkan statement "Jalanin Dulu". Apa kalian ngga mikir perasaan cowo? Kalo menurut gue sendiri, mending gue ditolak daripada pacaran tapi dasar pacarannya "Jalanin Dulu". Ya iya lah, masa iya lo mau berhubungan dengan orang yang ga sayang sama lo? Ga punya rasa apa-apa sama lo?

"Tapikan, sayang itu datang karena terbiasa. Berarti bisa aja kan kita mulai tanpa sayang, dan nanti juga sayangnya itu muncul dengan sendirinya". Oke kalo ada yang punya pendapat seperti itu. Tapi coba pikir, itu kalo sayangnya dateng. Kalo sayangnya ngga dateng-dateng? Pasti akhirnya lo nyakitin cowo yang lo terima beradasarkan "Jalanin Dulu" ini kan? Nah, kalau emang sayangnya dateng, belom berarti itu pertanda bagus loh.

Kok ga bagus? Iya, soalnya kalian pasti akan telat nyadarnya dan memberikan perlakuan yang sangat standar kepada pasangan kalian itu dan ketika dia mulai begah dan jenuh diperlakukan seperti itu, dia mulai geram dan akhirnya dia minta putus. Barulah, disini lah kalian merasakan sayang yang luar biasa dan pasti rasa ke-tidak-mau-kehilangan-an yang besar. Sudah banyak orang yang merasakan ini.

Andai kalian menyadari anda sayang diawal, kalau kata teman saya, "hubungan yang dimulai dengan tidak baik, pasti akhirnya tidak akan baik". Kenapa gak baik? Ya iya lah. Apa salahnya minta waktu? Apa salahnya nunggu kalo perasaan itu muncul? Apa gunanya pdkt?

Cowo, kalo ditembak cewe, pasti dia tegas. Kalo dia suka, dia terima, kalo ngga ya ditolak. Inget, suka. Sekedar suka doang di terima. Karena cowo itu lebih mudah jatuh cinta dan cepet sayang ketimbang cewe. Kalo cewe suka cowo, itu ada 3 indikasi. Mereka mau berhubungan lebih jauh atau mereka hanya suka dan hanya mau jadi sekedar temen, atau mereka mau "Jalanin dulu".

Nah, buat cewe-cewe, coba deh kalo lo sempet mikir "Jalanin Dulu", mending lo ngeyakinin hati lo. Jangan cepet ngambil keputusan. Jangan biarin gengsi lo berkuasa penuh atas pikiran lo. Karena cewe itu jatoh karena gengsi. Ngga ada yang lain.

Ya, gue juga bingung buat bikin kesimpulan. Tapi, kalau mau melakukan sesuatu, coba deh dipikir baik-baik dulu. Jangan terlalu cepat sehingga dapat menyakiti oranglain, bahkan diri sendiri.

Selamat Senja!

Wednesday, June 26, 2013

Kesalahan - Revisi

Menurut banyak orang, menjadi orang ke-3 itu adalah kesalahan besar.

Menurut gue, orang ke-3 itu salah, tapi ngga sepenuhnya salah dia..

Coba, banyak kisah -- bahkan sampe ftv dan layar lebar -- itu menceritakan tentang sepasang kekasih. Dan mereka dapet cobaan yaitu orang ketiga. entah orang ke-3 itu cewe ato cowo. Dan pasti pasangan itu putus dan nyambernya ke orang ke-3 itu...

Kenapa orang ke-3 gue bilang ga sepenuhnya salah dia?

Sebetulnya, kalo kita teliti dari latarbelakang dan tujuan dia jadi orang ke-3, pasti dia itu adalah orang yang abis patah hati ato orang yang emg ga laku-laku dan berusaha untuk mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Salahnya dimana? Caranya salah. Dia cari kebahagiaan dengan cara yang salah. Dia tau orang ini udah punya hubungan dengan orang lain, tapi dia tetep masih usaha. Setidaknya kenapa dia ngga nyari yang jomblo aja? Kenapa harus sama yang udah punya pasangan?

Terus, kenapa ga sepenuhnya salah dia?

Coba gue kasih ilustrasi disini....

Jadi ada sepasang keturunan Adam *asik* menjalin hubungan mesra.. Nah, usut punya usut, si cowo ini punya kenalan. Kenalannya ini baru putus lah yakan. Waktu semester baru, ternyata mereka berdua sekelas. Makin deket lah hubungan antara cowo ini dengan kenalannya itu. Dari bbm nanyain tugas, sampe terbawa suasana dan akhirnya jadi nanya kegiatan, sampe saling memperhatikan satu sama lain.

Ya namanya cowo, hatinya ngga akan kemana-mana kalo udah dapet cewe yang "klik" sama dia. Sedangkan kenalannya ini, di hatinya udh timbul benih-benih cinta *azeeek*. Itu juga gak nyangka bakal dapet perasaan itu. Namanya wanita, bisa karena terbiasa. Mereka akan mudah melupakan seseorang kalo udah dapet perlakuan yang sama dari orang lain.

Setelahnya, beberapa bulan hubungan mereka semakin dekat. Entah si cewe ini dianter pulang lah abis nongkrong sama temen sekelas sama cowo ini, makan bareng lah.

Nah, gak usah terlalu panjang lah ceritanya. Sampe sini aja kita bisa nyimpulin, kalo misalkan cowo itu ngga ngeladenin kenalannya ini, mungkin kenalannya ga akan suka sama dia. Mungkin cewenya bisa suka, tapi sekedar suka mungkin karena dia asik ato gmn. Tapi karena ada "bumbu tambahan" dari cowo itu, akhirnya muncul lah perasaan terlarang.

Jadi, apa semua itu salah orang ke-3? Apa salah dia sehingga dia bisa suka sama cowo itu? Ngga kan?

Ini juga bisa terjadi sebaliknya. Maksudnya, cewenya yang ngasih harapan ke cowo jomblo..

Orang ke-3 itu seperti tamu. Dia datang, kalau dibukakan pintu dan disuruh masuk, dia akan masuk. Tapi kalau yang punya rumah suruh dia pergi, dia jg akan pergi dengan sendirinya.

So, don't blame the 3rd people with your own thoughts if you don't know what happening between them.

Selamat malam!