Tuesday, August 27, 2013

Serakah

"Bumi ini cukup untuk kebutuhan manusia, tapi tidak untuk keserakahan manusia"
- Mahatma Gandhi

Apa yang kita tau tentang Indonesia ini belum cukup untuk mengetahui apa yang terjadi di negeri ini. Iya, itu pemikiran gue beberapa menit yang lalu. Indonesia sangat luas. Terlalu luas untuk diketahui dan dimengerti. Terlalu besar untuk dijelajahi. Terlalu mudah untuk menutupi misteri.

Mungkin semua orang tau apa yang ada di Jakarta. Banjir, Jokowi, macet, Tanah Abang, H. Lulung, MRT, dan lain sebagainya. Tapi apa yang kita tau diluar Jakarta ini? Mungkin kalau ada berita kecelakaan, pembunuhan, pencurian, dan kriminal yang lain, pasti akan ditelanjangi di media.

Mungkin kalau ada berita tentang perpecahan, bencana alam, dan lainlain juga pasti akan dibuka di media. Belakangan ini juga tidak jarang media yang mempertontonkan keindahan Indonesia yang sangat kaya ini.

Semua itu tidak salah. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan. Kenapa? Karena tugas media adalah untuk mencari berita yang disukai oleh masyarakat. Iya, 80% masyarakat Jakarta, dan selebihnya terserah media mau ambil presentase darimana.

Dan anehnya, masyarakat kita suka dengan apa yang ada di media sekarang. Padahal kalau kita liat, beritanya hanya itu itu saja... Tidak ada yang lain. Setiap hari beritanya hanya perkembangan dari berita kemarin dan kemarinnya lagi.

Apa ada berita "PT. xxxxx baru saja menebang 62.000 pohon karet di Kalimantan. Kayunya dijual dan tanahnya dijadikan lahan sawit"? Ada? Kalaupun ada, itu pasti televisi swasta milik suatu partai yang tidak ada dalam pemerintahan dan akan bersaing di pemilu selanjutnya serta tidak dibayar oleh perusahaan yang sedang diberitakan itu.

Apa ada berita "Perusahaan yyyyyy baru saja membuka 100 kilang minyak di laut jawa" dan diakhir berita diberitakan juga kebaikan dan keburukan dari membuka kilang minyak di lepas pantai?

Ada? Saya kira tidak.

Apa ada presenter berita di semua stasiun televisi yang pernah berbicara kalimat "hutan kecil ditengah ladang sawit yang luas"?

Coba kita terla'ah baikbaik deh video dibawah ini...


Ini video tentang kampanye band indie yang berasal dari bali, Navicula. Mereka masuk dalam komunitas Greenpeace untuk berusaha menyelamatkan alam Indonesia.

Kalau gue pikir, kenapa ya di Kalimantan, Aceh, Jawa tengah, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan hampir seluruh penjuru Indonesia, orang "bule" lebih peduli dengan alam dan tradisi kita ketimbang orang lokal?

Apa mungkin karena kita tidak diajari kesenian lokal sehingga kita kurang peduli terhadap kesenian kita? Apa kita tidak diajari PPKn sehingga kita tidak pinya rasa cinta terhadap alam kita? Menurut gue, rasa Nasionalisme itu bukan hanya cinta terhadap negara ini. Tidak hanya cinta kepada kekayaan alam negeri ini. Tidak hanya ingin melawan orang yang merusak nama Indonesia. Tapi juga orang yang peduli dengan alam negeri ini.

Jarang pasti yang tau kalau alam negeri ini sedang digerogoti. Bukan dari luar, tapi dari dalam. Seperti rayap yang menggerogoti kayu, seperti itu juga lah para penguasaha menggerogoti alam yang indah ini.

Buka tambang dimana-mana, setelah selesai tidak ditutup kembali. Tebang pohon, buka hutan untuk dijadikan kebun sawit. Buka kilang minyak di lepas pantai banyak-banyak untuk meraup keuntungan besar tetapi tidak memperhatikan kelangsungan hidup ikan.

Ngga salah buka kilang minyak. Ngga salah menambang kekayaan alam. Ngga salah bikin kebun sawit. Tapi coba, bikin kilang minyak jangan mengotori lingkungan laut. Tutup kembali tambang jika sudah habis yang mau ditambang dengan pepohonan yang sebelumnya ditebang. Dan jangan membuka lahan di tengah hutan!

Anda tau Indonesia ini luas. Indonesia tanahnya subur. Indonesia punya segalanya. Jangan hanya karena serakah, lalu membuka hutan dan dijadikan ladang sawit yang luas.

Hutan Indonesia ini sumber oksigen terbesar di dunia. Lebih dari Amazon.

Mungkin karena hukum sudah tidak berdiri dengan tegak, hingga para penguasaha bisa menang melawan pemuka adat yang malah ditangkap dan dipenjara lantaran mempertahankan tanah dan hutan milik pusaka nenek moyangnya untuk dijadikan kebun sawit..

Jangankan Kalimantan, Papua, atau manapun, Bali, yang adalah permatanya Indonesia, sumber devisa terbesar negara ini dibidang pariwisata, malah diserahkan kepada para investor yang ngga jelas darimana dan malah akan membuat Bali itu hancur ditangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Coba deh searching di Google atau dimanapun apa yang sebenernya terjadi dengan Indonesia. Mungkin masih banyak yang gue belum ketahui, dan itu patut untuk kita mencari tau nya.

Apa kita akan membantu menghancurkan bumi kita sendiri? Atau melawan para "binatang" yang tidak punya perasaan itu?

Mungkin gue disini baru bergerak dengan tulisan. Tapi akan menjadi besar kemudian. Dan gue berharap siapapun yang baca tulisan ini, yang bisa langsung bergerak lebih jauh, silahkan mulai langkah anda dari sekarang.

Untuk menutup postingan ini, gue mau mengutip quote yang ada di video tadi

"Only when the last tree has been cut down; Only when the last river has been poisoned; Only when the last fish has caught; Only than will we find that money can't be eaten."
                                                                                                                    - Pepatah Orang Amerika

Friday, August 16, 2013

Terima Kasih.

Hari ini, 17 Agustus 2013. Saya, Evan Semuel Hizkia Kano, mau bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Semesta Langit yang dengan kasihnya telah melahirkan saya di Tanah Yang Kaya ini.

Saya bersyukur, untuk kesempatan yang diberikan Tuhan, Pencipta Alam Semesta ini, kepada saya untuk menjadi bagian dari Tanah Yang Berlimpah Susu dan Madunya.

Saya bersyukur, untuk kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Mahaadil untuk menjadi pejuang untuk negeri yang sangat patut untuk diperjuangkan sampai akhir hayat ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakasih, karena saya bisa menjadi pembawa kasih bagi bangsa yang berdiri diatas keragaman yang sangat beragam.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakaya, Karena saya adalah pewaris Kerajaan-Nya sekaligus pewaris negeri yang dicintai semua bangsa ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan, Yang Mahakudus, karena sudah diberikan anugerah untuk hidup di tanah yang, banyak orang bilang, adalah "Surga Dunia".

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, karena telah menjadi perpanjangan tangan Tuhan, untuk membuat Indonesia ini menjadi bangsa yang merdeka.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang rela mati demi kebebasan saya dan semua keturunan-keturunan saya kelak.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang tidak takut membela tanah ini sampai akhir hayat mereka.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang telah memberikan contoh bagaimana hidup saling bertoleransi dan mengasihi ataragama, atarsuku, antargolongan, antaraliran, antarras.

Saya berterima kasih, kepada para pahlawan, yang dengan gigih mengusir penjajah walau hanya dengan bambu runcing dan batu.

Saya berterima kasih, kepada para pendahulu, yang sudah membangun Indonesia sampai bisa seperti saat ini.

Saya berterima kasih, kepada semua yang berjuang demi bangsa ini, demi mewujudkan cita-cita dan takdir bangsa ini, untuk bersatu dan menjadi satu.

Saya berterima kasih, kepada para penjajah, yang telah menjajah kami, sehingga kami dapat menemukan cara untuk menjadi satu, satu bahasa, satu bangsa, satu tanah air.

Saya berterima kasih, kepada para "pahlawan", yang masih terus mengukir cantik nama Indonesia di dahi dunia. Pahlawan pendidikan, pahlawan olahraga, pahlawan akademik, pahlawan seni, pahlawan kemanusiaan, pahlawan eksakta, beserta pahlawan-pahlawan dibidang lainnya.

Saya, Evan Semuel Hizkia Kano,

Saya berjanji, untuk selalu membawa nama baik bangsa ini, sampai pada akhir hayat saya.

Saya berjanji, untuk menjaga nama baik tanah ini, sampai pada kesudahan zaman.

Saya berjanji, untuk membela bangsa ini dengan segenap jiwa dan raga saya.

Saya berjanji, untuk selalu berusaha mengharumkan nama bangsa ini, sampai mata ini menutup dan tidak akan terbuka lagi.

Saya berjanji, akan selalu mencintai Tanah Air saya ini, sampai saya mati.

Saya berjanji, akan selalu memelihara toleransi di dalam berbangsa.

Saya berjanji untuk selalu memperjuangkan keadilan untuk Tanah Air saya, dari Ujung Sabang sampai ke Ujung Merauke. Dari Ujung Pulau Miangas sampai Ujung Pulau Rote

Dirgahayu Indonesia! Saya cinta, dan selalu cinta, kepada negeri yang berlimpah susu dan madunya ini, negeri yang kaya akan budaya, alam, dan pengetahuannya. Negeri yang akan menjadi tempat saya berlindung di hari tua. Negeri yang mempunyai segalanya. Negeri yang selalu dipandang oleh dunia.

God bless INDONESIA and INDONESIAN!

Merdeka!!

Thursday, August 15, 2013

Tanah Yang Kaya

Papua, negeri di timur Indonesia. Alam yang bersahabat, etnis yang masih terjaga, negeri yang indah, tanah yang kaya.

Suatu hari gue ada di Kementrian Luar Negeri. Disana gue lagi ngurus exit permit untuk kakak sepupu gue yang mau berangkat ke Korea Selatan buat nerusin sekolah disana. Waktu itu bener-bener sendirian. Panas. Dan loket untuk urusan keluar negeri itu lagi tutup istirahat.

Tadinya gue mau ke ragussa aja, karena udah panas pula, dan loketnya baru buka dua jam lagi. Iya, gue sampe sana pas banget jam 12 siang. Cuman, berhubung gue udah ketemu tempat adem untuk duduk dan itu dibawah pohon pula, gue akhirnya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan tempat itu.

Di dekat gue, ada beberapa orang bapak dan ibu yang menunggu bukanya loket tersebut. Sekitar 15 menit gue duduk disitu, tiba-tiba ada 2 orang paruh baya berkulit hitam lekat, berambut kriting, berpakaian rapi, menghampiri gue dan beberapa bapak dan ibu yang ada di dekat gue.

"Maaf mas, itu loketnya kenapa tidak dibuka ya?", tanya salah satu bapak yang datang itu.

"Iya katanya lagi istirahat pak, bukanya nanti jam 2an.", jawab gue gelagapan karena daritadi ngeliatin mereka berdua dengan tatapan curiga.

"Oh gitu ya mas? Oke makasih ya mas", dan mereka pergi gatau kemana.

Singkat cerita, gue lagi nunggu exit permit kakak sepupu gue diproses, karena yang tanda-tangan exit permit itu lagi ada rapat dengan Bapak Marti Natalegawa(maaf kalo salah tulis, -Red). Lagi nunggu, tiba-tiba bapak-bapak yang tadi nanya ke gue masuk berdua, nyerahin paspor ke loket untuk di proses, dan akhirnya dia duduk dia bangku dari gue. Mereka ngga ngobrol.

Selang satu menit, ada bapak-bapak lain, duduk pas di sebelah gue. Dan bapak itu ngobrol dengan bapak-bapak yang gue bilang tadi.

"Sebetulnya pak, orang papua itu maunya sama NKRI. Cuman, kenapa mereka mau merdeka? Karena mereka bingung, kenapa yang lain dibangun, tapi papua sama sekali tidak ada pembangunan yang berarti?", kata bapak yang nanya ke gue tadi.

"Kami pisah dari NKRI, kami merdeka sendiri, kami bisa membangun papua sendiri, tanpa ikut campur tangan orang lain. Tanpa harus mengurus birokrasi-birokrasi yang lain. Kami kaya, keluar rumah saja, kalau anak kami gali tanah pakai sendok, sudah ada butiran-butiran emas disitu," lanjutnya.

"Jadi, sampai saat ini, kami masih bertahan dengan NKRI karena memang kami cinta kepada NKRI. Dulu, presiden Soekarno punya mimpi untuk menjadikan papua menjadi yang paling maju, karena kami punya harta terpendam disini. Ada space shuttle pertama Indonesia, bahkan di Asia yang mau dibangun beliau, di Papua. Tanahnya sampai sekarang masih ada.

Bung Karno juga yang mengambil kami dari tangan Belanda, karena mereka tau kami berharga. Tapi setelah beliau mangkat, kami seperti diasingkan bahkan di Jual ke Freeport. Kami bingung dengan pemikiran-pemikiran para pemimpin ini. Kita bisa membangun Indonesia bersama. Menjadi bangsa yang mandiri, yang maju. Liat Cina, bahkan negara tetangga kita Singapura. Mereka punya apa? Kita punya apa yang mereka punya tapi kita juga punya apa yang mereka tidak punya.

Masakkan kami harus melawan Freeport sendirian? Kami harus membela tanah ini sendirian? Apa kami masih bagian dari NKRI?". Semua terdiam. Gue melirik ke kanan dan kekiri, ternyata yang mendengar ini sudah hampir 10 orang di depan sama di belakang kami.

"Tuan Tritiya?", Suara itu terdengar dari arah loket. Dan gue pun langsung beranjak menuju loket untuk mengambil paspor kakak sepupu gue itu. Ketika selesai, gue balik badan, dan ternyata tempat duduk gue udah didudukin orang lain. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang.

Agak kesel sih karena tidak bisa berlama-lama mendengarkan cerita dari para cendikiawan asal papua itu.

Dan dari percakapan diatas, gue menemukan sesuatu. Hati Papua masih di NKRI. Dan akan terus di NKRI sampai akhir hayat.

Gue denger kemarin bahwa beberapa OPM(Organisasi Papua Merdeka) rela melucutkan senjata mereka ke TNI karena sudah ada pendekatan yang persuasif dari TNI dengan OPM. Lihat? Tidak perlu ada kekerasan, kan? Mereka masih mau NKRI.

Jadi, jangan siasiakan rasa nasionalisme mereka dengan memberikan tanah mereka kapada pihak asing. Karena mereka mau, tanah mereka, dikelola oleh bangsa mereka sendiri, dan untuk negara mereka sendiri, NKRI.

Serukan pemerataan pembangunan, untuk Papua.

Selamat siang.

Sunday, August 11, 2013

Jadi Garam, Jadi Terang

Gue rasa kita semua udah tau lah ya apa manfaatnya garam?

Mungkin hanya beberapa ya yang tau manfaatnya garam. Garam itu lumayan banyak manfaatnya. Salah satunya garam itu bisa mengeluarkan racun di dalam tubuh. Manfaat dari garam yang paling terlihat itu adalah jawaban dari "Kenapa anda memasukan garam ke dalam masakan anda?".

Pasti tujuannya untuk memberikan rasa. Bukan menambah rasa.

Ketika mati lampu, kita pasti otomatis akan menyalakan senter atau lilin atau handphone ataupun api.

Ketika kita menyalakan salah satu dari yang diatas, orang yang ada di sekitar kita pasti akan melihat ke arah kita dan ruangan dimana kita berada, langsung menjadi terang, meskipun sangat kecil cahaya yang kita nyalakan. 

Nah... Kita tau kan seperti apa dampak yang diberikan sama garam dan terang?

Sedikit garam dapat memberikan rasa di semangkuk sup hangat. Setitik cahaya diatas gunung bisa terlihat dari radius beberapa kilometer jauhnya.

Itulah tugas kita. Jadi garam, jadi terang. Kita harus memberikan dampak kepada orang-orang sekitar. Kita harus menjadi terang yang akan sangat terlihat di tengah kegelapan. Kita harus menjadi garam yang memberikan rasa di lingkungan kita.

Jangan sampai kita di dunia ini membuang siasia kesempatan untuk menjadi garam dan terang. Karena, ketika garam itu menjadi tawar, tidak bisa lagi dia diasinkan.

Berdampak. Itulah tujuan hidup kita. Berdampak, bukan berbeda.

Selamat Siang!

Saturday, August 10, 2013

Realistis

Masih menjadi perdebatan di otak gue sendiri, apa realistis itu membawa dampak baik, atau buruk?

Kadang, banyak dari kita, terutama pria, pasti lebih cenderung realistis dalam berpikir. Seperti ketika anda melihat seorang buta ingin menyeberang jalan. Kalau kita sedikit realistis, kita akan berpikir bahwa orang itu mustahil akan bisa selamat menyebrang tanpa bantuan orang lain, meskipun dia sudah berada di zebra cross.

Tapi tidak jarang kita melihat orang buta yang kerjanya sehari-hari berdagang kerupuk, dengan hebatnya mereka bisa berjalan menyeberangi jalan raya tanpa bantuan siapapun. Ajaib bukan?

Ada lagi contoh. Ketika kita tau bahwa manusia tidak bisa berbahasa hewan dan berbicara kepada hewan. Secara suara, beberapa hewan tidak bisa mendengar suara asli manusia. Karena frekuensi suara manusia hanya bisa didengar oleh beberapa binatang. Seperti anjing, dia hanya dapat mendengar bunyi infrasonik diantara 0-20Hz. Sedangkan suara manusia frekuensinya 20-20.000Hz. Jadi jika kita realistis, anjing tidak bisa mendengar suara manusia apa bila manusia berbicara seperti biasanya.

Tapi, kenapa anjing mengerti jika pemiliknya butuh? Bagaimana cara anjing mendengar suara pemiliknya ketika pemiliknya memanggilnya dengan suara yang biasa?

Aneh kan?

Tapi, kalaupun kita tidak realistis, pasti kita sangat ragu-ragu untuk memulai sesuatu. Karena itu hanya perkiraan, dan sangat tidak masuk diakal.

Jadi serba salah. Jika kita realistis, banyak hal di dunia ini yang sangat bertentangan dengan pikiran kita yang mencoba untuk realistis. Sedang, ketika kita mencoba untuk tidak realistis, pasti kita akan ragu untuk mengambil suatu keputusan.

Harus bagaimana?

Satu yang bisa gue dapet disini, kita tidak bisa memakai otak kita yang sangat realistis untuk memprediksi masa depan. Kita tidak dapat bisa memprediksi suatu hasil dengan berpikir realistis. Yang ada, nanti kita hanya bingung dengan asumsi "ini itu" yang ada di pikiran kita dan itu malah membuat kita stress, sakit, dan lainnya.

Tapi, kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan sesuatu yang real dengan pikiran kita yang realistis.

Bingung?

Gue juga bingung.

Jadi kita harus gimana?

Coba kita lebih bijak. Gimana kalau kita tidak selalu berasumsi? Apa lagi untuk menjadikan asumsi itu suatu realita yang hanya ada dalam otak kita, sedangkan belum terjadi di dunia nyata.

Coba jangan berasumsi apa-apa sebelum ada realitanya.

Ketika realita itu ada, dan kita harus memutuskan sesuatu, pertimbangkan realita itu 30%. Jangan berlebih. Karena, seperti yang ada diatas, ketika kita mencoba untuk berpegang pada kenyataan, ternyata masih banyak hal ajaib yang akan terjadi yang berlawanan dengan realita.

Tuhan itu ajaib, dan dunia ini punyaNya. Jadi, masih banyak hal ajaib yang akan terjadi di dunia ini.

Ketika kita berada pada jalan buntu, dan tembok yang sangat tinggi yang tidak bisa kita lewati, kita tau sudah tidak ada jalan lain selain mundur dan mecari jalan lain untuk menuju ketujuan kita. Tapi, bukan tidak mungkin akan ada keajaiban itu terjadi dan seketika itu juga temboknya roboh, kan?

Percaya aja, selama kita masih hidup di dunia ini, bakal ada keajaiban-keajaiban yang menanti selama kita percaya dan yakin kepada Sang Pencipta.

Terus gunanya realistis apa? Gak guna dong?

Pencipta itu pasti menjawab semua permintaan. Ada yang dikabulkan, ada yang tunggu, ada yang tidak. Realistis itu buat gue adalah untuk mempersiapkan diri kalau jawaban doa itu adalah tidak.

Selamat malam.

Friday, August 2, 2013

#PasangBendera

Ini salah satu hastag(tagar/tanda pagar) yang gue bikin sendiri. Tapi ngga tau deh apa udah ada yang bikin apa ngga, tapi jujur sumpah demi apapun gue belom pernah ketemu hastag itu sebelumnya.

Kenapa gue inisiatif buat bikin tagar ini?

Ini karena gue prihatin sama orang-orang sekeliling gue. Di sekitar rumah gue dan di jalan-jalan yang gue lewatin. 3 tahun belakangan ini, gue prihatin. Mungkin prihatinnya gue ini lebih prihatin dan prihatinnya Mr. Prihatin.

Kenapa? Karena di sekitar rumah gue semakin sedikit orang yang punya kesadaran untuk pasang bendera ketika menjelang hari kemerdekaan negara mereka sendiri. Semakin sedikit orang yang mempunyai inisiatif untuk memasang bendera di depan rumahnya H-17 dari hari kemerdekaan negara ini.

Dulu waktu gue kecil, gue paling suka kalo embak sama papa gue udah siapin bambu yang akan jadi tiang untuk Bendera Merah-Putih dan mencari Bendera Merah-Putih itu di dalam lemari. Seperti mau upacara.

Dulu waktu gue kecil, gue paling suka setiap tanggal 1 Agustus, pas gue keluar rumah(entah untuk ke sekolah atau main), gue udah liat banyak bendera merah putih di pagar/depan rumah orang-orang dan tetangga-tetangga gue.

Dulu waktu kecil, gue suka liat bendera-bendera plastik yang di pasang zig-zag di atas jalan-jalan komplek gue. Liat dekorasi merah putih yang indah di pos hansip di komplek gue.

Dulu waktu kecil, gue paling excited buat daftar berbagai macam lomba untuk memperingati hari kemerdekaan NKRI. Ketika beberapa kakak-kakak karang taruna RW dateng ke rumah buat data gue mau ikut lomba yang mana aja.

Tapi, tahun ke tahun, semua itu ilang.

Ngga ada lagi yang namanya lomba. Ngga ada lagi yang namanya bendera kecil dipasang di atas jalan komplek. Ngga ada lagi dekorasi 17an di poskamling. Ngga ada lagi bedera di tanggal 1 Agustus.

Ngga ngerti kenapa. Apa mungkin tradisi lama kelamaan akan dimakan ke-modern-an? Apa mungkin tradisi akan hilang ditelan zaman? Atau semua orang sudah pesimis dengan negara ini? Dengan bangsa nya? Dengan alamnya? Sampai semua itu hilang. Poof.

Aneh. Ini aneh banget. Hanya dalam beberapa tahun itu udah ngga ada lagi. Malah yang lebih parah, waktu 17 Agustus aja ada yang ngga pasang bendera. Ini gue ngga ngerti apa dia foreigner ato dia....... Entahlah mau disebut apa.

Gue selalu pake metode yang dilakukan sama mama gue, kalo berasumsi, asumsi yang positif. Jadi waktu gue liat ada yang ngga pasang bendera, pasti pikiran gue negatif(karena negatif itu selalu datang duluan), tapi ketika gue coba untuk positif, gue mengasumsikan kalau mereka mungkin tidak punya bendera dan tidak punya uang untuk membeli bendera. Atau mungkin bendera mereka sudah lusuh sehingga malu untuk mengibarkannya di depan orang lain.

Buat teman-teman, orang-orang, yang tidak punya uang untuk membeli bendera, bendera itu gak mahal-mahal amat kok. Jauh lebih murah dari harga makanan anda seharian. Ga punya tiang? Pake apa aja yang bisa digunakan untuk mengibarkan bendera anda.

Bendera lusuh? Jangan malu! Pejuang kita berjuang dengan pakaian compang-camping, muka kotor, dan hanya dengan bambu runcing. Mereka tidak malu dan tidak minder melihat musuh yang dengan peralatan canggih menggempur mereka. Sekarang sudah tidak ada musuh, yang akan melihat bendera lusuh itu hanya saudara sebangsa kita. Untuk apa malu? Mereka juga belum tentu punya kemauan besar seperti anda untuk mengibarkan Bendera Merah-Putih yang sangat bagus yang mereka punya dan tidak lusuh sama sekali.

Untuk apa nyawa pahlawan jika saat hari kemerdekaan negeri ini tidak diperingati secara meriah dan besar-besaran oleh rakyat negeri ini yang otomatis adalah penerus pergerakan mereka saat ini? Apa kita sudah lupa pada mereka? Pernah membayangkan jika mereka semua tidak ada? Anda masih menjadi orang-rantai, orang-orang yang dipaksa untuk kerja rodi. Orang-orang yang disiksa entah apa alasannya padahal kita sudah lelah menjalankan kerja paksa. Tanah yang adalah milik anda, dikuasai orang lain, tanpa pajak untuk anda, tanpa imbalan untuk anda, dan hasil dari tanah itu menjadi milik mereka juga.

Kerja paksa (Romusha), zaman pendudukan Jepang
Buat yang masih pesimis terhadap negara ini, kalian bisa merubah negara ini. Dengan memberi dampak nasionalisme untuk orang lain, kalian sudah membantu untuk mengubah negeri ini. Mungkin susah untuk optimis dengan negara yang carut-marut ini, tapi ketika anda mau mencintai negeri ini, apa adanya, bukan ada apanya, disitu nasionalisme tumbuh, berakar, dan berbuah lebat dan anda bisa memberi dampak bagi orang lain untuk mempunyai kecintaan lebih terhadap Indonesia. Dengan banyak yang terdampak, negeri ini pelan-pelan akan berubah kearah yang lebih baik.

Mengutip kalimat gue di postingan Kolam Susu, INDONESIA ada untuk dicintai, bukan hanya dicintai oleh penduduknya, tapi dicintai oleh dunia ini. Jadi, gimana dunia mau mencintai INDONESIA kalau rakyat negeri ini tidak cinta pada negerinya sendiri?

Ayo, kita #PasangBendera minimal H-7 menuju Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini. Dan #MenolakLupa untuk seluruh pahlawan yang sudah berjuang membebaskan negeri ini dari segala bentuk penjajahan.

Merdeka!