Masih menjadi perdebatan di otak gue sendiri, apa realistis itu membawa dampak baik, atau buruk?
Kadang, banyak dari kita, terutama pria, pasti lebih cenderung realistis dalam berpikir. Seperti ketika anda melihat seorang buta ingin menyeberang jalan. Kalau kita sedikit realistis, kita akan berpikir bahwa orang itu mustahil akan bisa selamat menyebrang tanpa bantuan orang lain, meskipun dia sudah berada di zebra cross.
Tapi tidak jarang kita melihat orang buta yang kerjanya sehari-hari berdagang kerupuk, dengan hebatnya mereka bisa berjalan menyeberangi jalan raya tanpa bantuan siapapun. Ajaib bukan?
Ada lagi contoh. Ketika kita tau bahwa manusia tidak bisa berbahasa hewan dan berbicara kepada hewan. Secara suara, beberapa hewan tidak bisa mendengar suara asli manusia. Karena frekuensi suara manusia hanya bisa didengar oleh beberapa binatang. Seperti anjing, dia hanya dapat mendengar bunyi infrasonik diantara 0-20Hz. Sedangkan suara manusia frekuensinya 20-20.000Hz. Jadi jika kita realistis, anjing tidak bisa mendengar suara manusia apa bila manusia berbicara seperti biasanya.
Tapi, kenapa anjing mengerti jika pemiliknya butuh? Bagaimana cara anjing mendengar suara pemiliknya ketika pemiliknya memanggilnya dengan suara yang biasa?
Aneh kan?
Tapi, kalaupun kita tidak realistis, pasti kita sangat ragu-ragu untuk memulai sesuatu. Karena itu hanya perkiraan, dan sangat tidak masuk diakal.
Jadi serba salah. Jika kita realistis, banyak hal di dunia ini yang sangat bertentangan dengan pikiran kita yang mencoba untuk realistis. Sedang, ketika kita mencoba untuk tidak realistis, pasti kita akan ragu untuk mengambil suatu keputusan.
Harus bagaimana?
Satu yang bisa gue dapet disini, kita tidak bisa memakai otak kita yang sangat realistis untuk memprediksi masa depan. Kita tidak dapat bisa memprediksi suatu hasil dengan berpikir realistis. Yang ada, nanti kita hanya bingung dengan asumsi "ini itu" yang ada di pikiran kita dan itu malah membuat kita stress, sakit, dan lainnya.
Tapi, kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan sesuatu yang real dengan pikiran kita yang realistis.
Bingung?
Gue juga bingung.
Jadi kita harus gimana?
Coba kita lebih bijak. Gimana kalau kita tidak selalu berasumsi? Apa lagi untuk menjadikan asumsi itu suatu realita yang hanya ada dalam otak kita, sedangkan belum terjadi di dunia nyata.
Coba jangan berasumsi apa-apa sebelum ada realitanya.
Ketika realita itu ada, dan kita harus memutuskan sesuatu, pertimbangkan realita itu 30%. Jangan berlebih. Karena, seperti yang ada diatas, ketika kita mencoba untuk berpegang pada kenyataan, ternyata masih banyak hal ajaib yang akan terjadi yang berlawanan dengan realita.
Tuhan itu ajaib, dan dunia ini punyaNya. Jadi, masih banyak hal ajaib yang akan terjadi di dunia ini.
Ketika kita berada pada jalan buntu, dan tembok yang sangat tinggi yang tidak bisa kita lewati, kita tau sudah tidak ada jalan lain selain mundur dan mecari jalan lain untuk menuju ketujuan kita. Tapi, bukan tidak mungkin akan ada keajaiban itu terjadi dan seketika itu juga temboknya roboh, kan?
Percaya aja, selama kita masih hidup di dunia ini, bakal ada keajaiban-keajaiban yang menanti selama kita percaya dan yakin kepada Sang Pencipta.
Terus gunanya realistis apa? Gak guna dong?
Pencipta itu pasti menjawab semua permintaan. Ada yang dikabulkan, ada yang tunggu, ada yang tidak. Realistis itu buat gue adalah untuk mempersiapkan diri kalau jawaban doa itu adalah tidak.
Selamat malam.
No comments:
Post a Comment