Wednesday, May 22, 2013

Baik itu Tidak Baik

Sering terlintas di benak saya tentang "Mengapa harus menjadi baik? Toh kalau kita baik, feedback dari baik itu sendiri belum tentu kita dapetin kan?".

Bukan tanpa alasan otak saya mengeluarkan statement seperti ini. Memang, hampir dititik jenuh untuk menjadi baik. Hati dan otak pun sepakat dalam hal ini.

Mungkin dengan berbuat baik bagi orang lain malah menjadi tidak baik bagi diri sendiri. Bukan maksud untuk egois, kadang kita juga harus memikirkan otak, tenaga dan perasaan kita, bukan?

Setiap apa yang saya temukan dalam hidup ini, itu akan menjadi teori yang terus tertulis di dalam buku cetak kehidupan saya. Ya, itulah saya.

Tapi suatu saat saya tergugah setelah menonton sebuah video... Ya, video yang aneh tapi bisa menghapus teori yang sudah ada dalam buku cetak kehidupan saya.

Dalam video itu, ada seorang pembantu. Dia tinggal bersama dua orang sahabat sejak kecil. Pembantu ini sudah cukup lama tinggal dirumah itu.

Suatu hari, teman pembantu ini memberikan pesan kepadanya kalau ada pekerjaan sebagai pembantu diluar negeri dan dia harus meninggalkan pekerjaannya sekarang.

Dia pun berpikir kalau kedua sahabat ini mungkin sudah tidak membutuhkannya lagi. Tidak membutuhkan tenaganya, bantuannya lagi.

Bukan tidak ada alasan dia berpikiran seperti itu. Itu karena banyak peristiwa-peristiwa yang membuat dia merasa tidak lagi dibutuhkan oleh kedua sahabat tersebut.

Sampai suatu saat dimana dia akan membersihkan semua ruangan di dalam rumah itu, dia menemukan sebuah album foto yang bertuliskan "Sahabat dan Lain-lain" di depannya.

Dan ketika perlahan membuka, dia melihat fotonya ada di dalam album itu. Secara implisit itu mengartikan kedua sahabat itu menganggap dia sudah menjadi bagian dalam persahabatan mereka.

Dari situ, dia mulai memutuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah itu.

Mungkin ini udah tidak asing ya, apa lagi untuk para ABG jaman sekarang, pasti tau lah itu penggalan video apa.

Dari video itu saya mendapat satu kalimat, yaitu
"Kita tidak harus tau orang lain butuh kita atau tidak, tapi yang penting kita ada untuk mereka."- Raditya Dika

Ya, kalimat itu yang bisa menghapus teori saya tentang kebaikan. Mungkin saya baru melihat kebaikan itu dari sudut pandang gelap, dan saya belum tau seterang apakah kebaikan itu yang sebenarnya.

Yang saya tau, setiap keyakinan, setiap agama, setiap orang tua, setiap orang pasti mengajarkan orang lain tentang kebaikan, walaupun hanya sedikit.

Saya akan menutup posting ini dengan satu ayat yang ada di Alkitab, sesuai dengan agama saya, itu berbunyi:

 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak mejadi lemah."-Galatia  6:9 
  

Kado

Minggu lalu tepatnya, di kampus gue ada program yang namanya mandatory. Itu semacam acara keagamaan. Semester pertama sih pernah ada acara persisi seperti itu, cuma kurang tau kalo semester selanjutnya masih ada apa khusus tahun pertama aja.

Di mandatory kali ini, tema untuk semua agama/kepercayaan sama, yaitu tentang "Ecospiritualisme". Apa itu? Itu semacam bagian pembelajaran dalam matkul Character Building: Spiritual Development yang membahas tentang hubungan antara spritualitas manusia dengan lingkungan sekitarnya, yang bisa juga disebut alam.

Nah, karena gue ini agama Kristen Protestan, gue ikutlah yakan ke mandatory nya khusus untuk agama Kristen Protestan. Setelah gue masuk, gue tau itu pasti ibadah dulu. Dan selalu ibadah itu pasti ada nyanyian pujian/penyembahan. Dan setelah semua itu, pasti masuk kedalam pembacaan Firman Tuhan. Nah, Firman yang dibaca waktu itu adalah dari Kejadian 1. Semua isi Kejadian 1 kita baca bergantian. Buat yang ngga ngerti, Kejadian 1 itu isinya tentang penciptaan dunia dan segala isinya.

Mungkin singkat aja ya, kalo mau liat isinya, ada kok alkitab online Disini.

Dan setelah kita semua selesai baca, ada satu kakak pembimbing, dia jelasin semua tentang Ecospiritualitas.

Abis itu, kita semua dibuat beberapa kelompok untuk sharing sekaligus permainan.

Sharing itu gue ketemu beberapa pertanyaan yang menarik, seperti "Siapakah Anda di mata Allah?", "Apa yang harusnya orang pada zaman sekarang lakukan ketika melihat alam yang seperti sekarang ini?", begitulah kira-kira isi dari pertanyaannya. Dari semua pertanyaan yang jumlahnya ada 6 kalo gak salah (itu karena kertasnya gue lupa bawa pulang), semuanya menarik untuk diolah di otak ini.

Karena gue bukan orang dengan tipe pendengar pendapat yang baik, waktu kita sharing kelompok, ada aja jawaban-jawaban dari orang lain yang mau gue cela. Cuman bukan berarti semuanya gue mau cela, ada beberapa jawaban dari mereka juga yang pas ngena bgt sama gue dan itu gue jadiin pelajaran.

Nah, abis sharing itu tiba-tiba belum ada pikiran untuk mengolah lagi hasil sharing yang ada di dalam otak. Mungkin itu pengaruh karena kita semua abis itu langsung game. Nah, waktu abis game, kita baru dikasih tau untuk kasih kesimpulan ttg apa yang tadi di-sharing-kan sama kelompoknya. Nah, disitu kelompok gue bingung buat nentuin siapa yang bakal kasih kesimpulan. Dan ditengah kepanikan itu gue mulai berpikir "Kalau seandainya moderator kelompok gue nunjuk gue, gue kudu jawab apa???". Ketika otak terus menerus bertanya seperti itu pada diri gue, ketika itu juga ada sesuatu yg terbesit diotak. Itu menurut gue aneh, karena sama sekali ngga mikir jawaban, dan itu gue yakin itu datengnya bukan dari pikiran gue.

Waktu moderator gue itu dengan wajahnya yang melas itu ngomong "ayodong siapa yang mau maju kasih kesimpulan??" -- dan ini kondisinya dia udh berkali-kali nanya dan tetep ga ada yang mau -- akhirnya karena gue ngerasa ada dorongan entah darimana timbul pede segede itu yg gak biasanya gue dapet wkt gue lomba bahasa inggris dulu, gue ngomong "yaudah kak, gue aja yg maju." tersenyumlah moderator gue itu dengan lebarnya.

Kondisinya, kelompok gue ini kelompok yg terakhir maju karena pas yel-yel, kelompok gue paling awal majunya. Majulah perwakilan dari kelompok-kelompok lain yang tujuannya mungkin berbeda-beda. Tapi entah otak gue yang jahat atau gimana, gue nangkep kalo mereka mau show off dengan sok-sok khotbah di depan situ. Mereka jelasin panjang-panjang sampe buka-buka alkitab karena ada ayatnya.

Giliran gue dateng juga. Tanpa basa-basi dengan pede yg tinggi gue maju. Biasanya gue agak tegang kalo ngomong depan umum. Tapi gak ngerti kekuatan darimana yang bisa ngasih gue pede yg gede bgt itu. pas gue dikasih mic itu, gue langsung ngomong. Gini omongannya:

"Kesimpulan dari kelompok kami itu simple, coba kita bayangin kita ngasih suatu kado buat sahabat yang deket banget sama kita, kado yang bagus, mahal, pecah-belah, dan kita tau itu pasti kesukaan dia. Dan ketika kita kasih itu ke dia, tanpa mikir apa-apa dia langsung banting kado itu ke tanah dan pecah sampe keluar dari dalem bungkus kadonya. Gimana rasanya? Perasaan itu perasaan yang sama ketika kita ngerusak "KADO" terindah yang Tuhan kasih ke kita di depan mata kepala-Nya langsung. So, apa kita mau terus ngerusak alam ini di depan mata kepala-Nya Tuhan? "

dan dengan pertanyaan itu, gue langsung kasih micnya ke pembinanya dan orang-orang di ruangan itu langsung diem.

Disini gue cuman mau bilang:
  1. Pede yang gue dapet itu pastinya dari Tuhan, bukan dari siapa-siapa lagi,
  2. Statement gue itu bukan otak gue yg pikir, tapi Tuhan yang kasih. karena gue ngga ngerasa mikir sama sekali tau tau ada aja kalimat itu diotak gue,
  3.  Kalo kita bisa menghargai "Kado" manusia, kenapa kita ngga bisa menghargai pemberian Tuhan yang super indah ini?

Thursday, May 16, 2013

Sekolah berorientasi 0

Sebetulnya udah lama banget punya pemikiran ini. Tapi berhubung baru aja punya blog, ya jadi baru bisa di posting deh. Ini sebenernya juga karena gua beberapa hari yang lalu denger soundcloud nya om dedy corbuzier yang disana dia cerita tentang sekolah. link nya ada disini. 

Nah kalo kalian sudah dengar pernyataan dari master mentalist Indonesia tersebut, apa tanggapan kalian? Pastinya kalian jadi punya pikiran "ah sekolah itu gak guna!", atau mungkin "buat apa sekolah kalo belajar apa yang bukan jadi passion kita?". Dari pertanyaan-pertanyaan diatas pasti timbul pemikiran kalo master corbuzier pasti mau menghasut buat males sekolah dan lain sebagainya. Tapi kalo menurut gue disini dia cuman mau buka pikiran kita tentang fakta yang ada di dunia saat ini.

Emang bener kalo kita cari sekarang di Google.com atau di search engine yang lain pasti kita bakal nemuin fakta bahwa lulusan S1 tiap tahunnya akan bertambah dan bertambah terus terusan. Gak akan berenti. Dan kita mulai berpikiran kalau kita kuliah udah ga akan guna lagi, sekolah udah ga ada gunanya 12 tahun. Tapi disini coba gue kasih fakta yang menarik.
Tweet di Hari Pendidikan Nasional

Di Amerika Serikat(USA), rata-rata orang baru bisa membaca dan menulis itu sekitar kelas 3-4 SD. Sedangkan pendidikan Indonesia mewajibkan anak kelas 2 SD harus sudah bisa perkalian 1-10. Ajaib! Alangkah majunya anak-anak Indonesia jika dibandingkan dengan anak-anak yang ada di USA sana kan?

Biar tambah sadar, sebelum kita semua TK, pasti 50% dari anak yang lahir pada tahun 1998 ke atas pasti bisa membaca. Ini di Indonesia loh ya. At least, anak Indonesia bisa belajar dari berbagai sumber buku maupun media dengan usia rata-rata 3,5 tahun. Anak-anak Indonesia sudah memperoleh banyak sekali informasi dari mata dan telinganya. itu artinya, kita jauh sekali di depan USA dan beberapa negara maju lainnya. 

Tapi coba kita liat sekali lagi, terlalu banyak lulusan S1 Indonesia yang hanya bisa bekerja sebagai teller bank, akuntan, ahli komputer, sekretaris, bagian administrasi perusahaan, dan lainnya. Kenapa? Kenapa Indonesia cuman mentingin sektor ekonomi, ekonomi, ekonomi aja. Disini maksud gue yang berhubungan dengan angka, angka, dan angka. Kenapa?

Liat orangtua kita sekarang(buat yang lahir tahun 1998 ke bawah), pasti banyak dari kita harus pinter yang namanya pelajaran eksak. Dengan alasan eksak itu bekal kedepannya. Dengan belajar eksakta kita bakal jadi orang yang sukses. Tapi setelah denger semuanya itu dari orangtua, tiba-tiba kita liat di google atau di facebook ada yang posting kalo mark zuckerberg, steve jobs, dan bill gates gak lulus pendidikan formalnya tapi mereka jadi miliyuner. Pasti kita semua jadi mendadak bimbang. Bingung harus dengar dan percaya yang mana.

Nah! Sekarang coba kita pikir, kenapa di luar negeri(kebanyakan di negara-negara "barat") itu sekolah dari SD ada kelas musik, kelas fisika, kelas olahraga, kelas balet, kelas menari, kelas matematika, dan kelas-kelas yang lain? Kenapa kalau di Indonesia semua pelajaran itu disatukan? Kalau kalian berpikiran sama, jangan tanya sama gue kenapa hal itu terjadi. Karena gue gatau kenapa itu terjadi. Yang gue mau bahas adalah dampak dari sistem pendidikan indonesia yang mengumpulkan semua pelajaran jadi satu dalam satu kelas, dan dampatk dari sistem pendidikan orang-orang "barat" yang mengelompokan setiap anak ke dalam kelas-kelas mata pelajaran yang berbeda. 

Kita mulai dari luar dulu, dari bangsa "barat". Orang-orang barat itu maju dalam segalanya. Teknologi, keamanan, stabilitas ekonomi, politik, bahkan pariwisata disana luar biasa majunya. Padahal, "Surga" yang Tuhan kasih ke manusia itu Indonesia. Kenapa? Kenapa mereka bisa bagus pariwisatanya sedangkan si "Surga" itu masih gak jelas dan jarang orang mau pergi mengelilingi "surga" itu. Ini salah satu dampak dari pendidikan mereka. "Kok lo bisa ngomong gitu?". Kalo buat temen-temen gue yang kenal gue lama, pasti mereka tau jawaban yang selalu gue kumandangin. Iya, itu karena pendidikan dasar mereka udah dipecah jadi beberapa kelas dan kelas-kelas itu bukan gak mungkin dibagi lagi. Dengan kata lain, meskipun mereka tidak menguasai pengetahuan umum, tapi pengetahuan khusus mereka nomor wahid di dunia! Lulusan satu sekolah pasti ada yang jadi ahli mekanika, ahli otomotif, dancer ternama, bintang film Hollywood, pencipta pesawat ulang-alik, bapak teknologi, dan masih banyak lagi. 

"Tapi kan kata lo tadi banyak yang gak lulus pendidikan formal, kok malah bisa besar kayak gitu?". Nah, itu dia. mereka dari kecil udah dikasih pengetahuan pengetahuan tentang passion mereka sendiri. ada rumus yang gue ketemu setelah berpikir ketika di WC. 
"Passion + Knowledge = Atomic Bomb"
Ini pemikiran gue yang gua dapet setelah baca bukunya mas Pandji Pragiwaksono yang judulnya NASIONAL.IS.ME. Ini buku emang memotifasi banget. Kalo pake bahasa anak jaman dulu, ini tuh "ngebakar" banget. Balik ke yang tadi, karena passion itu ketemu sama pengetahuan, tanpa mereka pelajari secara terperinci, mereka bakal bisa ngalahin dosen-dosen yang ada di universitas atau institut yang terkenal sekalipun. Mereka ada rasa penasaran dan pengen membuat yang baru. Jadilah Windows, iPhone, Facebook, Google, bahkan blog itu sendiri. Sistem ini juga mengakibatkan berkurangnya kematian akbiat stres maupun bunuh diri. "kok gitu?", nanti gue jelasin. Udah gitu, kalo sistemnya kaya orang "barat", kita semua gak perlu belajar apa yang kita gak suka. Gausah maksain otak. Ya, mungkin sang profesor fisika gak akan tau gimana cara menggambar monalisa, atau si montir terkenal gak bisa main lead guitarnya sweet child o'mine. Tapi, sekalinya mereka beraksi dengan kebisaan dan kegemarannya dia, BAM! jadilah cococrunch! haha ngga lah, jadi sesuatu yang mahal. Sangat mahal. even berlian pun mereka beli 100 lusin, bahkan lebih. 

Okay, kita pulang ke rumah kita tercinta, INDONESIA. Pertama, kita telaah dulu sistem pendidikan kita. Indonesia punya sistem pendidikan sekolah dasar yang sangat ribet. SD kelas 1 harus sudah bisa membaca, menulis indah, berhitung penjumlahan dan pengurangan, menggambar dengan baik, bernyanyi dengan merdu, dan sebagainya. Kita naik ke kelas 2. Disana kita dituntut mengerti perkalian, bisa membaca lancar, bahkan membaca puisi, bisa menggambar lebih baik dari kelas 1, menulis dengan cepat ketika di-dikte-kan oleh bapak atau ibu guru. Kelas 3, sudah mulai ada yang namanya pembagian dalam matematika, kita juga harus menghafal seluk beluk agama kita, berinteraksi dengan baik, bahasa indonesia sudah mulai susah dengan yang namanya pantun atau pun syair. Kelas 4, ini kelas yang sudah ada gejolak masa remaja di dalamnya. matematika sudah mulai sulit dan ditambah dengan IPA dan IPS. IPA mempelajari gaya, gerak, tumbuhan, hewan, makanan yang baik dan tidak. IPS membahas tentang sejarah kerajaan-kerajaan pertama di Indonesia, belajar tentang berbagai negara-negara di dunia. Kelas 5 lebih complicated lagi dan begitu juga kelas 6. Kelas 6 akan lebih disibukkan dengan mengulang materi-materi yang sudah dipelajari dari kelas 4 sampai kelas 6. So, guru-guru akan ngebut untuk mencekoki siswanya untuk belajar yang keras dan banyak. Setelah itu, SMP. SMP buat gue adalah masa untuk bener-bener bermain. Menuntaskan hasrat bermain yang tersisa sebelum menjadi dewasa. Dalam fase ini, anak cendrung bermain, bermain dan bermain sepanjang hari. Entah di sekolahnya atau di rumah sama kakak atau adiknya. Akhirnya ketika mereka disuruh untuk belajar, mereka hanya belajar apa yang memang mereka inginkan untuk mereka ketahui lebih dalam. kalo kaya gini, apa bedanya dengan sistem "barat" kalau toh akhirnya setiap anak akan hanya mempelajari apa yang ingin mereka dalami?
 "Nak, besok ulangan matematika kan? Ayok sana belajar! Mama gak mau nilai kamu jelek lagi ya!". Ketika Ujian besoknya ambil nilai push-up untuk olahraga, statement itu berubah jadi "Besok mau ambil nilai push-up? yaudah kamu istirahat dulu sana. Besok cuman olahraga kan...".

Ini dia bagian yang saya tunggu-tunggu. Beda dari kedua sistem itu. kita mulai dari yang baik dari dalam negeri. Sistem negeri ini adalah dengan memberikan semua pengetahuan umum. Gue gak bilang ini gak bermanfaat. Ini manfaatnya besar banget! Anak Indonesia IQnya akan diatas anak-anak "barat" pada umumnya. Cara berfikir, cara menganalisa, cara memecahkan masalah, semuanya dijuarai oleh anak Indonesia.sedangkan anak-anak "barat" tidak mengetahui pengetahuan umum dan beberapa pengetahuan khusus selain dari apa yang mereka dalami di sekolah. Seperti yang kita lihat sekarang, banyak anak Indonesia mempunyai inovasi-inovasi besar dan mereka diakui dunia berasal dari Indonesia. Tak jarang banyak yang memenangkan olimpiade sains, olimpiade fisika, matematika, kimia, kejuaraan robotik, choir grandprix, dan semuanya itu tingkat dunia. Mereka menang semuanya. Semua piala, medali, Indonesia yang ambil. Tapi sekarang coba deh liat, gimana negara kita? Banyak bgt yg stres, bahkan sampai BUNUH DIRI akibat dari sistem pendidikan kita. Coba deh bayangin, lo semua dituntut untuk belajar semuanya, mulai dari -- yang katanya -- paling penting, matematika, fisika, kimia, biologi -- buat yang IPA --, sosiologi, sejarah, ekonomi, geografi -- buat yang IPS--, bahasa indonesia, bahasa inggris, agama, kewarganegaraan, seni, olahraga, atau bahasa asing lain. Dan diakhir masa belajar kita, kita di hadapkan dengan bulan-bulan dimana kita harus kembali mengulang apa yang dipelajari sebelum-sebelumnya.

Di penghujung SD, SMP, SMA pasti ada yang namanya Ujian Akhir Semester, Ujian Praktek, Ujian Akhir Sekolah, dan yang terakhir Ujian Nasional. Bayangkan, semua pelajaran yang kita dapet dari awal masuk jenjang pendidikan -- SD, SMP, SMA-- di uji lagi hanya dalam waktu 1-1,5 bulan. SEMUA MATA PELAJARAN. Bukan hanya yang kita suka, tapi semuanya, tanpa terkecuali. Mungkin ketika ujian praktek, ujian akhir semester, dan ujian akhir sekolah kita masih bisa dibantu oleh bapak dan ibu guru yang lebih tidak tega melihat rating sekolahnya turun ketimbang tidak tega melihat anak didiknya tidak lulus. Tapi, ketika ujian nasional, siapa yang bisa bantu kita? Iya, Cuman Tuhan dan usaha kita yang bisa bantu kita. Tapi coba deh pikir, gimana kalo ada faktor-faktor yang menyebabkan kita ngga lulus?

Contoh, gerogi waktu ngerjain soal pas UN, atau takut sama penjaganya, ataupun pelajaran itu sangat susah bagi kita karena disitu bukan passion kita. Disini gue cuman mau ngebahas yang terakhir, yaitu ketika UN tidak ada pelajaran yang menjadi passion kita. Okay lah kalo misalnya passion kita di matematika, tapi sama aja percuma ketika nilai UN matematika kita 100 sedangkan kimia yang adalah "MUSUH BESAR" kita waktu sekolah itu nilainya 30. Tau kan kalo 30 itu angka mati waktu UN? Sebesar apapun nilai semua pelajaran lo tapi kalo ada satu aja yang punya nilai 30, itu di surat keterangan lulus gambarannya seperti ini 
LULUS / TIDAK LULUS
Itu kira-kira gambarannya. Gue pikir dari sini kalian semua udh bisa nangkep kan kenapa gue singgung tadi diatas ttg kematian sama bunuh diri?

Coba kita hitung-hitungan aja. Misalkan di Indonesia ada 150.000 siswa yang ikut UN SMP. Waktu pengumuman, pemerintah ngasih presentase kelulusan itu 98,2% misalkan. berarti ada 1,8% yang ngga lulus tahun itu dari SMP. Anggep lah 30% dari 1,8% itu imannya kurang kuat dan mudah putus asa, pasti mereka bakal mikir kalo tanpa LULUS, hidup mereka berakhir. so, buat apa jalanin hidup kalo hakikatnya hidup mereka udah mati -- menurut mereka loh ya. Jadi lah yang namanya kasus bunuh diri setelah pengumuman UN. Waktu yang lagi begini-begini, semua obat nyamuk dan piso langsung laris di pasaran. Kalo dari itung-itungan yang tadi, ada 810 orang yang mati akibat ngga lulus UN. Calon pilot masa depan Indonesia, calon dancer masa depan Indonesia, calon chef terkemuka di dunia yang asli Indonesia, calon penyanyi Indonesia yg bakal Go International, calon pembalap Indonesia, calon pemain sepak bola liga-liga eropa yang asli Indonesia, calon mentri yang bebas kasus korupsi, calon pembuat rekor dan pembuat sejarah dunia yang berasal dari Indonesia, hanya karena nilai 30 di satu mata pelajarannya ketika UN, mati siasia.

Berapa banyak talenta-talenta terpendam, potensi-potensi yang masih ada di dalam "peti harta karun" itu yang belum dikeluarkan sudah lenyap begitu aja? Mungkin ada yang punya pikiran "Indonesia masih punya orang-orang yang lulus dan ngga cepet putus asa itu kan?". Apa yang lulus itu udah pasti "murni" lulus nya? Apa yang bakal dilakukan orang-orang yang gak lulus tapi masih hidup itu? Kita ngga tau. Andaikan aja semua itu menjadi maju, kita akan lebih maju 99,..%. tapi negeri "barat" sana? 100% maju karena mereka ngga kehilangan satu pun dari potensi mereka. Masih ketinggalan kan?

Lalu, apa yang mesti dilakuin kalo udah gitu? Nah, ini dia. Ini yang selalu gue bilang sama beberapa temen gue kalau kita lagi masuk dalam perbincangan soal pendidikan. Pertama, usahakan kita jujur. Okay lah kita pake Narocob untuk pelajaran yang bener-bener kita ngga suka, tapi ngga usah segala pake nyogok lagi buat dapetin SMP, SMA, Universitas yang kita mau. Udah cukup jadi patokan nilai asli kita di UN. Jangan menghalalkan segala cara lah. Ngga ada bedanya kita sama "Tikus-tikus kantor" dan para "Penjahat berdasi" itu. Kedua dan mungkin ini yang terakhir, karena gue baru punya dua masukan hehe.. sisanya nanti kalo misalkan dapet pemikiran baru ato ada yang mau nambahin, silahkan saja. Yang kedua,
"Ikuti Passion, Jangan Ikuti Sistem"
Kata kata ini gue pernah tweet waktu hari pendidikan nasional. Dan kata-kata ini sering gue pake juga kalo lagi debat tentang pendidikan sama temen-temen ato bokap nyokap gue.
"Loh? Mana bisa ngga ikut sistem? Kan sistem itu nasional?" Sistem yang gue maksud disini sistem fundamental yang ada di otak orang Indonesia. Apa? Ya itu.... Ketika matematika menjadi sangat penting ketimbang bahasa Indonesia. Ketika Agama mendapat nilai 5 dan tidak akan naik kelas. Ketika anda berpikir anda hanya mendapat pengetahuan hanya di sekolah saja. Itulah beberapa sistem fundamental yang ada di negara kita tercinta ini.  Tapi menurut gue, sistem pemikiran kayak gitu jadul bgt. Terlalu kolot untuk anak jaman sekarang yang difasilitasi Internet, Technology device  yang memadai, buku-buku yang sangat banyak, bahkan ada yang namanya e-book.

Nah, mengingat blog itu postingannya jangan terlalu panjang, gue akhiri aja postingan kali ini disini. intinya, mungkin sistem pusat bukan kita yang kendalikan, tapi sistem dari pemikiran kita, kita sendiri yang nentuinnya. so, jangan takut buat berinovasi. Belajar dari mana aja, gak mesti dari sekolah. Sekolah itu penting karena ada dasar-dasarnya, tapi balik lagi, temuin passion lo sendiri. Karena yang bisa nemuinnya harus lo, psikolog ga bisa, apa lagi eyang subur. Akhir kata, maaf kalo ada typo. Maklum gue baru belajar nge-blogging. hehehe.. i'll try to fix it ASAP. Sukses buat kita semua! Jayalah Selalu INDONESIA!!!

First

Postingan pertama. Ngga ngerti mau nge-post apa karena belom kepikiran memang. Mungkin Rules di blog gue aja ya? Hm, jadi begini, ini kan Blog gue, ini pikiran gue. Gue berpikir dari prespektif gue, dan setiap orang punya prespektif yang beda-beda. so, kalo misalnya mau komen, komen yang sopan. Kritik yang sopan. Yang ga sepemikiran? Hargai pemikiran orang. Jangan terjebak dengan pemikiran sendiri yang belum tentu itu bener. Gue buat blog ini atas dasar ingin berbagi pemikiran sama orang-orang aja kok. mungkin kurang baku kata-katanya ataupun jelek blognya, maklumin aja gue itu pelajaran ktk dan menggambar selalu pas KKM hehe. Enjoy my blog. God be With Us!