Tidak semua menemukan titik temu. Ada yang langsung, ada yang menunggu untuk diproses lagi. Proses pemilahan, mana yang saya suka untuk saya pikirkan lebih lanjut, dan mana yang akan saya buang dan tidak akan saya pikirkan lagi.
Dan baru-baru ini saya berfikir tentang takdir.
Banyak orang berkata kalau Tuhan punya cerita tersendiri bagi kita. Seolah hidup kita itu bagaikan buku cerita Tuhan yang sudah jadi dan siap dibaca oleh orang lain. Dimana didalam buku itu Tuhan sudah menuliskan dengan tintanya seluruh kehidupan kita. Semuanya, sampai kepada akhir cerita dimana kita akan kembali menghadapNya.
Tapi beberapa ahli dan beberapa pemikir menyebutkan bahwa kita telah diberikan free will(Kehendak bebas) dari Pencipta untuk memilih sendiri jalan kehidupan kita. Jadi kalo dalam kasus ini, teori pertama tentang takdir tidak berlaku. Jadi di sini, orang membuat buku ceritanya sendiri. Dia menuliskan dengan tintanya sendiri, sendang Tuhan hanya menjadi assistennya yang selalu memberikan beberapa usul yang seharusnya kita lakukan.
Tapi ketika saya memikirkan sekali lagi, ternyata saya berfikir bahwa kedua pemikiran diatas sama-sama benar, tapi tidak mutlak. Di satu sisi, Tuhan memang memberikan kita jalan, dan Dia juga memberikan kita kehendak bebas. Mungkin persis seperti orang yang diberikan peta. Kita sebagai orang itu, dan Tuhan adalah seorang dermawan yang memberikan saya peta lengkap dengan jalan dan tujuan dari jalan-jalan tersebut.
Pemikiran saya berlanjut, dan ternyata di teori itu ada kelamahan. Ketika Tuhan menjadi demawan yang hanya memberikan kita peta yang sangat lengkap, otomatis membiarkan kita berjalan sendiri, tanpa Tuhan disamping kita ketika kita berjalan.
Setelah saya pikir, yang saya belum menemukan kesalahannya sampai sekarang adalah Tuhan sebagai sutradara yang merangkap menjadi penulis cerita, kita sebagai aktor yang memerankan peran "kita" sendiri, dan hidup kita ini adalah cerita dari film tersebut.
Disini kita diberikan kebebasan berekspresi, dan cenderung berekspresi tapi masih dalam ruang lingkup yang ada dalam skrip cerita. Dialog Bebas. Kita bebas mengeluarkan semua yang kita punya demi terjalannya film tersebut. Tapi ada waktu dimana sang aktor lari dari jalan cerita. Entah ekspresi mereka yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sutradara, atau apapun yang memang keluar dari jalan cerita.
Ketika itu, menjadi tugas sutradara untuk mengembalikan pemain tersebut ke jalan cerita yang sebenarnya, yang diinginkan oleh sutradara itu sebagai sutradara dan penulis cerita. Dan satu kemiripan lagi, tidak ada sutradara yang mau film yang dibuatnya jelek. Selalu baik. Apapun akhir dari cerita itu, sutradara pasti membuat film itu dengan yang terbaik yang dia punya.
Itulah pemikiran saya...
Selamat malam!
No comments:
Post a Comment