Sekolah...lagi.
Ya, saya ingin membagi pemikiran saya tentang sekolah....lagi. Tapi jauh berbeda dengan yang sebelumnya.
Kali ini, saya lebih concern pada sifat-sifat sekolah menurut saya. Dari TK sampai SMA. Perguruan Tinggi belum bisa saya masukkan karena saya msh belum lama di PT.
Oke, kita mulai dari yang pertama:
1. Taman Kanak-kanak (TK)
Berawal dari ketakutan. Setiap anak saya yakin 80% pasti sangat takut ketika bertemu dengan guru TK pertamanya. Berinteraksi dengan orang lain yang asing. Sangat asing. Dan tidak ada satupun yang dikenal. Tapi, ketika satu minggu ada di dalam sana, sudah mulai mengenal dan menguasai lingkungan dan keadaan, semua beralih. Dari neraka menjadi surga. Ya, surga dengan banyak permainan kreatif, canda, tawa. Tak jarang kita mendengar ada tangisan. Ya, mungkin beberapa anak yang jail sangat suka mendengar suara tangisan temannya. Ya, seperti itulah. Dari sini sudah bisa dilihat semua sifat dasar dari seseorang. Ya, seorang anak. Fase sekolah dimana banyak hal yg dilupakan ketika besar, dan tak jarang juga ada yang masih menggantung di ingatan.
2. Sekolah Dasar (SD)
Bahasan SD ini saya bagi menjadi 2, dari kelas 1-3, dan kelas 4-6.
Kelas 1-3.
Pada masa ini, masa-masa bahagia. Tidak ada lagi yang namanya takut untuk bersosialisasi dengan guru maupun teman. Itu karena TK mengajarkan untuk bersosialisasi dengan siapa saja. Jadi, mungkin kaku, cuma sebentar saja sudah akrab. Dan disinilah harusnya sekolah memberikan yang namanya pelajaran ketertiban. Saya ingat, waktu kelas 1 SD saya pernah diolesin minyak kayu putih oleh guru saya karena saya tidak berhenti bicara dengan samping saya. Dan kelas 2, saya dituntut untuk menghafal perkalian 1-10. Disini juga saya diajar disiplin. Saya itu terkenal dengan orang yang paling lambat untuk menulis. Sampai-sampai saya dimarahi oleh mama karena tulisan jelek dan lama sekali menulisnya. Semenjak itu, saya belajar bagaimana menulis bagus dan cepat. Kelas 3. Ini salah satu kelas yang paling berbekas seumur hidup saya. Drs. Trimo Suryanto(Alm). Ya, orang yang keras, disiplin, tapi sangat friendly pada murid binaannya. Masalah satu orang menjadi masalah bersama dibuatnya. Motivasi yang dia berikan jelas. Mungkin beberapa orang yang sempat diajar oleh beliau setuju dengan pendapat saya tentang pahlawan yang satu ini.
Semoga tenang disana, pak!
Kelas 4-6
Disinilah gejolak mulai terjadi. Gejolak anak kecil menjadi ABG. Perasaan menyukai sesama jenis, tapi belum pubertas. Hanya menyukai. Ini yang saya namakan cinta monyet. Jika cinta ketika masa pubertas, menurut saya, itu bukan cinta monyet. Karena memang sudah seharusnya mereka merasakan itu. Jalannya KBM berjalan seperti biasa. bermain, belajar. Tapi di fase ini ada yang namanya fase "bandel". Melawan orang tua demi permainan, berkelahi dengan teman karena kalah dalam permainan. Fase dimana mereka mau menunjukan kalau merekalah "yang nomor satu". Perkelahian-perkelahian kecil memang sering ada di sini. Apa lagi kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Tapi setelah itu, masih belum ada yang namanya dendam. Mereka akan segera berbaikan dan bermain bersama lagi. Di tahap ini jg ada yang namanya ujian nasional. Dan biasanya, disini belum ada yang namanya rajin cari bocoran. Bahkan menyontek ketika ujian berlangsung saja hanya beberapa orang.
3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Disini semuanya dimulai. SMP. Buat saya, masa-masa di SMP ini masa paling membahagiakan dibanding TK, SD, maupun SMA. Ketika di SMP, pubertas dimulai. Proses menuju kedewasaan. Sosialisasi makin gencar kepada siapa saja, baik itu teman laki-laki ataupun perempuan. Bermain, sambil belajar. Tidak terlalu serius, tapi pasti. Teman-teman yang belum tau apa itu kemunafikan, apa itu yang dinamakan backstabber. Mungkin ada orang yg seperti itu, tapi itu karena mereka belum mengenal sifat-sifat itu.
Di SMP saya belajar banyak. Belajar mengenai apa itu teman, pertemanan, persahabatan. Ya saya akui disini juga ada cinta. Tapi saya tidak mau membahas cinta di post ini. Banyak guru yang mengatakan kalau angkatan saya adalah angkatan terkompak. Angkatan 2009. Tapi saya masih belum tahu apa sebutan "terkompak" itu masih angkatan kami yang pegang atau sudah diambil alih oleh angkatan lain. Ya, saya belajar kekompakan, kesetiaan kepada almamater, kebersamaan. Meskipun kubu-kubu itu tidak dapat dipungkiri, tapi itu hanya mungkin mereka teman dari kecil, atau teman SD. Selebihnya, kami bermain bersama. Tidak ada peredaan yang signifikan diantara angkatan kami. Hampir semua orang saling mengenal. Ya... 89% lah. Saya sampai bingung apa yang negatif di fase pendidikan ini. Saking saya bahagianya di sini. Di SMP Negeri 12 Jakarta.
4. Sekolah Menengah Atas (SMA)
Disinilah akar masalah anak muda. Mereka jadi mengenal semua yang jahat dan yang baik. Semua berubah disini. Kalau perkataan anak zaman sekarang, "Ketika sahabat menjadi bangsat". Disini banyak intrik, banyak kubu, banyak "permainan di belakang". Mungkin ini dikarenakan penggabungan dari banyak sekolah dan itupun dari mana saja. Ada yang dari luar jakarta, maupun dari jakarta pusat, timur, selatan, dan utara. Sudah terlalu banyak kebiasaan dan kebudayaan yang saling bertemu dan mempengaruhi. Ada yang kuat, ada yang lemah. Adanya hasrat untuk menjadi dewasa lebih cepat sehingga semua style orang dewasa mereka ikuti. Saya berkata seperti ini bukan karena saya tidak seperti itu. Itu karena saya memang sama juga seperti itu. Jadi, saya klarifikasi saya tidak mau munafik disini. Ini semua berdasarkan pengalaman. Disini juga banyak yang memilih-milih teman. Tapi ketika kami bersatu, baik dalam suatu acara maupun ada pertandingan yang sekolah ikuti, kami dengan mudahnya berinteraksi satu dengan yang lain dan menjadi solid seketika itu juga. Ini yang saya apresiasi. Belum dengan kegiatan belajar dan mengajar. Rumit, sistem yang rumit sekaligus pelajaran yang rumit membuat anak SMA menjadi malas dan mencari kesibukan yang sesuai dengan hobinya. Bahkan ada yang malah jatuh ke jalan yang salah. Ya, inilah yang saya sering kritisi, tentang sistem di sekolah. Tapi kita tidak akan membahas itu. Di SMA inilah kita belajar, kita akan seperti apa kedepannya. Bagaimana menyikapi orang-orang yang beragam karakter dan budaya nya. Bagaimana menelai orang baik itu objektif maupun subjektif. Belajar untuk bisa memilih pergaulan yang baik dan yang tidak. Belajar untuk menghargai perbedaan yang sangat beragam. Belajar toleransi. Belajar kesabaran dan kesetian.
Kalau orang-orang bilang, SMA itu yang paling tidak terlupakannya adalah kisah cinta di SMA. Berhubung ketika saya di SMA hanya merasakan cinta dan tidak merasakan pacaran di SMA, jadi saya tidak akan membahas ini terlalu panjang dan hanya sampai disini saja.
Iyak, demikianlah pemikiran saya mengenai beberapa jenjang pendidikan sekolah..
sekali lagi, ini pendapat. Tidak ada yang bisa protes atau segala macamnya okay?
Selamat malam!
No comments:
Post a Comment