Wednesday, May 22, 2013

Baik itu Tidak Baik

Sering terlintas di benak saya tentang "Mengapa harus menjadi baik? Toh kalau kita baik, feedback dari baik itu sendiri belum tentu kita dapetin kan?".

Bukan tanpa alasan otak saya mengeluarkan statement seperti ini. Memang, hampir dititik jenuh untuk menjadi baik. Hati dan otak pun sepakat dalam hal ini.

Mungkin dengan berbuat baik bagi orang lain malah menjadi tidak baik bagi diri sendiri. Bukan maksud untuk egois, kadang kita juga harus memikirkan otak, tenaga dan perasaan kita, bukan?

Setiap apa yang saya temukan dalam hidup ini, itu akan menjadi teori yang terus tertulis di dalam buku cetak kehidupan saya. Ya, itulah saya.

Tapi suatu saat saya tergugah setelah menonton sebuah video... Ya, video yang aneh tapi bisa menghapus teori yang sudah ada dalam buku cetak kehidupan saya.

Dalam video itu, ada seorang pembantu. Dia tinggal bersama dua orang sahabat sejak kecil. Pembantu ini sudah cukup lama tinggal dirumah itu.

Suatu hari, teman pembantu ini memberikan pesan kepadanya kalau ada pekerjaan sebagai pembantu diluar negeri dan dia harus meninggalkan pekerjaannya sekarang.

Dia pun berpikir kalau kedua sahabat ini mungkin sudah tidak membutuhkannya lagi. Tidak membutuhkan tenaganya, bantuannya lagi.

Bukan tidak ada alasan dia berpikiran seperti itu. Itu karena banyak peristiwa-peristiwa yang membuat dia merasa tidak lagi dibutuhkan oleh kedua sahabat tersebut.

Sampai suatu saat dimana dia akan membersihkan semua ruangan di dalam rumah itu, dia menemukan sebuah album foto yang bertuliskan "Sahabat dan Lain-lain" di depannya.

Dan ketika perlahan membuka, dia melihat fotonya ada di dalam album itu. Secara implisit itu mengartikan kedua sahabat itu menganggap dia sudah menjadi bagian dalam persahabatan mereka.

Dari situ, dia mulai memutuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah itu.

Mungkin ini udah tidak asing ya, apa lagi untuk para ABG jaman sekarang, pasti tau lah itu penggalan video apa.

Dari video itu saya mendapat satu kalimat, yaitu
"Kita tidak harus tau orang lain butuh kita atau tidak, tapi yang penting kita ada untuk mereka."- Raditya Dika

Ya, kalimat itu yang bisa menghapus teori saya tentang kebaikan. Mungkin saya baru melihat kebaikan itu dari sudut pandang gelap, dan saya belum tau seterang apakah kebaikan itu yang sebenarnya.

Yang saya tau, setiap keyakinan, setiap agama, setiap orang tua, setiap orang pasti mengajarkan orang lain tentang kebaikan, walaupun hanya sedikit.

Saya akan menutup posting ini dengan satu ayat yang ada di Alkitab, sesuai dengan agama saya, itu berbunyi:

 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak mejadi lemah."-Galatia  6:9 
  

No comments:

Post a Comment