Mungkin banyak orang pernah denger atau liat kalimat yang jadi judul postingan kali ini.
Yang gue tau, hash-tag ini pernah dibuat sama om Barry Likumahuwa. Iya, The Art of Letting Go.
Gue sangat terinspirasi sama kalimat ini. Kenapa? Ya karena ini tuh bagus aja. Kalo diartikan secara harafiah dan menurut bahasa inggris versi saya sendiri, artinya adalah seni untuk melepaskan. Dan ini sangat dekat sekali dengan ikhlas.
Kita ikhlas pasti ada yang kita korbanin. Kita ikhlas pasti ada sesuatu yang pergi dari kita. Entah itu barang kita, orang yang ada di dekat kita, orang yang kita sayang, bahkan kebahagiaan kita. Masih banyak yang lain yang pergi dari kita yang kita harus ikhlaskan.
Ikhlas itu emang sulit. Kenapa? Menurut gue itu karena ikhlas itu sangat bertentangan dengan hati dan pikiran. Kenapa hati dan pikiran? Ya karena ketika kita ikhlas, disitu ada saat dimana hati dan pikiran kita sinkron untuk berkata tidak untuk melepaskan.
Ketika itu, pikiran yang mempunyai vocabulary kata "ikhlas" beserta pengertiannya harus dengan ikhlas juga berkata kepada hati untuk ikhlas. Disitu ada sesuatu yang mengganjal karena hati itu paling susah untuk ikhlas untuk ikhlas. Jadi, pasti hati akan merasa lebih sakit dari pikiran yang lebih mementingkan logikanya.
Jadi jangan heran kalau lagi mencoba ikhlas akan sesuatu, hati akan merasa sakit. Agak nyesek gimana gitu. Itu wajar. Dan pasti ada saat dimana kita bisa cepet ikhlasnya, dan dimana kita susah banget untuk ikhlas. Biasanya tergantung dari berharganya sesuatu yang hilang dari kita itu yang menyebabkan kita seperti itu.
Tapi ketika hati kita bisa sepenuhnya ikhlas, semua akan terasa lega. Ngga ada lagi kesedihan atau sakit hati. Ngga ada yang namanya rasa ingin memiliki yang sudah terlepas dari kita itu.
Ya, itulah seninya. Ada sakit, ada sedih, tapi ketika kita menaklukannya, akan ada kelegaan dan kebahagian yang lain.
Itulah, The Art of Letting Go.
Selamat Malam!
No comments:
Post a Comment