Thursday, August 15, 2013

Tanah Yang Kaya

Papua, negeri di timur Indonesia. Alam yang bersahabat, etnis yang masih terjaga, negeri yang indah, tanah yang kaya.

Suatu hari gue ada di Kementrian Luar Negeri. Disana gue lagi ngurus exit permit untuk kakak sepupu gue yang mau berangkat ke Korea Selatan buat nerusin sekolah disana. Waktu itu bener-bener sendirian. Panas. Dan loket untuk urusan keluar negeri itu lagi tutup istirahat.

Tadinya gue mau ke ragussa aja, karena udah panas pula, dan loketnya baru buka dua jam lagi. Iya, gue sampe sana pas banget jam 12 siang. Cuman, berhubung gue udah ketemu tempat adem untuk duduk dan itu dibawah pohon pula, gue akhirnya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan tempat itu.

Di dekat gue, ada beberapa orang bapak dan ibu yang menunggu bukanya loket tersebut. Sekitar 15 menit gue duduk disitu, tiba-tiba ada 2 orang paruh baya berkulit hitam lekat, berambut kriting, berpakaian rapi, menghampiri gue dan beberapa bapak dan ibu yang ada di dekat gue.

"Maaf mas, itu loketnya kenapa tidak dibuka ya?", tanya salah satu bapak yang datang itu.

"Iya katanya lagi istirahat pak, bukanya nanti jam 2an.", jawab gue gelagapan karena daritadi ngeliatin mereka berdua dengan tatapan curiga.

"Oh gitu ya mas? Oke makasih ya mas", dan mereka pergi gatau kemana.

Singkat cerita, gue lagi nunggu exit permit kakak sepupu gue diproses, karena yang tanda-tangan exit permit itu lagi ada rapat dengan Bapak Marti Natalegawa(maaf kalo salah tulis, -Red). Lagi nunggu, tiba-tiba bapak-bapak yang tadi nanya ke gue masuk berdua, nyerahin paspor ke loket untuk di proses, dan akhirnya dia duduk dia bangku dari gue. Mereka ngga ngobrol.

Selang satu menit, ada bapak-bapak lain, duduk pas di sebelah gue. Dan bapak itu ngobrol dengan bapak-bapak yang gue bilang tadi.

"Sebetulnya pak, orang papua itu maunya sama NKRI. Cuman, kenapa mereka mau merdeka? Karena mereka bingung, kenapa yang lain dibangun, tapi papua sama sekali tidak ada pembangunan yang berarti?", kata bapak yang nanya ke gue tadi.

"Kami pisah dari NKRI, kami merdeka sendiri, kami bisa membangun papua sendiri, tanpa ikut campur tangan orang lain. Tanpa harus mengurus birokrasi-birokrasi yang lain. Kami kaya, keluar rumah saja, kalau anak kami gali tanah pakai sendok, sudah ada butiran-butiran emas disitu," lanjutnya.

"Jadi, sampai saat ini, kami masih bertahan dengan NKRI karena memang kami cinta kepada NKRI. Dulu, presiden Soekarno punya mimpi untuk menjadikan papua menjadi yang paling maju, karena kami punya harta terpendam disini. Ada space shuttle pertama Indonesia, bahkan di Asia yang mau dibangun beliau, di Papua. Tanahnya sampai sekarang masih ada.

Bung Karno juga yang mengambil kami dari tangan Belanda, karena mereka tau kami berharga. Tapi setelah beliau mangkat, kami seperti diasingkan bahkan di Jual ke Freeport. Kami bingung dengan pemikiran-pemikiran para pemimpin ini. Kita bisa membangun Indonesia bersama. Menjadi bangsa yang mandiri, yang maju. Liat Cina, bahkan negara tetangga kita Singapura. Mereka punya apa? Kita punya apa yang mereka punya tapi kita juga punya apa yang mereka tidak punya.

Masakkan kami harus melawan Freeport sendirian? Kami harus membela tanah ini sendirian? Apa kami masih bagian dari NKRI?". Semua terdiam. Gue melirik ke kanan dan kekiri, ternyata yang mendengar ini sudah hampir 10 orang di depan sama di belakang kami.

"Tuan Tritiya?", Suara itu terdengar dari arah loket. Dan gue pun langsung beranjak menuju loket untuk mengambil paspor kakak sepupu gue itu. Ketika selesai, gue balik badan, dan ternyata tempat duduk gue udah didudukin orang lain. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang.

Agak kesel sih karena tidak bisa berlama-lama mendengarkan cerita dari para cendikiawan asal papua itu.

Dan dari percakapan diatas, gue menemukan sesuatu. Hati Papua masih di NKRI. Dan akan terus di NKRI sampai akhir hayat.

Gue denger kemarin bahwa beberapa OPM(Organisasi Papua Merdeka) rela melucutkan senjata mereka ke TNI karena sudah ada pendekatan yang persuasif dari TNI dengan OPM. Lihat? Tidak perlu ada kekerasan, kan? Mereka masih mau NKRI.

Jadi, jangan siasiakan rasa nasionalisme mereka dengan memberikan tanah mereka kapada pihak asing. Karena mereka mau, tanah mereka, dikelola oleh bangsa mereka sendiri, dan untuk negara mereka sendiri, NKRI.

Serukan pemerataan pembangunan, untuk Papua.

Selamat siang.

No comments:

Post a Comment