Monday, July 29, 2013

Move on

Mungkin kalo gue tweet tentang judul postingan kali ini, langsung banyak kali ya yang visit blog gue..

Disini gue mau meluruskan yang namanya move on versi gue aja sih sebenernya. Setuju ga setuju tuh ya pendapat masing masing orang aja lah ya?

Jadi gini, menurut gue move on itu bukan ketika kita melupakan seseorang yang pernah ada di kehidupan kita, bahkan nyantol pula di hati kita.

Move on bukan soal melupakan.

Buat gue, move on adalah gimana kita bisa bahagia tanpa mereka yang pernah ada di kehidupan kita. Siapa aja. Semua orang yang udah ninggalin kita. Gak mesti pacar.

Terlalu banyak orang yang menggadaikan kebahagiaannya itu hanya karena dia belum bisa move on dari orang lain. Sampai-sampai dia sakit, stress, gila, bahkan ada juga yang bunuh diri karena ketidakbisaan mereka untuk move on.

Penyebab susah move on itu ada banyak. Kepo, mereka terlalu berharga, terbiasa, cinta, dan lain sebagainya.

Seperti yang gue pernah bahas di posting gue yang #TheArtofLettingGo , ikhlas juga mempengaruhi tahap move on seseorang. Lebih cepat dia ikhlas, pasti dia lebih cepat bahagia tanpa seseorang yang sudah pergi dari kehidupannya.

Sebetulnya, Ini bukan tentang pacaran atau bukan. Gak semua masalah hati itu harus melibatkan pacaran kan? Bisa jadi kakak, orang tua, mungkin baby sitter kita dulu yang kita sayang. Gak mesti pacar.

Move on itu bukan soal kita melupakan semua tentang mereka, tapi bagaimana kita bahagia tanpa mereka.

Selamat malam

Thursday, July 25, 2013

#saveorangutan

Ngga ngerti kenapa mau nge-post tentang ini. Tapi, kita coba aja nge-post dengan modal pengetahuan pas-pasan dan rasa peduli yang lumayan tinggi.

Semua tau pasti tentang orangutan. Secara mereka itu hewan asli Indonesia. Meskipun ada beberapa di negeri sebelah yang suka ngaku-ngaku, tapi habitat aslinya itu ya di hutan hujan Sumatera dan Kalimantan.

Yang gue concern di sini itu adalah tentang kita, rakyat Indonesia, yang terlalu angkuh mungkin dengan keadaan sekitar. Hutan ditebang, dibuka lahan, industri tambang, pas udah selesai bukannya ditutup dengan ditanam beberapa pohon, malah dibiarkan gitu aja.

Mungkin kalo ada yang tau, kalau hutan hujan Kalimantan dibuka dan dibuat ladang, tambang, dan semua-mua nya, Oksigen di dunia berkurang 45%. Dan secara tidak langsung udah mengobrak-abrik rumah dari orangutan.

Orangutan bukan hewan ternak, yang bisa dipelihara dan dikembangbiakan di rumah atau di suatu tempat begitu aja. Orangutan itu hewan liar. Liar bukan berarti buas. Liar maksudnya tidak bisa di kekang. Bukan hewan peliharan, apa lagi ternak. Mereka harus dilepas di hutan, yang adalah rumah asli nya. Bukan di kandang atau di rumah orang.

Banyak orang memanfaatkan hutan sebagai tempat untuk mecari uang. Membuka lahan untuk ditanam kelapa sawit, buka lahan untuk pertambangan, tebang liar(Illegal Logging), dan pengusahaan lahan. Memang sawit itu sangat in banget akhir-akhir ini. Bahkan ada yang bilang kalau sawit bisa jadi bahan bakar. Cuma kenapa harus membuka lahan di hutan?

Kalau diliat di wikipedia, predator(pemangsa) orangutan yang utama adalah manusia. Selain macan, harimau, dan hewan buas lainnya. Kenapa? Silahkan jawab sendiri.

Katanya namanya Marjo. Dia abis dilokalisasi dari hutan kecil di tengah perkebunan sawit ke hutan yang lebih luas karena orangutan itu punya daya jelajah 20km/hari

Kalau dicari-cari di internet, kita bakal liat orangutan dibunuh, dikerangkeng, dan lainnya untuk dijual-beli. Seperti yang gue bilang diatas, orangutan itu gak bisa diperlakukan kaya gitu. Dijual, mau dipelihara dimana? Rumah? Kan habitat dia bukan di rumah. Pasti dia bisa stress. Ga lama kemudian dia mati. Makin punah lah hewan asli Indonesia ini.

Selain komodo, orangutan juga hewan asli Indonesia. Mungkin karena orangutan terlalu "halus" dan ga punya racun jadi lebih baik mengeksploitasi orangutan ketimbang komodo. Bukan berarti juga gue nyuruh buat mengeksploitasi komodo. Bukan. Itu salah besar.

Kita dikasih kebebasan sama Tuhan buat menguasai binatang-binatang dan tumbuhan, tapi bukan berarti bebas mengeksploitasi mereka. Mereka juga makhluk hidup, mereka itu creature nya Tuhan juga. Jangan mentang-mentang manusia lebih tinggi derajatnya ketimbang makhluk lain sampe kita yang mengeksploitasi mereka.

Mungkin kalo gue udah punya duit dengan kekuasaan yang tinggi, gue bakal buat apa aja untuk ngelindungin hewan yang satu ini. Kalo sekarang, mungkin baru lewat tulisan. Karena gue blm bisa apa-apa dan ngga punya apa-apa.

Di dunia ngga ada orangutan selain di Sumatera dan Kalimantan. Mungkin ada, tapi di kebun binatang. Ngga ada habitat lain selain di hutan hujan Indonesia.

Dan sepenglihatan gue, orang Indonesia, terutama generasi-generasi kita saat ini sangat jarang yang concern tentang orangutan. Coba deh cari tau tentang orangutan kita. Mereka punya kita, masa kita mau sia-sia-in mereka?

Yang gue liat di internet, disana kebanyakan orang bule ketimbang orang Indonesia. Mungkin ada, tapi hanya penduduk sekitar dan polisi hutan. Kalau gue dikasih kesempatan, gue mau kok terjun langsung kesana.

Dunia peduli, masa kita ngga?

Semoga ini bisa mencerahkan orang-orang yang membaca dan lebih peduli terhadap orangutan. #saveorangutan!!!!!!!!

Selamat siang!!

Monday, July 22, 2013

Fanatik

Semua yang berlebihan itu tidak baik. Tidak semua orang tau akan hal ini. Karena masih banyak orang yang berlebihan.

Mungkin mereka tau, tapi mereka tetap saja berlebihan. Atau mungkin mereka tau, tapi hanya dalam hal tertentu mereka sangat berlebihan. Ada yang tau, dan mereka mencoba untuk tidak berlebihan dalam menghadapi sesuatu.

fa.na.tik
[a] teramat kuat kepercayaan (keyakinan) thd ajaran (politik, agama, dsb)

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/fanatik#ixzz2ZcBcAIs6



Fanatik ini kalau dilihat dari artinya diatas, itu memakai imbuhan ter-. Dan ter- itu melambangkan paling atau sangat. Menurut gue ini berlebihan. Kurang ngerti sih kalo misalkan ini paling atau sangat itu berlebihan atau tidak.

Tapi menurut gue, fanatisme itu ada 2. Fanatisme terbuka, dan Fanatisme buta.

Tidak semua fanatisme itu buruk. Fanatisme terbuka adalah fanatisme yang menghargai sudut pandang lain, tidak selalu merasa benar apa yang ada di prespektif dia sendiri.

Fanatisme buta adalah fanatisme yang tidak bisa melihat orang lain, hanya berpegang pada keyakinan sendiri yang dia belum tentu tau apa itu benar atau salah. Fanatisme yang bisa mengakibatkan anarkis.

Tidak salah kalau fanatik. Setiap klub sepakbola harus ada suporter fanatik yang mendukung mereka dikala mereka terpuruk, dan ketika mereka "terbang tinggi". Setiap musisi perlu fans fanatik yang selalu hadir disetiap konsernya untuk meramaikan acara mereka. Setiap orang harus fanatik terhadap agama/kepercayaannya, agar tidak mudah terhasut dengan ajaran lain. Indonesia butuh rakyat yang fanatik untuk menjaga keutuhan NKRI ini.

Tapi.... Klub sepakbola tidak membutuhkan pendukung yang mempunyai fanatisme buta yang akan merusak apa saja ketika mereka melawan musuh bebuyutan mereka. Musisi tidak membutuhkan fans yang memiliki fanatisme buta yang akan berkelahi dengan fanbase musisi lain ketika mereka kalah dalam sebuah kompetisi musik. Agama tidak membutuhkan pengikut dengan fanatisme buta yang akan menghancukan ideologi dari agama itu serta memperburuk citra dari agama tersebut. Dan Indonesia tidak membutuhkan rakyat dengan fanatisme buta yang hanya membuat malu bangsa ini dan mengobrak-abrik NKRI dari dalam.

Kalimat terakhir yang akan menutup postingan kali ini adalah "Siapa yang membela Tuhan, dia sombong. Tapi siapa yang tidak sombong, akan dibela Tuhan."

Selamat Malam!!

Thursday, July 18, 2013

Kecintaan

Jujur bingung buat milih judul untuk postingan kali ini.

Seni itu banyak. Mungkin seni yang mau saya bahas disini adalah apa yang dinamakan Art. Bukan air seni. 

Kesenian itu banyak. Seni lukis, ukir, musik, tari, sastra, dan banyak lagi. Saya penikmat sekaligus penggila seni. Untuk saya, seni itu adalah kebebasan. Kebebasan untuk berkreasi. Kebebasan untuk berekspresi. Sehingga dalam kebebasan itu kita melihat keindahan. Kalo kata orang-orang "ada estetikanya".

Menurut gue semua orang mempunyai bakat dalam bidang seni. Seorang ilmuan punya kemampuan dalam bidang seni. Mereka menemukan suatu rantai kimia, misalnya. Ketika mereka menemukan itu, mereka pasti akan menyajikannya secara indah untuk dipresentasikan di muka umum sebagai hasil karya nya. Menurut saya, itu lah seni.

Seni itu pasti menciptakan keindahan dan otomatis memiliki keindahan. Semua orang mempunyai bakat dan ketertarikan terhadap seni yang berbeda-beda. Ada yang suka menggambar, memahat, mematung, origami, menyanyi, menari, dan lain-lain.

Saya sendiri punya ketertarikan dibidang musik. Meskipun tidak terlalu mengerti musik, saya tapi sangat menyukai musik. Banyak orang berkata musik adalah bahasa universal. Ya, karena tanpa anda mengetahui isi liriknya, anda dengan mudah bisa menyukainya. Bahkan tanpa lirikpun, musik sudah sempurna.

Tapi dibalik ketertarikan saya dengan musik, saya adalah penggemar berat seni tari. Apa saja. Modern dance? Traditional dance? Saya suka semuanya. Bahkan saya ingin bisa menari. Dan saya sangat mengagumi orang yang jagi menari. 

Menurut saya tarian itu lebih terasa unsur kebebasannya. Meskipun banyak aturan dalam menari, tapi ketika anda punya passion dalam menari, orang yang melihatpun tau kalau anda sangat "bebas" ketika menari. 

Saya salut dengan penari pria. Kenapa? Karena di negeri ini terlalu kuat dengan yang namanya kodrat. Sedang negeri ini sama sekali tidak mengerahui apa kodrat mereka. Mereka pikir menari itu bukan kodrat laki-laki. Banyak orang tua yang tidak mau anak laki-lakinya menjadi penari. Banyak orang yang mengejek seorang laki-laki yang menjadi cheerleaders. Dalam kamus bahasa inggris Cambridge tidak dijelaskan bahwa cheerleaders itu untuk wanita. Tapi disitu dikatakan "BIASANYA". Beda kan?

Jadi kenapa harus kaku melihat pria menari? Selama orientasi seksualnya masih "lurus", kenapa tidak? Jangan mencibir pria yang menari kalau anda takut untuk menari. 

Dan saya ingin suatu saat mendapatkan pasangan yang pintar menari *curhat dikit. Hehe*

Selamat Malam!

Monday, July 15, 2013

Keliling

Siapa yang ngga mau keliling dunia? Pasti setiap orang kalo misalkan dikasih kesempatan keliling dunia, bakal dia ambil. Tanpa bertanya kenapa, bagaimana, kapan. "Anda saya kasih trip perjalanan keliling dunia" dengan memberikan bukti serta tiket dan voucher hotel, pasti semua orang langsung "Oke, makasih banyak" atau langsung mengungkapkan kegembiraannya itu. Orang normal loh ya, bukan orang ngga normal. Apa lagi gratis.

Itu wajar. Kenapa? Karena setiap manusia(normal) memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka tidak puas dengan apa yang ada disekitar mereka. Mereka pasti mau berkeliling. Apa lagi tempat yang akan dituju adalah tempat yang mereka belum pernah sama sekali kunjungi dan hanya mengetahui itu dari internet. Itu sangat membuat anda amat excited.

Gue itu bisa dibilang punya jiwa petualang yang tinggi. Jiwa petualang gue ini dibatasi dengan isi dompet dan permit dari orang tua yang tidak menghendaki gue untuk menyalurkan jiwa petualang gue yang super ekstrim ini. Ya itu menurut gue karena mereka terlalu sayang dan cinta sama gue sehingga mereka seperti itu dan gue bangga jadi anak mereka. 

Dengan jiwa petualang yang super duper ekstrim itu, paling ngga bisa gue kalo liat video atau apapun entah foto atau apapun tentang orang yang bertualang. Kemana saja. Tiap gue liat tweet nya mbak @TrinityTraveler dan sekaligus baca blognya di Naked Traveler dan laiat videonya, gue sangat ngiri dan pengen banget rasanya berada disana. 

Gue juga ngiri sama bule-bule yang gue ketemu waktu gue ke Jogja. Mereka gue tau dateng dari amrik, dari eropa, hanya untuk melihat keindahan negeri ini. Men, ini tuh gila banget. Gue pengen sewaktu-waktu kaya mereka. Waktu itu gue pernah denger mereka bincang2 gitu sama orang sini, sependegaran gue sih mereka bilang mereka dari US dan mereka itu hanya anak-anak SMA. Sahabatan gitu lah kaya film "5cm". Itu seru banget pastinya ya... Dan gue sangat ingin seperti mereka.

Gue juga iri sama temen-temen gue yang dengan gampangnya mereka ke luar negeri. Entah buat ngelanjutin pendidikan, entah hanya numpang bernafas a.k.a. berwisata disana. Gue pengen kaya mereka. Dan suatu saat, gue pasti bisa seperti mereka(AMIN). 

Tapi, gak cukup itu. Gue punya prinsip bahwa "gue akan pergi keluar negeri dengan duit gue sendiri setelah gue sudah kelilingin negara gue". Itu prinsip gue. Prinsip itu ngga berlaku ketika gue dibayarin atau gratis dapet trip keluar negeri ya. Itu namanya berkat istimewa. Tanpa gue kerja dan tanpa duit gue, gue bisa keluar negeri. Itu namanya anugerah. Jadi untuk apa ditolak. Hanya orang bodoh yang menolak anugerah.

Prinsip gue ini diperkuat dengan kata-kata dari dosen Character Building gue yang bilang "Sebelum lu jelajahin dunia, lu mesti jelajahin tanah kelahiran lo dan bapak lo. Kalo ngga, apa yang lo bisa omongin waktu lo keliling dunia dan ditanya 'apa yang menarik dari Indonesia?'". 

Bener juga sih. Masa iya waktu kita ditanya begitu kita buka wikipedia, buka google buat nyari apa-yang-harus-dibanggain-dari-Indonesia? Ngga mungkin kan? Yang ada lo beserta Indonesia bakal dipermalukan sama mereka. 

Indonesia itu terlalu Indah. Gue yang lahir di Jakarta, baru pernah ke Anyer, Bandung, Jogjakarta, Manado, dan Makassar. Di Makassar itu juga waktu kecil dan hanya beberapa jam. Dan dengan ke-sedikit-an tempat yang gue kunjungin, gue udah bisa bilang kalau Indonesia itu wordless. Ngga ada kata yang bisa diucapin kalo lo bertanya tentang Indonesia. Baru 4 tempat itu gue udah bisa ngomong gitu. Gimana kalo gue udah jelajahin semuanya?

Jangan bangga untuk menjelajah negeri orang sebelum anda menjelajah negeri sendiri.

Indonesia itu indah, Bung! Selamat Malam!

Sedikit tentang Indonesia terluar: 


Pantai Nebrala, P. Rote, Selatan

Pulau Weh, Barat.







P. Miangas, Utara





Merauke, Papua, Timur.

Wednesday, July 10, 2013

Hitam-Putih

Tenang, kali ini gue ngga akan membahas mengenai acara master corbuzier...

Gue disini mau bahas tentang warna yang sangat menjadi perdebatan di era tahun 1900an. Mungkin dari 1900-1990. Iya, hitam dan putih. Kenapa berdebat? Karena di era ini, orang-orang sedang gencar-gencarnya menggusur sistem politik Apartheid. Mungkin udah banyak yang tau apa apartheid itu ya.

Apartheid itu adalah hukum atau kebijakan yang memisahkan sekaligus membedakan antara orang yang berkulit hitam dan putih. Disini yang diuntungkan adalah para "kulit putih" dan yang dirugikan adalah orang berkulit hitam.

Dalam politik ini, orang kulit hitam dijadikan sebagai budak oleh para kaum kulit putih. Mereka dipaksakan dengan kerja yang sangat keras, bahkan di zaman ini ada yang namanya "orang rantai", mereka adalah orang-orang yang dirantai seperti binatang digiring juga seperti binatang untuk bekerja dan setelahnya untuk istirahat.

Gue gamau bahas panjang soal sejarah politik ini, tapi gue disini mau bilang kalo sekarang juga masih ada sisa-sisa aparheid itu. Apa? Banyak. Cuman yang gue mau concern sekarang itu adalah ketika orang Indonesia(yang otomatis berkulit sawo matang) mempunyai pandangan bahwa kulit putih itu "lebih keren" dari kulit hitam. Jadi disini mereka belomba-lomba untuk memutihkan kulit dengan cara apapun agar terlihat "lebih keren".

Sedangkan di negara sahabat kita, Brasil, mereka mengaggap kalau orang hitam lebih keren dari orang berkulit putih. Brasil sama dengan kita, mereka memiliki kulit sawo matang. Tapi mereka tidak mau berlomba menjadi putih, malah kebalikannya. Sehingga mereka sangat senang pergi ke pantai.

Kerang, Pantai Ngurbloat, Maluku Timur

Masyarakat kita disini suka ke pantai, tapi kalau tidak panas. Mungkin pagi sekali sebelum ada matahari dan sore setelah matahari turun. Sedang di Brasil, orang ke pantai dari pagi sampai sore. Dari matahari menampakan sinarnya sampai dia kembali masuk. Toh kalau mau diadu dengan pantai kita, Brasil ngga ada apa-apanya. Mereka punya pantai terkenal seperti Ipanema dan Copacabana. Kalau di Indonesia, pantai apa yang terkenal? Kuta? Sanur? Senggigi? Pantai Pink di Labuan Bajo? Pantai apa lagi? Banyak kan?

Malah kata kata "hitam" sering dipakai oleh orang-orang yang tidak bisa menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Kalau ada orang yang mengejek seseorang yang berkulit hitam dengan meneriakan kata "hitam", gue kasian ngeliat orang yang mengejek, bukan yang di ejek. Beda dengan ketika "hitam", atau "tem", atau "blek" menjadi panggilan ya. Mungkin mereka sudah ngga akan sakit hati. Karena itu sudah biasa.

Ada lagi yang membandingkan keputihan kulit mereka dengan orang lain, seperti adik, kakak, teman, pacar, dan lain-lain. Memang kenapa kalau "hitam"? Masalah? Kulit hitam itu mengganggu hidup kalian? Tidak kan?

Jadi coba deh respect sama orang lain, jangan biarin apartheid yang sudah dihapus berdasarkan perjuangan orang-orang seperti Nelson Mandela dan Bung Karno masih ada di muka bumi ini, terutama di Indonesia.

Selamat Dini Hari! Dan selamat sahur buat yang menunaikan ibadah puasa.

#indonesiaunite

Sunday, July 7, 2013

Pertanyaan (?)

Banyak pertanyaan yang ada dibenak saya. Banyak yang penting dan tidak kalah yang tidak penting. Anehnya semua difikirkan dan hanya ketika memikirnya saya menghabiskan waktu sepersekian detik dengan nalar cepat untuk memikirkan dan mendapatkan solusi.

Tidak semua menemukan titik temu. Ada yang langsung, ada yang menunggu untuk diproses lagi. Proses pemilahan, mana yang saya suka untuk saya pikirkan lebih lanjut, dan mana yang akan saya buang dan tidak akan saya pikirkan lagi.

Dan baru-baru ini saya berfikir tentang takdir. 

Banyak orang berkata kalau Tuhan punya cerita tersendiri bagi kita. Seolah hidup kita itu bagaikan buku cerita Tuhan yang sudah jadi dan siap dibaca oleh orang lain. Dimana didalam buku itu Tuhan sudah menuliskan dengan tintanya seluruh kehidupan kita. Semuanya, sampai kepada akhir cerita dimana kita akan kembali menghadapNya.

Tapi beberapa ahli dan beberapa pemikir menyebutkan bahwa kita telah diberikan free will(Kehendak bebas) dari Pencipta untuk memilih sendiri jalan kehidupan kita. Jadi kalo dalam kasus ini, teori pertama tentang takdir tidak berlaku. Jadi di sini, orang membuat buku ceritanya sendiri. Dia menuliskan dengan tintanya sendiri, sendang Tuhan hanya menjadi assistennya yang selalu memberikan beberapa usul yang seharusnya kita lakukan. 

Tapi ketika saya memikirkan sekali lagi, ternyata saya berfikir bahwa kedua pemikiran diatas sama-sama benar, tapi tidak mutlak. Di satu sisi, Tuhan memang memberikan kita jalan, dan Dia juga memberikan kita kehendak bebas. Mungkin persis seperti orang yang diberikan peta. Kita sebagai orang itu, dan Tuhan adalah seorang dermawan yang memberikan saya peta lengkap dengan jalan dan tujuan dari jalan-jalan tersebut.

Pemikiran saya berlanjut, dan ternyata di teori itu ada kelamahan. Ketika Tuhan menjadi demawan yang hanya memberikan kita peta yang sangat lengkap, otomatis membiarkan kita berjalan sendiri, tanpa Tuhan disamping kita ketika kita berjalan.

Setelah saya pikir, yang saya belum menemukan kesalahannya sampai sekarang adalah Tuhan sebagai sutradara yang merangkap menjadi penulis cerita, kita sebagai aktor yang memerankan peran "kita" sendiri, dan hidup kita ini adalah cerita dari film tersebut. 

Disini kita diberikan kebebasan berekspresi, dan cenderung berekspresi tapi masih dalam ruang lingkup yang ada dalam skrip cerita. Dialog Bebas. Kita bebas mengeluarkan semua yang kita punya demi terjalannya film tersebut. Tapi ada waktu dimana sang aktor lari dari jalan cerita. Entah ekspresi mereka yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sutradara, atau apapun yang memang keluar dari jalan cerita.

Ketika itu, menjadi tugas sutradara untuk mengembalikan pemain tersebut ke jalan cerita yang sebenarnya, yang diinginkan oleh sutradara itu sebagai sutradara dan penulis cerita. Dan satu kemiripan lagi, tidak ada sutradara yang mau film yang dibuatnya jelek. Selalu baik. Apapun akhir dari cerita itu, sutradara pasti membuat film itu dengan yang terbaik yang dia punya.

Itulah pemikiran saya...

Selamat malam!

Friday, July 5, 2013

Tanah Surga

Baru aja gue nonton film Indonesia yang menurut gue sangat menyentuh dan menyentil sekali bagi siapa yang menonton. Menurut gue pribadi, ini adalah gambaran kita, orang Indonesia zaman ini.

Film itu judulnya: Tanah Surga, Katanya..

Film karya Dedi Mizwar, yang memberikan inspirasi sekaligus teguran kepada kita semua yang pesimis terhadap negeri ini. 

Disini di ceritakan tentang bagaimana kita bisa mempunyai rasa nasionalisme tinggi di hati dan pikiran kita. Kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia. Kata pepatah "Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang". 

Latar cerita ini di perbatasan, antara Indonesia dengan malaysia. Dimana setiap orang yang sangat berpeluang untuk pindah menjadi warga negara lain memilih untuk menetap menjadi warga negara Indonesia.

Disini diperlihatkan semuanya, perbedaan yang terjadi di perbatasan. Di negeri orang itu sangat makmur, jalan beraspal, pasar dekat, rumah sakit dekat, rumah sudah beton. Sedangkan di wilayah bangsa ini, jalan masih tanah, masih banyak hutan dan warga masih tinggal di rumah dari kayu yang sudah lama dan lapuk

Tapi di wilayah itu, ada seorang kakek yang menjadi pahlawan saat Indonesia diserang oleh malaysia dan juga yang sangat cinta kepada bangsa ini. Dia tetap memilih sakit ketimbang dia harus pergi ke negeri orang itu. Dia mewariskan nasionalismenya kepada cucunya. 

Film yang baik dimana di film ini diajarkan untuk mencintai tanah air sejak kecil dan orangtua harus memupuk rasa nasionalisme kepada anaknya sejak dini. Selain itu, di film ini di ceritakan tentang pejabat-pejabat negara yang tidak tahan dengan kritikan maupun sindiran dan langsung ngambek. Memang itulah gambaran masa kini dari negeri ini, khususnya wilayah perbatasan.

Gue sebagai penonton sangat terenyuh dengan film ini. Bagi kalian, anak muda yang kurang bersyukur dengan negeri ini, kalian harus banyak mencari informasi tentang sejarah dan tentang semua yang ada di negeri ini. Kalo mau, nonton juga film ini. 

Ketika kalian sudah ngelakuin semuanya itu, dan kalian masih ngga suka dengan negeri ini, baru deh kalian pindah kemana aja kalian mau. Buat gue yang belom pernah kelilingin negeri ini, denger beritanya dari orang lain udah cukup bikin gue bersyukur jadi orang Indonesia.

Bukan menggurui, tapi memberikan saran. Mau dilakukan, bagus, ngga juga gak ngarus sama gue. Ini tentang kalian dengan negeri dimana kalian lahir. Dan itu bukan urusan gue.

Kalo mau nonton, ada link youtube-nya dibawah sini
Tanah Surga(Youtube)

Selamat malam!

Thursday, July 4, 2013

#TheArtofLettingGo

Mungkin banyak orang pernah denger atau liat kalimat yang jadi judul postingan kali ini.

Yang gue tau, hash-tag ini pernah dibuat sama om Barry Likumahuwa. Iya, The Art of Letting Go.

Gue sangat terinspirasi sama kalimat ini. Kenapa? Ya karena ini tuh bagus aja. Kalo diartikan secara harafiah dan menurut bahasa inggris versi saya sendiri, artinya adalah seni untuk melepaskan. Dan ini sangat dekat sekali dengan ikhlas.

Kita ikhlas pasti ada yang kita korbanin. Kita ikhlas pasti ada sesuatu yang pergi dari kita. Entah itu barang kita, orang yang ada di dekat kita, orang yang kita sayang, bahkan kebahagiaan kita. Masih banyak yang lain yang pergi dari kita yang kita harus ikhlaskan.

Ikhlas itu emang sulit. Kenapa? Menurut gue itu karena ikhlas itu sangat bertentangan dengan hati dan pikiran. Kenapa hati dan pikiran? Ya karena ketika kita ikhlas, disitu ada saat dimana hati dan pikiran kita sinkron untuk berkata tidak untuk melepaskan.

Ketika itu, pikiran yang mempunyai vocabulary kata "ikhlas" beserta pengertiannya harus dengan ikhlas juga berkata kepada hati untuk ikhlas. Disitu ada sesuatu yang mengganjal karena hati itu paling susah untuk ikhlas untuk ikhlas. Jadi, pasti hati akan merasa lebih sakit dari pikiran yang lebih mementingkan logikanya.

Jadi jangan heran kalau lagi mencoba ikhlas akan sesuatu, hati akan merasa sakit. Agak nyesek gimana gitu. Itu wajar. Dan pasti ada saat dimana kita bisa cepet ikhlasnya, dan dimana kita susah banget untuk ikhlas. Biasanya tergantung dari berharganya sesuatu yang hilang dari kita itu yang menyebabkan kita seperti itu.

Tapi ketika hati kita bisa sepenuhnya ikhlas, semua akan terasa lega. Ngga ada lagi kesedihan atau sakit hati. Ngga ada yang namanya rasa ingin memiliki yang sudah terlepas dari kita itu.

Ya, itulah seninya. Ada sakit, ada sedih, tapi ketika kita menaklukannya, akan ada kelegaan dan kebahagian yang lain.

Itulah, The Art of Letting Go.

Selamat Malam!

Wednesday, July 3, 2013

Ingkar

Setiap orang yang menerima janji, pasti mereka 100% menginginkan janji itu direalisasikan. Tapi tidak semua orang yang berjanji akan merealisasikan janji mereka itu. Inginpun tidak.

Sangat tidak adil, kan?

Mereka berjanji, tapi dengan sadar mereka mengingkari janji itu.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa "Janji itu hutang!", iya benar, janji itu hutang. Tapi ketika anda mengingkari janji itu sama saja hutang anda sudah anda bawa sampai mati. Karena biasnaya janji itu ada tenggang waktunya. Selain itu, ketika sudah ingkar, berarti janji itu pecah, dan tidak ada lagi.

Itulah sebabnya janji harus dipenuhi. Tunda mungkin masih masuk akal ya, tapi sekali diingkari, janji tersebut sudah tidak berlaku dan menjadi "hutang yang dibawa mati". Kenapa? Iya, karena anda belum melunasi hutang itu sampai hutang itu hilang. Ketika sudah tidak ada, dan anda berusaha untuk menepatinya, itu sudah terlambat.

Bukan mau bilang kalau menunda janji itu baik, tidak. Tapi ketika kita menunda janji yang tidak ada tenggang waktunya itu, janji kita masih berada dalam posisi. Tapi ketika kita ingkar, janji tersebut sudah mati.

Jadi, apa masih mau mengingkari janji?

Keluh

Dulu gue pikir curhat itu sama dengan mengeluh.

Jadi ketika gue samakan kedua hal tersebut, jadi banyaaaaaakk banget pertentangan disini. Ada yang bilang "Kalo ada masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri nanti gila", di lain pihak ada yang bilang "Kalo ngeluh itu berarti kualitas hidupnya rendah".

Jadi aneh kan? Serba salah. Semuanya bertolak belakang. Dimana keuntungan yang satu tapi kerugian untuk yang lain. Begitupun sebaliknya. Aneh. Kenapa yang harusnya sama dengan itu tapi kenyataannya sangat terbalik. Ada apa?

Ternyata presepsi gue tentang kedua hal itu salah. Salah besar. Setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata keluhan itu bukan curhat dan curhat itu bukan keluhan. Keluhan itu cerita tentang suatu kejadian di hidup kita yang kita ceritakan kepada orang lain. Keluhan itu menurut pengertian yang ada di KBBI, ungkapan kesusahan atau kesakitan. Itulah mengeluh. Tapi menurut gue sendiri, keluhan itu ngga akan ada tanpa kata "Aduh", "duh", "tapi kenapa....?" , "huh", dan sebagainya.

Mungkin ketika curhat, kita sempat mengeluh, tapi itu bukan bagian dari curhat. Kalo kata anak band, ada yang namanya intro, ada yang namanya check sound. Nah, si keluhan ini itu fase check sound, karena fase ini bukan masuk kedalam bagian lagu. Sebenernya ngga selalu keluhan ada di depan seperti check sound, tapi gue kasih perumpamaan itu biar bisa bedain seperti apa perbedaannya.

Jadi intinya, curhat itu ngga dilarang selama itu ngga membuat indikasi orang mengeluh. Saran gue sih lebih baik memperbanyak cerita ke teman yang kalian percaya, jangan ke semua orang, dan perkecil frekuensi mengeluh anda. Itu akan membuat hidup kita lebih bahagia dan berkualitas. Inget, ini saran loh, diikutin gapapa, ga diikutin juga gapapa. Hanya hasil pemikiran sendiri. Tanpa ada niat menggurui.

Selamat Malam!!