Thursday, October 24, 2013

Gravity

Kali ini tentang ke atas, dan ke bawah.

Semua kita pasti pernah naik, pernah turun. Naik tangga, turun tangga. Apa yang kita rasakan? Pasti semua di dunia ini pasti sama perasaannya. Ketika naik, itu berat. Tapi ketika turun, semuanya ringan. Ngga ada beban. Kayak air yang mengalir turun. 

Gue rasa ngga ada orang normal di dunia ini yang merasa kalo turun itu lebih berat daripada naik tangga. Ngga ada satu pun orang normal. Yang kita omongin disini tangga, bukan elevator atau lift

Kenapa semua orang merasanya gitu? Kenapa semua orang selalu merasa hal yang sama ketika naik dan turun? Iya, karena ada suatu kekuatan di luar sana yang menyebabkan hal seperti itu. Iya, itu adalah judul dari postingan kali ini.

Gravitasi yang menyebabkan kenapa kita semua selalu berat untuk naik ke atas dan mudah untuk turun ke bawah. Gravitasi ini berasal dari dunia. Dari bumi tepatnya. Gravitasi ini adalah gaya tarik yang dilakukan oleh seuatu benda terhadap beda lain. Setiap benda mempunyai gravitasinya masing-masing yang besarnya sesuai dengan massa dari benda itu sendiri. Semakin besar massanya, semakin besar pula gravitasi yang dihasilkan olehnya.

                                                                                                      ***

Kenapa kita selalu merasa kita itu beraaaaaaatt banget untuk maju? Untuk sukses, misalkan. Kenapa orang lain tinggal duduk, dapet uang. Tinggal tidur, dapet uang. Sedang kita harus selalu kerja keras, pergi pagi, pulang malem, selalu seperti itu. Malah dengan begitu, belum tentu uang itu bisa datang ke kita. 

"Pergi pagi pulang malam itu tidak menjamin uang akan datang ke kita. Sama sekali tidak menjamin"

Ketika kita memakai cara yang kebanyakan orang menyebutnya dengan "cara halal", itu pasti akan lebih sulit daripada cara yang orang banyak jg bilang "cara haram". Kita banting tulang, banting semua yang kita punya hanya untuk mendapatkan pendapatan (uang) pribadi agar kita tidak memiliki ketergantungan akan orang lain. Tapi itu beda jika kita mendapatkan uang dengan cara yang "tidak halal" itu tadi.

Apa beda nya?

Jelas beda, antara "haram" dan "halal" sendiri sudah beda arti. Selain itu, yang membedakan antara kedua cara ini adalah perlakuannya. Haram akan selalu mendapatkan uang dengan cara yang instan. Misalkan dukun, korupsi, judi, human traffic, menjual organ dalam manusia,  dan masih banyak lagi yang ilegal untuk dilakukan. Kalau yang halal semua pasti tau. Iya, kerja kantoran, atau berusaha sendiri. Berdikari. Itu yang halal. Kalaupun kita meminta, kita hanya meminta pada Sang Pencipta, bukan pada hal-hal lain. Beda jauh kan?

Dan pasti... Pasti kita yang memakai cara halal tersebut sering iri dengan mereka yang memakai cara instan untuk mendapatkan sesuatu. Sedang kita harus bersusahpayah dulu untuk meraih apa yang ingin kita raih.

Tapi disini gue mau menekankan apa yang gue blg di atas. Sama persis. Kalau kita susah, kita itu artinya sedang berjalan menuju tempat yang lebih tinggi. Susah, berat, banyak tantangan. Apa lagi ketika kita melihat orang yang turun. Pasti kita iri dengan mereka yang kita fikir "enak banget ya turun ga ada apa-apa, mau duduk juga ntar turun sendiri, kan ada gravitasi", sedang kita bersusah-susah untuk mencapai puncak.

Tapi ya seperti yang kita tau, dengan usaha kita, kita akan sampai pasti ke puncak itu. Pasti. Dan mereka yang turun, pasti juga akan sampai ke dasar. Pasti.

Jadi, jangan ikut dengan arus dunia (ini diibaratkan dengan gravitasi) yang memberikan kita contoh untuk mendapatkan kesuksesan dengan instan.

Karena, ketika kita merasa berat, kita sedang menanjak naik, dan ketika kita merasa gampang(instan), itu berarti kita sedang turun ke dasar.

Semudah itu membedakannya.

Bersyukurlah ketika kita merasa "berat" untuk menjalani hidup ini, karena suatu saat, kita akan sampai di "atas"

Selamat malam!


Referensi dari Khotbah Dkn. Jefry Mantiri.

Thursday, October 17, 2013

Kesegaran

Apa bedanya anda berada di tengah padang pasir yang panas, dengan anda berada di tengah kutub selatan, yang hanya turun hujan selama 100an tahun sekali?

Pastinya orang lebih banyak memilih untuk tinggal di tempat yang dingin daripada di tempat panas. Mungkin karena mereka fikir di kutub, es bisa diubah menjadi air segar. Padahal, es di kutub tidak bisa dijadikan air semudah itu. Ya, itu berarti setiap orang butuh kesegaran.

Setiap orang butuh kesegaran, bagaimanapun bentuknya. Apa lagi ketika mereka sedang lelah, capek, mumet, dan segala hal lainnya yang membuat mood mereka menjadi tidak karuan. Mereka butuh sesuatu yang segar. Mungkin seperti musik untuk menyegarkan telinga, film yang mereka sukai untuk menyegarkan mata, minuman dingin untuk menyegarkan mulut, permainan untuk menyegarkan otak.

Ya, kita disini bisa sepakat bahwa setiap orang membutuhkan kesegaran ketika mereka sedang drop. Dalam hal diatas, yang drop adalah moodnya.

Begitu juga dengan masyarakat sepakbola di Indonesia ini.

Ditengah kemarau panjang, ditengah keputusasaan, ditengah "badai" yang mendera organisasi induk sepakbola, didalam ke-pesimis-an seluruh rakyat akan sepakbola negeri ini, yang kita semua butuhkan adalah kesegaran.

Ya, tidak hanya kemenangan. 2010, kita menang, tapi di partai puncak, kita kalah. 2011 kita menang, tapi lagi-lagi di partai yang sama dan lawan yang sama, kita kalah. Jadi apa artinya kemenangan kalau tidak disertai sebuah piala/gelar? Hanya ada segelas harapan disana. Iya, segelas harapan yang tak ada isinya. Hanya makin membuat dahaga para rakyat sepakbola negeri ini.

Belum lagi terdengar kabar kalau kekalahan-kekalahan di partai puncak dan yang lainnya hanya permainan para sampah masyarakat yang duduk di singgasana organisasi untuk kepentingan mereka dan oraganisasi kenegaraan mereka semata. Makin pesimis lah semua rakyat negeri ini.

Seiring perjalanan, makin lama berjalan perlahan kita melihat suatu oase. Oase besar di ujung sana, tapi kita pun tidak mau terjerumus ke "lubang" sama, oleh karena itu kita menganggap dalam hati "ah, mungkin ini hanya fatamorgana lagi, seperti yang sudah-sudah... Ya, jalanin aja lah". Tapi semakin dia berjalan semakin dekat, oase itu pun semakin lama semakin nyata.

Dan, akhirnya, sampai juga kita disebuah oase yang menyediakan mata air yang sangat segar di tengah perjalanan menyusuri padang pasir yang gersang dan panas itu. Ya, itu adalah gambaran kita, rakyat sepakbola negeri ini, setelah TimNas U-19 berhasil memenangkan kejuaraan AFF U-19 di Sidoarjo.

Belum selesai berpesta, sudah ada pesta selanjutnya menunggu ketika (lagi-lagi) TimNas U-19, lolos ke putaran final AFC U-19 Championship dengan titel juara grup setelah menumbangkan seluruh lawannya (Laos, Filipina, bahkan Korea Selatan -- Sang macan putih asia) tanpa ampun. Seluruh rakyat sepakbola negeri ini bak disiram oleh air segar yang datang dari surga. Saya pun terharu atas performa para pemain tim ini.

Mereka membabat semua lawan mereka tanpa kenal lelah. Mereka terus percaya diri, fokus, rendah hati, serta bersemangat dalam membela negeri ini, negeri yang -- Mungkin nantinya -- akan menelantarkan mereka kala mereka sudah tua.

Seperti hal nya anak kecil, apa yang mereka lakukan hanya bermain, bermain, dan bermain. Mereka melakukan apa yang mereka senangi, ya, passion mereka sendiri. Dengan lincahnya meliuk-liuk ditengah lapangan, memberikan bola kepada kawan, merebut bola dari lawan, dan menceploskan bola itu ke gawang lawan.

Ya, mereka hanya melakukan tugasnya sebagai seorang Indonesia, seorang pemain sepakbola, dan seorang "anak-anak". Bahkan, yang mereka beri keuntungan pun tidak mengakui mereka. Mereka hanya disebut sebagai amatir. Mereka sama sekali tidak dihargai. Tapi, mereka tidak melihat kekonyolan itu. Yang mereka tau, mereka harus membela bangsanya, harus memberikan yang terbaik, dan mereka harus bermain. Itu yang mereka tau.

Ini lah, anak-anak bangsa yang menjadi panutan bagi "orang tua"nya. Mereka sudah menjadi teladan sejak mereka muda. Tanggung jawab, disiplin, kerendahan hati, kesabaran, tidak egois, determinasi yang tinggi, serta karakter mereka harus dicontoh oleh setiap orang di negeri ini, terkhusus para senior mereka yang tak kunjung mendapatkan titel.

Kekuatan mereka terletak dalam karakter mereka. Karakter yang ditemukan dan dikembangan oleh sang pelatih, yaitu religius. Dengan karakter ini, semua ini bisa mereka dapatkan, bahkan lebih dan lebih jauh dari ini yang bisa mereka hasilkan.

Dengan susah payah pelatih berkeliling negeri ini untuk mencari talenta-talenta muda berbakat yang punya akhlak dan teknik yang jitu dalam bermain, dan terpilihlah 38 orang yang menjadi TimNas U-19 yang mereka menamai dirinya "Skuat Garuda Jaya".

Dikomando oleh Evan Dimas, mereka terus bermain dengan hati, bukan untuk bonus, bukan untuk nama besar, bukan untuk harga diri, melainkan untuk bangsa, rakyat, keluarga, dan untuk mereka sendiri. Mereka tau mereka membawa nama besar INDONESIA di pundak mereka dan garuda tepat dijantung mereka. Mereka tau mereka membawa nama keluarga mereka, mereka tau mereka didukung oleh rakyat yang sudah haus akan gelar dan trofi, dan mereka tau, mereka dilahirkan untuk bermain sepakbola.

Dengan tangguh, sabar, rasa "lapar" dan rendah hati, satu persatu lawan mereka habisi. Karena mereka percaya bahwa "Tak ada yang tak bisa dikalahkan di dunia ini, kecuali Tuhan". Itulah yang tancapkan oleh Indra Sjafrie, sang arsitek tim ini, dalam membangun karakter dan pola pikir tim ini.

Saya teringat tentang satu statement yang dilontarkan oleh salah satu punggawa skuat Garuda Jaya, Putu gede, "Tim ini memang religius. Walau kami punya jalan masing-masing menuju Tuhan, namun kami tetap berada dalam satu jalan yang sama untuk menerbangkan tinggi Sang Garuda".

Banyak yang bisa kita pelajari dari mereka. Jangan menutup hati anda untuk belajar sesuatu yang baik, apa lagi dari orang yang "baru lahir kemarin". Karena bisa jadi, apa yang mereka punya lebih dari apa yang ada bangga-banggakan.

Terus bermain sambil berjuang, kawan! Bawa Garuda terbang tinggi bersama kalian! Naikan Merah-Putih dimanapun kalian berada! Harumkan nama INDONESIA ke penjuru dunia!
Kami, bangsa Indonesia, bangga pada kalian!

"Ketika anda mendahulukan Tuhan, semuanya akan ditambahkan"

God Bless INDONESIA!