Tuesday, August 27, 2013

Serakah

"Bumi ini cukup untuk kebutuhan manusia, tapi tidak untuk keserakahan manusia"
- Mahatma Gandhi

Apa yang kita tau tentang Indonesia ini belum cukup untuk mengetahui apa yang terjadi di negeri ini. Iya, itu pemikiran gue beberapa menit yang lalu. Indonesia sangat luas. Terlalu luas untuk diketahui dan dimengerti. Terlalu besar untuk dijelajahi. Terlalu mudah untuk menutupi misteri.

Mungkin semua orang tau apa yang ada di Jakarta. Banjir, Jokowi, macet, Tanah Abang, H. Lulung, MRT, dan lain sebagainya. Tapi apa yang kita tau diluar Jakarta ini? Mungkin kalau ada berita kecelakaan, pembunuhan, pencurian, dan kriminal yang lain, pasti akan ditelanjangi di media.

Mungkin kalau ada berita tentang perpecahan, bencana alam, dan lainlain juga pasti akan dibuka di media. Belakangan ini juga tidak jarang media yang mempertontonkan keindahan Indonesia yang sangat kaya ini.

Semua itu tidak salah. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan. Kenapa? Karena tugas media adalah untuk mencari berita yang disukai oleh masyarakat. Iya, 80% masyarakat Jakarta, dan selebihnya terserah media mau ambil presentase darimana.

Dan anehnya, masyarakat kita suka dengan apa yang ada di media sekarang. Padahal kalau kita liat, beritanya hanya itu itu saja... Tidak ada yang lain. Setiap hari beritanya hanya perkembangan dari berita kemarin dan kemarinnya lagi.

Apa ada berita "PT. xxxxx baru saja menebang 62.000 pohon karet di Kalimantan. Kayunya dijual dan tanahnya dijadikan lahan sawit"? Ada? Kalaupun ada, itu pasti televisi swasta milik suatu partai yang tidak ada dalam pemerintahan dan akan bersaing di pemilu selanjutnya serta tidak dibayar oleh perusahaan yang sedang diberitakan itu.

Apa ada berita "Perusahaan yyyyyy baru saja membuka 100 kilang minyak di laut jawa" dan diakhir berita diberitakan juga kebaikan dan keburukan dari membuka kilang minyak di lepas pantai?

Ada? Saya kira tidak.

Apa ada presenter berita di semua stasiun televisi yang pernah berbicara kalimat "hutan kecil ditengah ladang sawit yang luas"?

Coba kita terla'ah baikbaik deh video dibawah ini...


Ini video tentang kampanye band indie yang berasal dari bali, Navicula. Mereka masuk dalam komunitas Greenpeace untuk berusaha menyelamatkan alam Indonesia.

Kalau gue pikir, kenapa ya di Kalimantan, Aceh, Jawa tengah, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan hampir seluruh penjuru Indonesia, orang "bule" lebih peduli dengan alam dan tradisi kita ketimbang orang lokal?

Apa mungkin karena kita tidak diajari kesenian lokal sehingga kita kurang peduli terhadap kesenian kita? Apa kita tidak diajari PPKn sehingga kita tidak pinya rasa cinta terhadap alam kita? Menurut gue, rasa Nasionalisme itu bukan hanya cinta terhadap negara ini. Tidak hanya cinta kepada kekayaan alam negeri ini. Tidak hanya ingin melawan orang yang merusak nama Indonesia. Tapi juga orang yang peduli dengan alam negeri ini.

Jarang pasti yang tau kalau alam negeri ini sedang digerogoti. Bukan dari luar, tapi dari dalam. Seperti rayap yang menggerogoti kayu, seperti itu juga lah para penguasaha menggerogoti alam yang indah ini.

Buka tambang dimana-mana, setelah selesai tidak ditutup kembali. Tebang pohon, buka hutan untuk dijadikan kebun sawit. Buka kilang minyak di lepas pantai banyak-banyak untuk meraup keuntungan besar tetapi tidak memperhatikan kelangsungan hidup ikan.

Ngga salah buka kilang minyak. Ngga salah menambang kekayaan alam. Ngga salah bikin kebun sawit. Tapi coba, bikin kilang minyak jangan mengotori lingkungan laut. Tutup kembali tambang jika sudah habis yang mau ditambang dengan pepohonan yang sebelumnya ditebang. Dan jangan membuka lahan di tengah hutan!

Anda tau Indonesia ini luas. Indonesia tanahnya subur. Indonesia punya segalanya. Jangan hanya karena serakah, lalu membuka hutan dan dijadikan ladang sawit yang luas.

Hutan Indonesia ini sumber oksigen terbesar di dunia. Lebih dari Amazon.

Mungkin karena hukum sudah tidak berdiri dengan tegak, hingga para penguasaha bisa menang melawan pemuka adat yang malah ditangkap dan dipenjara lantaran mempertahankan tanah dan hutan milik pusaka nenek moyangnya untuk dijadikan kebun sawit..

Jangankan Kalimantan, Papua, atau manapun, Bali, yang adalah permatanya Indonesia, sumber devisa terbesar negara ini dibidang pariwisata, malah diserahkan kepada para investor yang ngga jelas darimana dan malah akan membuat Bali itu hancur ditangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Coba deh searching di Google atau dimanapun apa yang sebenernya terjadi dengan Indonesia. Mungkin masih banyak yang gue belum ketahui, dan itu patut untuk kita mencari tau nya.

Apa kita akan membantu menghancurkan bumi kita sendiri? Atau melawan para "binatang" yang tidak punya perasaan itu?

Mungkin gue disini baru bergerak dengan tulisan. Tapi akan menjadi besar kemudian. Dan gue berharap siapapun yang baca tulisan ini, yang bisa langsung bergerak lebih jauh, silahkan mulai langkah anda dari sekarang.

Untuk menutup postingan ini, gue mau mengutip quote yang ada di video tadi

"Only when the last tree has been cut down; Only when the last river has been poisoned; Only when the last fish has caught; Only than will we find that money can't be eaten."
                                                                                                                    - Pepatah Orang Amerika

No comments:

Post a Comment