As Time flies, gatau gue lupa kapan itu waktunya, tapi gue mulai menyukai emping. Kalau gak salah sih, waktu itu gue sempet makan nasi goreng yang rasanya itu... Mah teh (gak ngerti gimana cara nulisnya, yang pasti rasanya itu seperti bumbu yang overload. Kelebihan). Dan hanya ada 2 penambah rasa. Yang satu adalah acar. Ya, penambah rasa asam. Dan yang lain, iya, emping. Dan disitu ada saat dimana acar yang sangat sedikit itu abis dan gue bingung harus gimana dengan nasi goreng itu... Akhirnya gue membuat keputusan untuk memakan si emping tersebut. Disitu ada 3 emping. Dan alhasil, semua emping itu habis beriringan dengan habisnya nasi goreng tersebut.
Dan baru kemarin, nyokap masak emping. Empingnya gede banget. Dan mulailah fikiran random gue ini berjalan. Ah, bukan, berlari.
Seketika itu gue tiba-tiba berpikir "kenapa ya si emping itu pait tapi laku-laku aja? Apa mungkin sama kayak kopi?". Dan yang perlu kita disini tau, kopi itu pait menurut gue karena pait itu membuat kita sadar kalau ada rasa lain yang lebih enak selain itu. Tapi setelah fikiran gue lari ke tempat lain, ternyata dia menemukan jawaban yang berbeda.
Iya, emping beda sama kopi. Emping itu dimakan dengan makanan lain. Sedangkan kopi adalah hidangan utama dengan beberapa pemanis seperti kudapan-kudapan manis dan lain sebagainya. Jadi dari situ sudah terlihat bahwa emping berbeda dengan kopi. Dan fikiran gue terus mencari, apa perbedaan yang lain? Masak cuma itu?
Akhirnya di akhir pelarian dia, dia menemukan suatu fakta menarik. Bahwa emping ada untuk menjadi penyeimbang rasa. Harmonisasi rasa. Dengan emping, suatu masakan memiliki karakteristik khusus dengan perpaduan rasa yang harmonis. Ya. Itu sama seperti -- kalau di barat ada yang namanya -- daun peterselie(atau yang biasa disebut parsley). Kalau ada yang belum pernah mencoba rasa dari daun itu, silahkan. Tidak akan meracuni tubuh kita, kok.
Serupa tapi tak sama, rasa dengan musik. Ketika yang orang bilang "jelek" itu menjadi penyeimbang dan membuat suatu harmonisasi. seperti jazz, misalnya. Jazz itu tidak terpaku dengan chord, tapi bagaimana si pemusik ini bisa bermain dengan ketukan yang berbeda tiap alatnya, chord-chord yang mereka temukan sendiri, dan nada-nada yang tidak ada dalam "kamus musik", bahkan bisa jadi nada itu sumbang. Sumbang yang arti sebenarnya adalah "Tidak enak di dengar" bisa menjadi harmoni ketika bertemu dengan suara-suara yang lain sehingga menciptakan harmonisasi dan menjadikan musik jazz itu salah satu musik mahal. Begitu pula dengan emping.
Jadi, jangan mengabaikan sesuatu yang terlihat jelek, atau tidak enak. Tuhan menyediakan itu untuk memberikan harmonisasi di dunia ini. Dan kita akan membutuhkan itu untuk menciptakan harmonisasi di dalam diri kita.
Selamat Malam!
No comments:
Post a Comment