Saturday, June 22, 2024

KITA KEKAL DI KEPULANGAN

                                                                    (punya kumparan)
 

BARASUARA - JALARAN SADRAH

Tanpa tahu apa itu Jalaran Sadrah, ku coba mendegarkan album ini. Mulai dari awal sampai akhirnya.

Dibuka dengan ANTEA, yang secara musik bener-bener progresif. All the sound, effects, notes, beats, arrangement yang menurutku sangat apik dan cocok untuk membuka album ini. Rollercoaster ride. Disamping itu, ANTEA membuka album ini dengan lirik yang tegas, tegap, langsung memberikan apa yang akan ada di album ini.

MORS VINCIT OMNIA. Kematian mengalahkan segala. Yang setelah ku riset, album ini lahir dari rahim KEMATIAN. Yang adalah satu satunya KEPASTIAN yang ada di dunia ini.

Kefanaan di dunia, berakhir di lautan kematian. Beserta semua sifat-sifat dunia.

6 menit tidak cukup untuk BARASUARA menggambarkan semua yg ada di dunia ini. Sampai outro masih panjang sekali seakan tidak rela untuk dihabiskan lagu ini.

Masuk lebih dalam, kita melihat ETALASE yang MARAH sedari awal. Semua tidak mau kalah. Gitar maju paling awal, diiringi drum. Tapi bass tidak mau dibelakang. "Maju banget bassnya" kataku ketika dengar preview lagu ini sebelum full album ini release.

Tidak bertele-tele seperti ANTEA, distorsi ditemani synth tipis mengiringi lirik yang juga lugas dan tidak ada kompromi. Tidak seperti hukum yang secara tersirat dikatakan di liriknya lembek, karena si yang merasa besar padahal tanggung, yang setiap hari mengkonsumsi komparasi dan validasi, tiba tiba menjadi hakim karena baru melakukan kebenaran yg sedikit.

Seperti goa yang di dalamnya mengandung ribuan mineral berharga, makin dalam masuk JALARAN SADRAH, makin megah pula ambiencenya. Muncul orkestrasi karya Erwin Gutawa yang megah, masuk membungkus musik BARASUARA dengan segala progresi bunyibunyian yang hanya mereka yang mau membuatnya.

Lengkap dengan lirik yang terus menyadarkan kita yang selalu mencari tanpa henti dari makna hidup dan mati, yang hanya bisa kita temui ketika kita sudah menyatu di dalam Sang Penguasa Jiwa Jiwa. Masuk kedalam sebuah perayaan akan kefanaan dunia yang menuju kekekalan di dalamNya.

SADAR.

BARASUARA tidak mau kita hanyut di dalam perayaan megah akan kefanaan. Karena kembali perasaan kita dimainkan dengan ballad yang gelap dengan progresi chord miring minor dengan beat yang gelap. Mencari cahaya di lagu HABIS GELAP akan mustahil dengan nada nada seperti ini. Pemilihan efek instrumen dan vocal yang buat semuanya gloomy. 

Mencari cahaya di lirik pun tidak akan kita temui. Tentang penghapusan peradaban dan keberadaan, oleh yang lebih kuat. Kematian. Jeritan. Tangis. Outro penutup yang menggambarkan keadaan di tempat dimana pembantaian terjadi. Tiada terang.

Dalam gelap dan kelam, kita dibawa Iga, Gerald, TJ, Icil, Puti, dan Marco melihat sisi lain kegelapan, yg mana disinformasi berselebrasi di dalam sana. Sulit untuk menarik nafas, mencari wajah orang tersayang pun sudah membiru.

Kekacauan yang berhasil diterjemahkan menuju suara distorsi, kegelapan ruangan yang diibaratkan oleh reverb di sana sini. Gelap makin menyeruak hingga maut lepas di udara. Yang berjuang sekuat tenaga pun tak bisa selamatkan mereka yang harus mati dan tak kembali. Fatalis berhasil menggambarkan semua itu.

Di ujung ruangan gelap itu, BIYANG membuat kita melihat secercah cahaya di pikiran. Pikirkan tentang orang tersayang. Saat mereka ada. Yang membuat hangat, dalam gelap, hubungan magis antar 2 makhluk yang tidak bisa diputuskan kegelapan. 

Musik yang masih tegas, magis, lepas. Buat kita menerima kenyataan dunia gelap ini punya terangnya akan hubungan intim magis antarmakhluk. Dilengkapi suara Mbah Tedjo yang sureal, outro menarik kembali pada kekacauan kekalutan kegelapan.

Kemegahan gelap digaungkan BARASUARA bersama Erwin Gutawa di Hitam dan Biru, membuat kita menerima kefanaan, mengakui kegelapan di sekeliling yang tidak bisa kita kontrol dan atur, ikhlas untuk membiarkan semua berjalan semestinya, seturut dengan skenario Si Penguasa Jiwa Jiwa.

Hidup yang tidak dimiliki oleh kita sendiri. Yang tidak ada dalam radar diri kita. Tidak layak untuk kita atur, tidak bisa kita hindari. 

Dihantar oleh orkestrasi EG sampai ke ujung pintu gelap. Berdamai dengan kegelapan, yang akan terus memakan kita seiring waktu yang berjalan. Berdamai dengan semua kejadian di masa lampau, mencoba tenggelam dan kemegahan Sang Khalik yang empunya lini masa hidup dan dunia.

Sadar dan ikhlas dengan kenyataan, kepergian yang tersayang adalah keniscayaan di dalam kefanaan dunia yang juga buat sedih dan marah di sebuah masa, ditangkap baik oleh BARASUARA dalam TERBUANG OLEH WAKTU.

Keluar dengan kosong. 

SADRAH.

Ikhlas. MANUSIA adalah dirinya sendiri. Debu dalam semesta. Musik yang kembali tegap, tegas, lantang. Lurus dengan keindahan dominan mayor yang menghantar paham yang berkata kalau MANUSIA tidak punya kendali atas dirinya sendiri dan apa yang mempengaruhinya. 

Niat menundukan matahari dan bulan, akhirnya BARASUARA dengan lantang tegap tegas berhasil menundukan kita, MANUSIA, sebagai yang tidak punya kuasa, selalu  punya JALARAN SADRAH di setiap langkahnya. 

Tegap. Pekat. Elegan. JALARAN SADRAH, Album ke-3 BARASUARA. Terima kasih kalian sudah ada.

No comments:

Post a Comment